Tulisan dalam blog ini adalah bagian dari cerita berantai – ‘cer-ai’ (chain blog posting) komunitas blogger Bogor (Blogor) yang kali ini bertemakan kota Bogor. Peserta cer-ai kali ini terbagi kedalam dua golongan, golongan hitam (sisi negatif kota Bogor) dan golongan putih (sisi positif kota bogor). Kebetulan saya termasuk ke dalam golongan putih beserta rekan-rekan yang lain, yaitu: Pege, Matrisoni, Fajar, Ontohod, WKF, Insan Luthfi Habibi, Harris Maulana, Irvan Setya Adji dan Defidi. Informasi lengkap mengenai cer-ai ini bisa dilihat di Blogor (masukkan linknya). Selamat menikmati.
Sejak tinggal di Bogor yang belum genap setahun (resminya sejak Februari 2011), saya memperhatikan dari lingkungan tempat saya tinggal, banyak hal terkait edukasi lingkungan yang bisa saya coba gunakan untuk diperkenalkan kepada anak-anak. Saya coba terapkan terlebih dahulu kepada anak saya – usia baru mencapai empat tahun lebih – dimana daya ingin tahu dan rekamnya masih sangat tinggi. Berikut beberapa pengalaman yang saya ingin bagikan kali ini.
Bogor kota hujan
Siapa yang tidak kenal akan julukan kota Bogor sebagai kota hujan. Julukan ini sudah sangat pel-menempel bagi kota Bogor. Memang betul, ternyata tinggal di Bogor itu, ada dua hal yang tidak boleh terlupa dibawa bepergian, yaitu: payung dan mantel hujan. Maklum, siang hari bisa sangat panas (orang Bogor menyebutnya dengan ‘panas mentreng’) dan sore harinya bisa turun hujan lebat dengan guludug (bhs Sunda yg berarti kilat) yang keras dan sering, belum lagi anginnya hm hm hm … dahsyat deh.

wheater station (doc: pribadi)
Dengan keadaan ini, di rumah, saya pasangkan ‘weather station’ (pengukur cuaca) sederhana yang terdiri dari penunjuk arah mata angin, termometer, pengukur curah hujan dan kecepatan angin. Sekarang, saya dan anak saya memiliki kegiatan baru, setelah hujan reda, kami melihat pengukur cuaca itu, melihat berapa jumlah air hujan yang masuk kedalam gelas ukurnya (milimeter), berapa suhu udara saat itu – termasuk perubahan suhu dan bagaimana termometer itu bekerja. Tetapi yang menjadi favorit anak saya adalah ketika angin kencang bertiup karena membuat alat penanda kecepatan angin itu berputar – semakin kencang tiupan angin maka semakin cepat pula putarannya.
Sambil mengamati alat sederhana ini pula, merupakan kesempatan saya untuk menjelaskan kepada anak saya, bagaimana terjadinya hujan, petir dan angin yang bertiup termasuk perubahan temperatur udara yang terjadi. Tentu dengan bahasa anak-anak yang mudah dimengerti.
Mandi di sungai
Tidak jauh dari rumah, mengalir sungai Caringin (saya sendiri belum tahu apa nama pasti sungai itu, yang pasti sungai itu lewat di dekat lingkungan perumahan saya di wilayah Dramaga, Bogor – yang sebelumnya melewati jembatan pertigaan daerah Caringin – Ps. Dramaga, Kab. Bogor). Di hari libur, beberapa kali kami ‘mampir’ ke sungai itu, yah, piknik yang murmer deh (murah meriah), main-main di sungai dan biasanya diakhiri dengan makan siang. Sungai itu juga terlihat digunakan oleh warga sekitar (diluar perumahan tempat kami tinggal) untuk aktivitas sehari-hari – termasuk diambil batu-batu kalinya untuk dijual.

