RSS

Linihijau.com – a new environmental website was born

Linihijau

Linihijau logo (doc: Linihijau)

Dear all,

I and Mataharitimoer recently developed a website namely Linihijau (it was launched on 14th February 2012), it was aimed to contribute to a better Indonesian environment, in many ways (the complete information is available on the website).

Everyone – I prefer to call as ‘netizen’ – is encouraged to contribute as well by visiting the Linihijau website at http://linihijau.com/, clicking ‘the like’ button at Linihijau facebook page (www.facebook.com/pages/Linihijau/). You’re invited as well to contribute or sharing by posting your experiences, thoughts, articles, photos, videos, etc related to Indonesian environment in Linihijau website.

If you are on twitter, please follow us @linihijau.

As the new website, we would be grateful to receive input from you and your feedback. We hope to receive feedback from you by responding to this message or through our email address: linihijau@gmail.com.

Your valuable contribution to Linihijau is really appreciated.

I’ll keep in touch.

Kind regards, Bugi Sumirat

 
Leave a comment

Posted by on February 22, 2012 in Capitals, Inspirations

 

Tags:

Mainstreaming Gender in REDD: Beyond Livelihoods to Identity

Reblogged from RECOFTC's Blog for People and Forests:

By Regan Suzuki, REDD-Net Asia Pacific Coordinator Experience from Nepal shows women value forest resources, but taking part in public meetings on REDD provides a democratic space for engagement that enhances their sense of identity Haven’t we been talking about gender and the need to mainstream it for decades?  Why then does it seem to re-emerge every time a new ‘development’ or international issue (such as climate change) makes it into the spotlight? More to the point, what about gender in the …

 
Leave a comment

Posted by on February 13, 2012 in Uncategorized

 

Teringat pak Parno – humanis leader

Saat saya pertama kali menginjakkan kaki di kota Daeng (sebutan untuk kota Makassar) ini beberapa tahun yang lampau – sekitar awal tahun 1995 – karena mutasi ke kantor saya yang sekarang ini, yang menjadi Kepala Balainya adalah Bp. Suparno, biasa dipanggil pak Parno.

Tidak lama saya berada di bawah kepemimpinannya, karena ternyata, sekitar bulan Maret-April 1995,  beliau di mutasi ke Bogor. Artinya, pada saat keberadaan saya di Makassar sekitar 3-4 bulan, beliau pindah.

Namun, dalam kurun waktu yang singkat tersebut, ada satu kejadian yang tidak pernah saya lupakan, dan memberikan nilai pembelajaran terhadap diri saya.

Begini ceritanya:

Ketika pindah ke Makassar waktu itu saya masih sendiri – belum menikah – dan status masih calon pegawai (CPNS). Tinggal di bangunan mess kantor, di belakang kantor. Bangunan cukup baik namun sederhana, terdiri dari tiga kamar tidur. Penghuni mess adalah karyawan kantor yang relatif baru di Makassar. Satu dari Bogor dan satu lagi dari Yogya. Tidak ada pengeluaran untuk transport (karena tinggal jalan kaki saja, Bahasa karuhunnya adalah ‘kari ngalengkah wae’). Tinggal pengaturan untuk makan sehari-hari yang bisa ‘diatur’ diantara penghuni-penghuni mess.

Singkat cerita, sekitar satu minggu keberadaan saya di kota ini, saya dipanggil oleh pak Parno. Wah, saya pikir ada apa nih sampai dipanggil segala oleh pimpinan.

Di dalam ruangan sambil menunggu beliau berbicara – sementara telepon – saya berpikir, apa kira-kira ya, sedikit deg-degan juga.

Tidak lama beliau berbicara, kurang lebih seperti ini:

“Dek Bugi, kira-kira sudah satu minggu ya bekerja di sini, bagaimana dengan situasi kerja di sini?”

Saya jawab bahwa Alhamdulillah segalanya berjalan lancar – dan saya masih dalam proses penyesuaian.

Kalimat beliau berikutnya yang cukup membuat saya ‘surprised’:

“Dek Bugi, kalau mengalami kesulitan, terutama soal keuangan, dan kesulitan2 lain, tidak usah sungkan mengetuk ruangan saya. Saya bisa mengertilah, dek Bugi kan karyawan baru di sini, gaji masih 80% (karena CPNS, maka penghasilan yang diterimanya belum penuh – 100%), bukan asli sini pula, saya sangat mengerti, jadi langsung bilang saja ke saya ya …”

Begitu kira-kira dialog singkat yang terjadi antara saya dengan pak Parno. Terlihat seperti hal kecil atau sepele, namun, hal yang telah terjadi hampir 20 tahun yang lalu tersebut sangat membekas di hati saya.

