Ternyata, Petani Hutan dapat ditingkatkan Kapasitasnya melalui Pelatihan Master TreeGrowers (MTG)


Perwakilan pihak ACIAR, Dr. Tony Bartlett, dengan salah satu alumni pelatihan MTG di Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan
Perwakilan pihak ACIAR, Dr. Tony Bartlett,, dengan salah satu alumni pelatihan MTG di Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan

Hari gini petani hutan belum mengerti pasar kayu, pasar dari hasil produk-produk petani itu sendiri, kok aneh ya?

Demikianlah pengertian yang berkembang dalam era kehutanan saat ini. Sekarang ini, era kehutanan mementingkan pemahaman tentang Kehutanan Komersial Berbasis Masyarakat, dalam istilah umumnya dikenal dengan istilah CBCF, atau Community Based Commercial Forestry.

Apa itu CBCF, dan mengapa penting?

Dalam pengertian CBCF, petani-petani hutan dengan pasar kayu atau industri kayu perlu berada dalam satu rangkaian kerja sama. Rangkaian atau tautan ini merupakan hal yang sangat penting terkait dengan peran-peran dan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan dalam mekanisme CBCF. Dengan mendampingkan para petani hutan dengan industri kayu, mereka dapat memainkan perannya dengan lebih optimal dan maksimal lagi, terutama untuk memenuhi kebutuhan masing-masing. Industri kayu akan terpenuhi kebutuhan akan kayunya, para petani kayu akan dapat memperoleh keterjaminan pasar. Dengan mekanisme seperti demikian, para pihak yang terlibat dalam CBCF ini akan semuanya diuntungkan. Menarik kan ya?

Salah satu terobosan yang dilakukan oleh para peneliti yang terlibat dalam kegiatan kolaboratif yang didanai oleh ACIAR (the Australian Center for International Agriculture Research) ini adalah mengenalkan pentingnya mengetahui pasar kayu yang menjadi sasaran mereka menjual produk-produknya kelak melalui sebuah pelatihan yang disadur dari Melbourne University, yang diberi nama Master TreeGrowers (MTG).

Membuat petani menjadi master melalui pelatihan MTG

Melalui penelitian yang memasukkan unsur pelatihan MTG tersebut, para petani kayu diberikan pemahaman inti terhadap tiga hal yang perlu para petani hutan itu miliki, yaitu: Pengenalan tentang pasar kayu, pemeliharaan tanaman kayu dan manajemen pengelolaan lahan milik mereka.

Hasil penelitian ini kemudian membuktikan kepada kita semua, bahwa pelatihan MTG tersebut sangat bermanfaat. Terindikasi pula bahwa para petani kayu, di akhir pelatihan, dapat menguasai banyak hal yang belum mereka ketahui sebelumnya. Termasuk pula, merubah paradigma petani kayu dalam mengelola lahannya. Inilah akhirnya yang akan membuat petani kayu menjadi master (ahli) di bidang pengelolaan kayu. Asyik kan tuh.

Beberapa pengetahuan baru yang mereka sukai dan sadari sangat bermanfaat diantaranya adalah pengetahuan tentang pasar kayu, terutama pasar kayu yang dekat dengan wilayah mereka tinggal, informasi mengenai harga kayu, perawatan tanaman kayu dan perawatan kayu, kunjungan ke salah satu pasar kayu terdekat, serta kategori kayu cacat dan kayu baik. Pengetahuan tersebut sangat bermanfaat bagi petani kayu terutama untuk meningkatkan kualitas kayu yang dihasilkan serta menaikkan nilai jual kayu produksi mereka.

Petani bersaksi pentingnya pelatihan MTG

Kalau peneliti yang terlibat langsung dalam kegiatan tersebut tentu akan mengklaim tentang keberhasilan pelatihan atau metode MTG yang diberikannya. Namun, beberapa petani telah berani memberikan kesaksiannya tentang pelatihan yang mereka terima. Beberapa contoh pernyataan  langsung dari beberapa petani yang terlibat dalam kegiatan penelitian ini disajikan sebagai berikut.

Para petani hutan rakyat perlu dilengkapi dengan pengetahuan-pengetahuan bagaimana mereka dapat memenuhi kebutuhan pasar kayu serta  hal-hal yang perlu mereka lakukan agar produk kayunya berkualitas.

Pelatihan MTG yang diberikan kepada petani sangat penting untuk meningkatkan posisi tawar petani. Di masa lalu, harga kayu sangat rendah lebih disebabkan karena para pedagang atau pembeli kayu yang menentukan harganya. Dengan pelatihan ini, petani dibekali kepercayaan untuk mengikuti harga pasar dan menentukan harganya sendiri, tentu saja setelah melalui proses negosiasi yang adil.”

Didalam pelatihan MTG, para petani kayu diberikan kemampuan untuk belajar bagaimana mereka dapat mengelola lahan hutannya dengan cara yang lebih baik, memiliki keterbukaan dalam berpikir terutama terhadap pasar kayu serta memiliki kemampuan dalam pengambilan keputusan yang lebih baik (Responden nomor 10).”

Industri perahu Pinisi sebagai sumber pasar bagi para petani hutan di Kabupaten Bulukumba
Industri perahu Pinisi sebagai sumber pasar bagi para petani hutan di Kabupaten Bulukumba

Pelatihan MTG sudah terbukti manfaatnya, mengapa tidak disebarluaskan?

Pelatihan Master Tree Growers (MTG), berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan tersebut, diyakini oleh banyak pihak sebagai model pelatihan baru yang sangat bermanfaat bagi peningkatan kapasitas petani kayu serta dapat meningkatkan nilai jual kayu yang mereka hasilkan. Model baru yang diterapkan dalam pelatihan tersebut diyakini pula dapat meningkatkan kemampuan petani dalam membuat keputusan yang lebih baik bagi lahannya. Istilah kerennya sih membuat mereka mampu menjadi manajer di lahannya sendiri. Diharapkan bahwa dengan semakin baiknya keputusan yang dihasilkan akan berdampak positif terhadap peningkatan nilai jual dan taraf hidup petani kayu.

Hal lain adalah bahwa petani kayu disadarkan bahwa mereka dapat meningkat perannya dalam skema kehutanan komersial serta berperan aktif di dalamnya. Bila peran mereka meningkat, maka keberadaan mereka tidak akan lagi dianggap sebelah mata. Apalagi, sebagai produsen kayu, peran para petani kayu ini tidak dapat tidak, harus terhubung dengan pasar kayu. Sehingga seperti pertanyaan di awal, akan sangat janggal bila petani kayu tidak mengerti situasi pasar kayu yang ada serta tidak terlibat aktif dalam skema kehutanan komersial.

Mengingat kegiatan pelatihan ini berada dalam skala penelitian yang tentunya terbatas dari segi anggaran, tata waktu serta skala penyebarluaskannya, tentu menjadi pertanyaan besar bagaimana nasib dari pelatihan MTG ini bila penelitian tersebut berakhir. Pertanyaan terbesar adalah tentang bagaimana menyebarluaskannya kelak, karena banyak pihak telah diuntungkan oleh pelatihan MTG ini.

(tulisan ini disadur dari makalah dengan judul: Connecting farmers to wood market through training to support CBCF (Community based commercial forestry) in Indonesia, dengan penulis: Bugi Sumirat, Abdul Kadir Wakka, Achmad Rizal H. Bisjoe, dan Nur Hayati, yang telah dipresentasikan pada acara Kongres Kehutanan Sedunia ke-14 pada tanggal 7-11 September 2015 di Durban, Afrika Selatan)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s