Asyik main di sungai - anakku (baju biru) dan temannya (doc: pribadi)
Disungai itu, sambil bermain air dan berendam (karena kami bermain di daerah yang dangkal, bukan di daerah yang dalam sehingga tidak bisa untuk berenang), saya biasanya menjelaskan kepada anak saya, juga dengan bahasa yang mudah dimengerti, fungsi sungai, asal sungai, kemana sungai mengalir dan pentingnya sungai dan sekitarnya. Contoh buruk yang biasanya kami dapati adalah terdapatnya sampah-sampah yang tidak dapat terurai (seperti plastik dan lain sebagainya). Contoh ini digunakan sebagai ‘nasehat’ agar kita tidak membuang sampah sembarangan, termasuk disungai.

cebar-cebur disungai dangkal (doc: pribadi)
Gunung berliput awan
Jalan-jalan disekitar lingkungan perumahan tempat kami tinggal juga dapat menjadi sarana pembelajaran. Kebetulan dari dalam lingkungan perumahan, pemandangan gunung Salak terlihat dengan jelas. Sangat cantik jika gunung itu terlihat sedikit diselimuti oleh awan. Sepertinya menjadi lebih anggun.

Istri & anak - latar belakang gunung - pemandangan dari sekitar rumah (doc: pribadi)
Sambil menikmati gunung, bisanya menggunakan binokuler ataupun teleskop, saya menjelaskan kepada anak saya apa itu gunung, bagaimana terjadinya, mengapa gunung bisa terlihat lebih tinggi, sementara awan dapat terlihat lebih rendah dan kadang terlihat lebih tinggi – kemudian pula saya hubungkan antara perbedaan awan jika akan turun hujan dan awan jika tidak akan turun hujan dan lain sebagainya.
Dengan penjelasan seperti itu, anak saya manggut-manggut, namun kadang dia lebih tertarik melihat bagaimana awan itu bisa bergerak, sehingga kadang ia berteriak,”Bab, awannya ngikutin kita!”
Hamparan sawah
Pagi hari, saya sering mengantar anak ke sekolah TKnya yang tidak begitu jauh dari rumah. Dari rumah, ada jalan pintas menuju ke sekolah tersebut yang disebut dengan jalan BBS. Pemandangan di sekitarnya itu yang masih menawan, seperti hamparan sawah, aktivitas petani di sawah, termasuk membajak sawah dengan menggunakan kerbau, hingga saat panen tiba.

Sawah yg sering dilewati menuju TK si kecil (doc: pribadi)
Kesempatan itu saya gunakan untuk menjelaskan kepada anak saya mengenai apa itu sawah, guna kerbau, apa fungsi membajak sawah dan pasca panennya.
Sekarang ini, kadang jika hendak makan, ia berkomentar,”Bab (panggilan utk ayah), ini nasi yang aku makan, berasnya dari sawah petani dekat sekolah aku ya!?”
Demikian segelintir pengalaman yang dapat saya share di sini. Banyak hal bisa kita jadikan sarana edukasi bagi keluarga kita, bisa dimulai dari lingkungan sekitar tempat kita tinggal, terutama sebagai upaya mendekatkan diri anak-anak kepada alam. Yang tidak kalah pentingnya adalah diskusi-diskusi seperti tersebut diatas, berdasarkan apa yang saya alami, saya rasakan hubungan interaksi antara anak dan orang tua menjadi cair, lebur seperti tanpa sekat. Sangat bermakna buat saya.
Kalau saya cerita beberapa pengalaman saya seperti tersebut di atas kepada teman-teman saya yang tidak tinggal di Bogor, dan jarang menemui seperti yang saya share di atas, mereka kadang berkomentar,”kamu sih enak, tinggal di Bogor, jadi masih bisa menemui hal-hal seperti itu.”
Biasanya saya timpali dengan guyonan,”makanya tinggal di Bogor!” sambil tersenyum.
Bogor, 10 Desember 2011
Dear readers, bagaimana kelanjutan dari cer-ai ini, silahkan kunjungi blog: http://pege17.wordpress.com/, terima kasih.