Pak Parno memberikan contoh baik, khususnya kepada saya, pemimpin yang peduli bukan saja kepada pekerjaan kantor yang memang berada di bawah tanggung jawabnya, tetapi juga hingga kepada karyawan-karyawan dan persoalan yang dihadapinya. Mungkin ini yang disebut dengan pemimpin yang humanis – caring people, ataukah pak Parno sedang menjalankan ‘effective leadership’ – yang menganggap bahwa ‘tenang’nya kehidupan karyawan akan menunjang produktivitas kerjanya, entahlah, yang pasti, jika saya menemui orang yang kebetulan diamanahi tanggung jawab sebagai pemimpin kemudian menunjukkan perilaku yang ‘bodoh’, apalagi tidak menunjukkan kepedulian kepada karyawannya (dan ini banyak ditemui dimana-mana), saya kemudian teringat sosok pak Parno.

Semoga bermanfaat

Makassar, 10 Februari 2012

 
2 Comments

Posted by on February 10, 2012 in Inspirations, Values

 

Tags: , , , ,

Seren taun, cara bersyukur masyarakat setelah panen

13267404371220161517
Iring-iringan Padi untuk upacara Seren Taun (doc: Bugi Sumirat)

Disela-sela guyuran hujan yang kadang deras, kadang berhenti, saya merasa beruntung bisa menyaksikan acara tahunan masyarakat kampung budaya Sindang Barang kabupaten Bogor pada tanggal 15 Januari 2012, yang merupakan puncak dari rangkaian Festival Seren Taun Guru Bumi yang merupakan acara rutin setahun sekali masyarakat, khususnya keturunan keluarga besar Sindang Barang, kabupaten Bogor. Acara ini tepat berlangsung dalam minggu yang penuh guyuran hujan. Namun hujan tidak menyurutkan semangat pelaksana dan pengunjung acara seren taun ini. Namanya juga Bogor, sudah terkenal sebagai kota hujan. Mengadakan acara di Bogor, berarti sudah siap akan turunnya hujan.

Seren Taun Guru Bumi memiliki arti dasar sebagai upacara masyarakat menyimpan hasil panen (padi) di lumbung padi (Keterangan dari Hendra M Astari – ‘pupuhu’nya komunitas Sunda Bogor – yang kebetulan bertemu di lokasi acara, nuhun kang Hendra). Juga sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen yang diperoleh oleh masyarakat serta harapan agar panen yang akan datang dapat lebih baik dari sebelumnya. Dalam perkembangannya, disamping diisi dengan ragam kegiatan kebudayaan, bukan hanya padi yang diikutkan tetapi hasil bumi lainnya termasuk buah-buahan serta sepatu dan sandalpun masuk. Ini dikarenakan banyak warga masyarakat yang menjadi pengrajin sepatu. Sebagai rasa syukur atas usaha mereka, barang-barang tersebutpun diikutkan dalam upacara Seren Taun. Rangkaian kegiatan Seren Taun sudah dimulai sejak tanggal 12 Januari 2012 seperti dapat dilihat dalam tabel di bawah ini:

Hr ke- / Tgl

Acara

Tempat

Jam

1/12 jan

Upacara Neteupken (menetapkan awal acara)

Imah Gede (rumah besar)

19.00 WIB

2/13 jan

Ngala Cikukulu (mengambil ikan)

Imah Kasepuhan (rumah tetua-tetua adat)

14.00 WIB

2/13 jan

Upacara Ngangkat (mengangkat)

Imah Gede Kampung Budaya

19.30 WIB

3/14 jan

Sedekah Kue

Alun-alun Tanjung Salikur

8.00 WIB

3/14 jan

Nugel Munding (motong kerbau)

Lap.Bola Inpres

10.00 WIB

3/14 jan

Pertunjukan kesenian Gondang, Jaipong, Angklung Gubrag, Tutunggulan, Kendang Pencak, Reog

Saung Talu Kp. Budaya

14.00 – 22.00 WIB

4/15 Jan

Helaran dari Imah Kasepuhan (memulai kegiatan seren taun)

Imah kasepuhan

07.00 WIB

Majiekeun Pare Ayah dan Pare Ambu (menyatukan padi ayah dan padi ibu)

Leuit Ratna Inten

09.00 WIB

Berebut hasil Bumi, Pertunjukan kesenian Angklung gubrag,  Rampak Jaipong, Parebut Se’eng (tempat memasak nasi), Kendang pencak, pertunjukan liong (naga – sumbangan dari masy keturunan Cina),  Gondang (lagu, tari dan nyanyi Sunda)

Selesai

Alun-alun kampung budaya

10.00 – 12.00 WIB

Acara ini sudah secara rutin dilaksanakan sejak tahun 2006, sementara Kampung Budaya Sindang Barang secara resmi berdiri tahun 2007.

Banyak hal menarik yang saya temui di acara seren taun ini, diantaranya, antusiasme masyarakat  yang tinggi untuk mengikuti kegiatan ini, walaupun didera derasnya hujan, acara dapat terus berlangsung dengan semarak (termasuk turis domestik maupun mancanegara yang hadir). Ternyata Bogor, disamping keindahan alamnya, memiliki potensi budaya yang beragam dan menarik, potensial untuk dikembangkan termasuk busana-busana yang pada saat acara dikenakan sangat indah dan menarik, hingga pakaian untuk petugas pengamananpun menyesuaikan termasuk keseniannya. Rumah adat Sunda Bogor termasuk hal unik yang baru saya temui dan ini terdapat di lokasi ini.

Kampung Budaya Sindang Barang hanya berjarak kurang lebih lima kilometer dari kota Bogor. Terletak di desa Pasir Eurih kecamatan Tamansari Kabupaten Bogor. Menurut hikayat, kampung ini merupakan kampung tertua untuk wilayah kota dan kabupaten Bogor. Kampung inipun mudah dijangkau karena kendaraan umum sampai ke dekat lokasi.

Dari keseluruhan acara yang sangat menarik, ada beberapa hal yang perlu mendapatkan perhatian untuk perbaikan dimasa mendatang antara lain: promosi kegiatan ini yang masih kurang, terlihat dari kurang gencarnya informasi yang beredar luas di masyarakat. Dari beberapa rekan yang saya informasikan, rata-rata belum pernah mendengar informasi tentang hal ini. Hal lain adalah kurangnya perhatian Pemda Bogor terhadap kegiatan ini. Ini terungkap pada saat ketua panitia menyampaikan sambutannya, dikatakan dengan tegas bahwa acara Seren Taun Guru Bumi adalah acaranya masyarakat, acaranya rakyat, karena tidak mendapatkan bantuan/dukungan maupun sponsor dari pihak Pemda Kabupaten Bogor. Ucapan ini mendapatkan respon yang ramai dari warga masyarakat yang hadir. Sangat ironis!

Gambaran kemeriahan acara Seren Taun dapat dilihat dalam beberapa foto di bawah ini (koleksi foto lainnya dapat dilihat di sini):

13267412081597239744
Kota Bogor dari kejauhan (kampung Sindang Barang) (doc: Bugi Sumirat)
13267428601553664930
Menabuh lesung sebagai tanda dimulainya acara Seren Taun (doc: Bugi Sumirat)
132674531112853803
Gadis belia pengiring rombongan (doc: Bugi Sumirat)
1326741952380575461
Memasukkan padi ke lumbung (doc: Bugi Sumirat)
13267422672065106839
Hasil bumi lainnya (doc: Bugi Sumirat)
1326742667302049042
Hasil bumi yang diperebutkan masyarakat (doc: Bugi Sumirat)
1326743126821359821
Kesenian jaipong (doc: Bugi Sumirat)
13267434231550064107
Penari jaipong (doc: Bugi Sumirat)
13267440751212705813
Pencak silat (doc: Bugi Sumirat)
1326744252707409441
Kesenian Liong (doc: Bugi Sumirat)
13267444951609575829
Kesenian gondang di atas panggung (doc: Bugi Sumirat)
13267446841403867228
Petugas keamanan dengan seragam khasnya (doc: Bugi Sumirat)
13267449281995403680
Nonton gondang dulu ah (doc: Bugi Sumirat)
13267451251823848069
Anak-anakpun tak kalah seriusnya (doc: Bugi Sumirat)
13267459181327533461
Bersama kang Hendra dan kawan2 dari IPB (doc: Bugi Sumirat)
posted too @ http://sosbud.kompasiana.com/2012/01/17/seren-taun-cara-bersyukur-masyarakat-setelah-panen/
 
4 Comments

Posted by on January 17, 2012 in Indoziana, Inspirations, Social capital, Values

 

Tags: , ,

Saya setuju nih: ‘ajarkan anak makan makanan sehat’

Sumber berita dari Female Kompas, yang ditulis oleh Christina Andika Setyantini yang bersumber dari artikel lain (sumber asli disebutkan di bagian bawah artikel). Berdasarkan pengalaman saya, hal ini merupakan hal yang crucial pula dan memerlukan dukungan pengetahuan orang tua yang sangat mendalam akan hal ini. Untuk itulah saya ikut men-share artikel ini. Semoga bermanfaat.

KOMPAS.com – Waktu makan seringkali menjadi masalah tersendiri bagi ibu dan anak. Maklum saja, anak-anak cenderung lebih menyukai jajanan yang kurang bergizi, atau junk food yang akhirnya menyebabkan anak menjadi obesitas.

Sebagai orangtua Anda memiliki pengaruh dan kontrol yang sangat besar dalam situasi ini. Untuk itu, Anda perlu lebih cermat dalam menyediakan asupan makanan sehat pada anak-anak. Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan agar anak-anak mau makan makanan sehat.

1. Beri contoh yang baik.
Orangtua seharusnya menjadi contoh bagi anak-anak, termasuk dalam hal makan. Anak-anak mengamati apa yang Anda makan, bahkan ketika Anda tidak sadar mereka sedang memperhatikan Anda. Misalnya, ketika Anda sedang menonton televisi ditemani sepiring gorengan dan sekantong keripik. Hal ini mengirimkan pesan yang salah kepada anak-anak, bahwa makanan itulah yang seharusnya dinikmati sehari-hari. Mereka tidak akan mengerti apakah makanan tersebut cukup bergizi atau adakah pengaruh buruknya. Sebaiknya, buatlah makanan yang sehat sebagai camilan Anda, misalnya potongan buah segar di tengah hari dan tawarkan kepada anak-anak.

2. Masak makanan sehat. Anda tidak perlu memaksa anak-anak Anda untuk menyantap berbagai makanan sehat dengan alasan bisa menurunkan berat badan. Untuk mendorong kebiasaan makan sehat anak-anak Anda, kurangi kebiasaan Anda jajan, dan masaklah berbagai masakan sendiri di rumah. Gunakan kreativitas Anda untuk mengolah berbagai masakan. Jika Anda membiasakan anak untuk makan makanan rumahan sejak mereka kecil, mereka pun tidak akan membiasakan diri untuk mengonsumsi jajanan di luar yang kurang menjanjikan asupan gizinya.

3. Berikan imbalan.
Berikan imbalan pada anak ketika mereka bersedia memakan sayur atau buah-buahan yang Anda sediakan untuknya. Misalnya saja, anak sangat menyukai es krim. Maka Anda bisa menetapkan aturan, mereka bisa menikmati es krim jika mereka sudah menghabiskan seporsi buah yang disediakan. Pendek kata, buah dan sayuran menjadi kudapan utamanya, sedangkan camilan lain yang menjadi favoritnya hanya diposisikan sebagai bonus saja.

4. Bersikap tegas dan konsisten. Ketika sudah menetapkan aturan untuk menyantap makanan sehat di rumah, bersikaplah konsisten dengan aturan tersebut. Jangan memberi kelonggaran hanya karena anak mengeluh sedang malas atau sedang capek. Jika anak tidak menghabiskan sayur bagiannya, beri hukuman dengan tidak memberikan makanan penutup kesukaannya. Anak-anak jauh lebih mudah memahami hadiah atau hukuman langsung dibanding hanya sekadar ucapan. Diskusikan aturan ini dengan pasangan, agar Anda bisa saling mendukung.

Sumber: Your Modern Living

 
Leave a comment

Posted by on January 3, 2012 in Values

 

Tags: , ,

2011 in review – my blog review by WordPress

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A San Francisco cable car holds 60 people. This blog was viewed about 1,200 times in 2011. If it were a cable car, it would take about 20 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

 
Leave a comment

Posted by on January 3, 2012 in Uncategorized

 

Tags:

A Muslim ‘St Claus’

If you look at the photo I attached in this post, you will recognise where I will lead you to continue my story. It was me and my family: my wife and my son when we lived temporarily in Albury, NSW, Australia, in facing Christmas session in 2007.

With family in St Claus uniform (doc: Bugi Sumirat)

With family in St Claus uniform (doc: Bugi Sumirat)

At that time, in my son’s playgroup in one of playgroup in community centre in Albury – there was a preparation to face a long holiday, prior to Christmas and facing the year of 2008. I received a surprise request. The playgroup principal requested me to act as St Claus (in Bahasa Indonesia, it is well-known as Sinterklas – adopted from Dutch).

She was asking me politely:”Bugi, could I ask you a favour, would you mind to be St Claus for playgroup Christmas party?

My question was only whether it was a part of ritual or only a part of party. She assured me that it was a part of fun. And She knew I am Muslim. The main purpose was only to cheer up kids – and families.

But she said:”But if you feel offended with my request I apologize, I didn’t mean to do that. I looked you have already become a part of this playgroup family so I raised this request. However, if you are mind, that’s not a problem, we would like to hire a man to do this.

Then I, confidently, replied:”Sure, I don’t mind and I will participate! Just tell me what I should be doing.” She, therefore, gave me a brief explanation of how to be a St Claus.

You just need to say ‘ho .. ho .. ho …’ and ask kids ‘have you been good?’ after that give presents to kids.” She added.

Distributing Christmas Gifts (doc: Bugi Sumirat)

Distributing Christmas Gifts (doc: Bugi Sumirat)

On the D day, I was ready to be St Claus. I and my family went to playgroup as usual. The playgroup activity was divided into two: a regular playgroup activity and the party.

After I changed to St Claus uniform – a white and red uniform, the party began. The party was running well, with me as a St Claus and one of playgroup teacher who helped me to call for kids and distributed St Claus’ gifts. No one recognised who I was under St Claus uniform, except one kid that said:”I know who you are, Santa.” I replied:”Do you know me?” He said:”Yes, you’re Ghia’s father (Ghia is my son’s name).” I again asked him:”How did you recognise me?” Then he added: “I recognised your crocs (my shoes). It is yours, Ghia’s father.” I just smiled at him.

It was my unforgettable moment and I was happy to do that, to make everybody happy. For me, personally, it was one real implementation of tolerance.

Dear all who celebrates Christmas, I would like to say Happy Christmas 2011 and Happy New Year 2012.

Bogor, 24 December 2011

 
6 Comments

Posted by on December 24, 2011 in Ausziana, Values

 

Tags: , , , ,

Melirik sisi edukasi lingkungan di sekitar kita, pengalaman tinggal di kota Bogor

Tulisan dalam blog ini adalah bagian dari cerita berantai – ‘cer-ai’ (chain blog posting) komunitas blogger Bogor (Blogor) yang kali ini bertemakan kota Bogor. Peserta cer-ai kali ini terbagi kedalam dua golongan, golongan hitam (sisi negatif kota Bogor) dan golongan putih (sisi positif kota bogor). Kebetulan saya termasuk ke dalam golongan putih beserta rekan-rekan yang lain, yaitu: Pege, Matrisoni, Fajar, Ontohod, WKF, Insan Luthfi Habibi, Harris Maulana, Irvan Setya Adji dan Defidi. Informasi lengkap mengenai cer-ai ini bisa dilihat di Blogor (masukkan linknya). Selamat menikmati.

Sejak tinggal di Bogor yang belum genap setahun (resminya sejak Februari 2011), saya memperhatikan dari lingkungan tempat saya tinggal, banyak hal terkait edukasi  lingkungan yang bisa saya coba gunakan untuk diperkenalkan  kepada anak-anak. Saya coba terapkan terlebih dahulu kepada anak saya – usia baru mencapai empat tahun lebih – dimana daya ingin tahu dan rekamnya masih sangat tinggi. Berikut beberapa pengalaman yang saya ingin bagikan kali ini.

Bogor kota hujan

Siapa yang tidak kenal akan julukan kota Bogor sebagai kota hujan. Julukan ini sudah sangat pel-menempel bagi kota Bogor. Memang betul, ternyata tinggal di Bogor itu, ada dua hal yang tidak boleh terlupa dibawa bepergian, yaitu: payung dan mantel hujan. Maklum, siang hari bisa sangat panas (orang Bogor menyebutnya dengan ‘panas mentreng’) dan sore harinya bisa turun hujan lebat dengan guludug (bhs Sunda yg berarti kilat) yang keras dan sering, belum lagi anginnya hm hm hm … dahsyat deh.

wheater station (doc: pribadi)

wheater station (doc: pribadi)


Dengan keadaan ini, di rumah, saya pasangkan ‘weather station’ (pengukur cuaca) sederhana yang terdiri dari penunjuk arah mata angin, termometer, pengukur curah hujan dan kecepatan angin. Sekarang, saya dan anak saya memiliki kegiatan baru, setelah hujan reda, kami melihat pengukur cuaca itu, melihat berapa jumlah air hujan yang masuk kedalam gelas ukurnya (milimeter), berapa suhu udara saat itu – termasuk perubahan suhu dan bagaimana termometer itu bekerja. Tetapi yang menjadi favorit anak saya adalah ketika angin kencang bertiup karena membuat alat penanda kecepatan angin itu berputar – semakin kencang tiupan angin maka semakin cepat pula putarannya.

Sambil mengamati alat sederhana ini pula, merupakan kesempatan saya untuk menjelaskan kepada anak saya, bagaimana terjadinya hujan, petir dan angin yang bertiup termasuk perubahan temperatur udara yang terjadi. Tentu dengan bahasa anak-anak yang mudah dimengerti.

Mandi di sungai

Tidak jauh dari rumah, mengalir sungai Caringin (saya sendiri belum tahu apa nama pasti sungai itu, yang pasti sungai itu lewat di dekat lingkungan perumahan saya di wilayah Dramaga, Bogor – yang sebelumnya melewati jembatan pertigaan daerah Caringin – Ps. Dramaga, Kab. Bogor). Di hari libur, beberapa kali kami ‘mampir’ ke sungai itu, yah, piknik yang murmer deh (murah meriah), main-main di sungai dan biasanya diakhiri dengan makan siang. Sungai itu juga terlihat digunakan oleh warga sekitar (diluar perumahan tempat kami tinggal) untuk aktivitas sehari-hari – termasuk diambil batu-batu kalinya untuk dijual.

Asyik main di sungai - anakku (baju biru) dan temannya (doc: pribadi)

Asyik main di sungai - anakku (baju biru) dan temannya (doc: pribadi)

Disungai itu, sambil bermain air dan berendam (karena kami bermain di daerah yang dangkal, bukan di daerah yang dalam sehingga tidak bisa untuk berenang), saya biasanya menjelaskan kepada anak saya, juga dengan bahasa yang mudah dimengerti, fungsi sungai, asal sungai, kemana sungai mengalir dan pentingnya sungai dan sekitarnya. Contoh buruk yang biasanya kami dapati adalah terdapatnya sampah-sampah yang tidak dapat terurai (seperti plastik dan lain sebagainya). Contoh ini digunakan sebagai ‘nasehat’ agar kita tidak membuang sampah sembarangan, termasuk disungai.

cebar-cebur disungai dangkal (doc: pribadi)

cebar-cebur disungai dangkal (doc: pribadi)

Gunung berliput awan 

Jalan-jalan disekitar lingkungan perumahan tempat kami tinggal juga dapat menjadi sarana pembelajaran. Kebetulan dari dalam lingkungan perumahan, pemandangan gunung Salak terlihat dengan jelas. Sangat cantik jika gunung itu terlihat sedikit diselimuti oleh awan. Sepertinya menjadi lebih anggun.

Istri & anak - latar belakang gunung - pemandangan dari sekitar rumah (doc: pribadi)

Istri & anak - latar belakang gunung - pemandangan dari sekitar rumah (doc: pribadi)

Sambil menikmati gunung, bisanya menggunakan binokuler ataupun teleskop, saya menjelaskan kepada anak saya apa itu gunung, bagaimana terjadinya, mengapa gunung bisa terlihat lebih tinggi, sementara awan dapat terlihat lebih rendah dan kadang terlihat lebih tinggi – kemudian pula saya hubungkan antara perbedaan awan jika akan turun hujan dan awan jika tidak akan turun hujan dan lain sebagainya.

Dengan penjelasan seperti itu, anak saya manggut-manggut, namun kadang dia lebih tertarik melihat bagaimana awan itu bisa bergerak, sehingga kadang ia berteriak,”Bab, awannya ngikutin kita!”

Hamparan sawah

Pagi hari, saya sering mengantar anak ke sekolah TKnya yang tidak begitu jauh dari rumah. Dari rumah, ada jalan pintas menuju ke sekolah tersebut yang disebut dengan jalan BBS. Pemandangan di sekitarnya itu yang masih menawan, seperti hamparan sawah, aktivitas petani di sawah, termasuk membajak sawah dengan menggunakan kerbau, hingga saat panen tiba.

Sawah yg sering dilewati menuju TK si kecil (doc: pribadi)

Sawah yg sering dilewati menuju TK si kecil (doc: pribadi)

Kesempatan itu saya gunakan untuk menjelaskan kepada anak saya mengenai apa itu sawah, guna kerbau, apa fungsi membajak sawah dan pasca panennya.

Sekarang ini, kadang jika hendak makan, ia berkomentar,”Bab (panggilan utk ayah), ini nasi yang aku makan, berasnya dari sawah petani dekat sekolah aku ya!?”

Demikian segelintir pengalaman yang dapat saya share di sini. Banyak  hal bisa kita jadikan sarana edukasi bagi keluarga kita, bisa dimulai dari lingkungan sekitar tempat kita tinggal, terutama sebagai upaya mendekatkan diri anak-anak kepada alam. Yang tidak kalah pentingnya adalah diskusi-diskusi seperti tersebut diatas, berdasarkan apa yang saya alami, saya rasakan hubungan interaksi antara anak dan orang tua menjadi cair, lebur seperti tanpa sekat. Sangat bermakna buat saya.

Kalau saya cerita beberapa pengalaman saya seperti tersebut di atas kepada teman-teman saya yang tidak tinggal di Bogor, dan jarang menemui seperti yang saya share di atas, mereka kadang berkomentar,”kamu sih enak, tinggal di Bogor, jadi masih bisa menemui hal-hal seperti itu.”

Biasanya saya timpali dengan guyonan,”makanya tinggal di Bogor!” sambil tersenyum.

Bogor, 10 Desember 2011

Dear readers, bagaimana kelanjutan dari cer-ai ini, silahkan kunjungi blog: http://pege17.wordpress.com/, terima kasih.

 
22 Comments

Posted by on December 11, 2011 in Indoziana, Social capital

 

Tags: , , ,

Hey Mr. Obama, we have a strong slogan as yours too

Indonesia Bisa slogan (doc. Bugi's creation)

Indonesia Bisa slogan (doc. Bugi's creation)

Mr. Obama, US President, was famous with the slogan, YES WE CAN, during his journey to the number one chair in the United States. Indeed, he proved it by becoming the US President and the first US President with the Afro-American background.

During the 26th SEA Games that was held in Jakarta – Palembang, Indonesia, 11-22 November 2011 [http://seag2011.com/], Mr. Obama was here in Indonesia – not coming to SEA Games venue but to attend ASEAN and East Asia Summit that was held in Bali (17 – 19 November 2011). There was no relationship between his attendance in Indonesia and SEA Games. However, his (old) slogan – Yes we can – more or less was able to be used to reflect to our slogan, AYO INDONESIA BISA. Our slogan, in my opinion, was effective as our motivation word, our ‘mantra’ word to fulfill our dreams to come true.

This slogan also worked for Indonesian supporters. With this, we were able to support Indonesian team. AYO INDONESIA BISA hypnotized all of us. It became the powerful word to motivate both players and supporters.

Not only supporters who were attending the venues but also for indirect supporters that were not able to participate directly. For instance, I was not able to attend event for one game at all, but, by paying attention to daily 26th SEA Games Journal on TV or watching its live show on TV, I and my family could participate by shouting, and also clapping during watching the game, ”AYO INDONESIA BISA … AYO INDONESIA BISA … “ We knew it was not possible for them to listen to us – to our support. But, it was a kind of moral support – a prayer from us to them, Indonesian contingent.

God listened to us. After fourteen years since 1997 (in the 19th) SEA Games, Indonesia went to be the over-all champion again by obtaining 182 gold, 151 silver and 142 bronze. Indonesia proved to be the 26th SEA Games over-all winner. We were the sport champion within South East Asia countries.

We are proud of you, Indonesian contingent. Looking at our red and white flag in the air built more proud to be Indonesian. Hopefully, we are able to be the next over-all champion again in the 27th SEA Game that will be held in Myanmar in 2013.

I have no idea whether there was a relationship between Mr. Obama’s coming to Indonesia and Indonesia’s achievement, maybe it was worthy for anyone one who believes superstition. However, I am sure, our slogan: AYO INDONESIA BISA is one of the success factors behind our glory. With pleased, I would say,”Mr. Obama, we have slogan as strong as yours too: AYO, INDONESIA BISA.”

Bogor, 24 November 2011

posted too @ Kompasiana

 
3 Comments

Posted by on November 24, 2011 in Values

 

Tags: ,

ASEAN leaders have blog, why not?

ASEAN summit meeting will be held in Bali: 17 – 19 November 2011. Paralleled with this, it will be held ASEAN Blogger Conference (16-17 November 2011) as well. The theme is the New ASEAN and Its cooperation with Dialogue Partners. It is predicted to be attended by around 200 participants from 10 ASEAN member countries and representation of blogger communities in Indonesia.

What does it mean to blogger around ASEAN countries in general and especially Indonesian blogger?

Indeed it was fully supported directly by Indonesian President, Susilo Bambang Yudhoyono, that stated to provide his fully support to the idea of developing ASEAN Blogger Community. He added that this idea was a brilliant and innovative idea. He expressed this statement in the 44th ASEAN Ministerial Meeting in July 2011 that was held in Bali.

My memory then flew away to the venue I attended in Jakarta, 6 August 2011 at Mandiri Museum Jakarta. It was related to the ASEAN Blogger Community gathering and photo exhibition. The meeting was attended also by Director General for ASEAN Cooperation, Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia, Djauhari Oratmangun and Special Adviser ASEAN, Europe Union Delegation Jan-Willem Blankert.

In the discussion time, I raised question about which was any evidence of government put their real concern to feedback provided by bloggers. Mr. Oratmangun gave his definite answer: Yes! He stated that based on his experiences, he recognized bloggers’ postings in their weblog (social media in general) were the representative of community dynamic. It was an inspiration for decision makers as well. The decision makers were able to absorb those feedbacks. Of course, only feedback that was supported by adequate data that was valuable. He added that the reason behind why Indonesian President, SBY, provided his fully support for the development of ASEAN Blogger Community was that he already recognised the important feedback from bloggers.

On the other hand, Mr. Blankert showed different opinion. He had never had any experience using bloggers postings as a direct feedback. However, he realised that bloggers were potential to provide feedback for decision makers in any field. He pointed out what happened in China. China was a closed country but people around the world were able to ‘see’ what happened in China from China bloggers’ eyes – through their postings. This information then was used as information for decision makers or any parties that needed information of China from different angle.

Based on examples above, and I am sure from bloggers’ experiences as well, become a blogger is significant, posting feedback for government or decision makers will have the similar positive value, and we – bloggers – need to be aware that people out there are looking at our posting as the representative of community dynamic and source of information as well.

Back to my question above: What does it mean to blogger around ASEAN countries in general and especially Indonesian blogger?

I am confident ASEAN Blogger Conference will guide ASEAN Blogger Community, through a proper conference agreement, to prepare for facing ASEAN community in 2015 that will be more in people oriented and people driven.

In this circumstance, I would like to provide suggestions for ASEAN Blogger Conference, i.e.:

1.      ASEAN motto is one vision, one identity, one community. Is that reliable for ASEAN Blogger Community? This needs to be evaluated due to, perhaps, it might work for its mother organisation – ASEAN that already have a robust structure or governance. While blogger community, it is a compilation of blogger as individual and independent body.  ASEAN Blogger Community possibly needs to set up a unique format, could be paralleled or not to its mother, more to show that blogger organisation is an independent organisation, despite it has a mother organisation or not and of course without losing their identity as bloggers from ASEAN countries.

2.      If we consider two aforementioned statements from Mr. Oratmangun and Mr. Blankert, it is apparent how bloggers are potential to be ‘heard’ by government or decision makers. This reason indicates the existence of ASEAN Blogger Community is potentially to be significant as well. As a consequence, this organisation needs to contribute properly through following up to date issues in ASEAN region. I would like to suggest one issue that need to consider properly, i.e.: environmental and forestry issue. This issue is significant and has been concerned internationally. ASEAN 10 countries cover around 213 million hectares of forests. These forests and ecosystems also become source of products and services for local livelihoods.

3.      ASEAN forests currently cover approximately 213 million hectares of land across 10 countries. Their diverse composition consists of tropical lowland forests, mountain forests, coastal mangrove forests, and peat forests, as well as the remnants of what is believed to be the oldest tropical rainforest in the world. It is well recognized that these forests and their ecosystems provide both products and services for local livelihoods (source: RECOFTC).

4.      My last suggestion is that ASEAN Blogger Community is able to persuade ASEAN leaders to be blogger as well, personally, not under official website. I have no data whether they have already had a personal blog or not. But by developing their own personal blog, it is able to create better communication from them to other bloggers and to open community. And in my opinion, it is not forbidden for leader from any country to manage their blog. It is able to motivate people to be a blogger too.

Those are my suggestions as a blogger. Success for the ASEAN Blogger Conference and hope this conference is able to provide a valuable contribution for ASEAN Blogger Community and ASEAN in general.

Bogor, 16 November 2011.

Posted too @ Kompasiana

 
4 Comments

Posted by on November 16, 2011 in Forestry, Values

 

Tags: , , ,