‘Mental blocking’ saat menulis, bagaimana mengatasinya?


IMG_20180715_064832
Peserta workshop Vlomaya (dokumentasi Vlomaya)

[Artikel ini merupakan tulisan saya di Vlomaya Kompasiana, postingannya bisa dilihat di sini]

Saat Vlomaya, komunitas Kompasiana, mengadakan pelatihan/workshop tentang menulis artikel di Kompasiana dengan pembicara Kang Bugi dan Kak Abby pada Sabtu, 14 Juli 2018, terdapat dua kesan yang cukup  mendukung dan yang kurang mendukung. Seperti apa sih yang dimaksud dengan mendukung dan yang kurang mendukung itu? Berikut penjelasannya.

Kesan mendukung

Seluruh peserta workshop singkat tersebut sepakat bahwa workshop kepenulisan seperti yang diadakan oleh Vlomaya Kompasiana ini sangat bermanfaat dan perlu sering dilakukan lagi. Workshop kepenulisan ini membantu mereka yang ingin sekali dapat menulis, ingin punya blog dan ingin lebih dapat mencurahkan lagi ke khalayak luas ilmu-ilmu ataupun pengalaman-pengalaman yang dimilikinya.

Seorang peserta bahkan mengatakan bahwa, “kami ini, dengan segala yang kami miliki (ilmu pengetahuan dan pengalaman), terasa seperti gudang saja, bila ilmu tersebut tidak dibagikan kepada orang lain, termasuk melalui tulisan yang misalnya kemudian dimuat di Kompasiana. Tulisan yang dimuat dan kemudian dibaca oleh orang lain diharapkan dapat memberikan manfaat kepada yang membacanya.”

Kesan kurang mendukung

Kesan yang muncul ini berkaitan dengan adanya semacam hambatan dari para peserta itu sendiri saat akan memulai menulis. Padahal, kang Bugi dan kak Abby telah banyak menyampaikan kiat serta tips dan trik untuk dapat menghasilkan tulisan serta menuliskannya di Kompasiana (termasuk FAQ seputar Kompasiana), tetapi rupanya, masalah hambatan seperti yang diutarakan tersebut masih ‘menghantui’ mereka dengan pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam hati atau pikirannya itu:

Tulisan saya nanti akan cukup bagus nggak ya?

Tulisan saya nanti pantas untuk dibaca oleh orang lain atau tidak ya?

Tulisan saya nanti ini sudah cukup memuat informasi belum ya untuk di Kompasiana?

Tulisan saya ini nantinya sudah memenuhi syarat Kompasiana untuk dimuat belum ya?

Dan seterusnya, dan seterusnya.

Peserta workshop (Dokumentasi Vlomaya)
Peserta workshop (Dokumentasi Vlomaya)

 

Kang Bugi dan Kak Abby memberikan jawaban tambahan yang senada walau disampaikan secara terpisah, yaitu bahwa inilah yang sering disebut dengan mental blocking atau hambatan yang muncul secara mental. Artinya, segala pertanyaan-pertanyaan di atas yang menyebabkan keragu-raguan dalam menulis itu adalah sebetulnya pertanyaan-pertanyaan yang tidak diperlukan.

Karena apa? Karena pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul saat sebelum menulis. Bukan setelah tulisan tersebut diselesaikan. Sehingga hambatan ini menjadi sebuah hambatan yang muncul secara ‘mental’ (atau lebih sering disebut hambatan psikologis) dan bukan hambatan teknis.

Pemateri: kak Abby dan kang Bugi (Dokumentasi Vlomaya)
Pemateri: kak Abby dan kang Bugi (Dokumentasi Vlomaya)

 

Jawaban dari Kang Bugi dan Kak Abby adalah cukup praktis, yaitu kita semua diminta untuk berupaya sekeras mungkin untuk menghilangkan hambatan yang tidak perlu tersebut. Caranya adalah dengan:

Memaksakan diri untuk mulai menulis, tentang apapun dan tanpa target kata yang harus dituliskan,

Kemudian menulislah yang kita suka dan kemudian kita menyukai yang kita tulis.

Saat menulis, cobalah gunakan gaya bercerita (seperti yang menjadi judul presentasi kang Bugi: ‘menulislah, ber-storytellinglah‘) dan saat bercerita dalam bentuk tulisan itu, coba bayangkan kalau ada orang lain di depan kita dan kita sedang bercerita kepada orang lain tersebut.

Biasakan mengedit tulisan di akhir tulisan. Jadi, menulis terus dan terus, tanpa sering mengoreksinya di tengah-tengah perjalanan menulisnya.

Siapkan konsep menulis sebelum memulai menulis. Konsep tersebut bisa berupa outline sederhana, maupun berupa mind map yang juga dibuat dengan sesederhana mungkin.

Kak Abby dan Kang Bugi (Dokumentasi Vlomaya)
Kak Abby dan Kang Bugi (Dokumentasi Vlomaya)

 

Melatih proses seperti di atas berulang-ulang. Karena prinsip berlatih dalam menulis adalah hanya melalui satu cara yaitu dengan menulis, menulis dan menulis.

Tidak ada cara lain.

Mental blocking memang kadang menjadi hambatan yang tidak nyata tetapi cukup mengganggu dalam proses membuat tulisan. Dengan kemauan yang kuatlah, mental blocking tersebut dapat dikurangi dan kemudian dihilangkan.

Vlomaya tepat setahun

Tanpa terasa, Vlomaya (Komunitas Vlogger Kompasiana Pemerhati Budaya) telah memasuki usia setahun, tepatnya Vlomaya muncul di tahun 2017 tanggal 15 Juli. Walau masih kurang sehari, namun kemarin ini, dalam acara workshop singkat tersebut, diperingati secara sederhana, dengan meniup lilin tunggal di atas potongan pisang goreng pepe atau pisang goreng yang dipenyet terlebih dahulu – dalam bahasa Makassar disebut dengan ‘sanggara pepe’.

Sanggara pepe memperingati setahun Vlomaya (Dokumentasi Vlomaya)
Sanggara pepe memperingati setahun Vlomaya (Dokumentasi Vlomaya)

 

Pisang goreng ini merupakan makanan khas Makassar karena bahan baku pisang yang digunakan tidak boleh pisang yang terlalu masak harus agak mentah atau mengkal agar menimbulkan rasa yang khas. Memakannyapun tidak boleh sendiri, harus dimakan dengan cara dicocol ke sambal yang lumayan pedes.

Pokoknya uniklah sanggara pepe ini. Meniup lilin ini dengan harapan agar Vlomaya Kompasiana dapat terus hadir memberikan manfaat bagi anggota-anggota komunitasnya maupun bagi masyarakat luas.

Pergantian pengurus Kompak Tawwa

Kang Bugi bersama pengurus baru Komunitas Kompasianer Makassar Tawwa: Kak Abby & kak Atik (Dokumentasi Vlomaya)
Kang Bugi bersama pengurus baru Komunitas Kompasianer Makassar Tawwa: Kak Abby & kak Atik (Dokumentasi Vlomaya)

 

Vlomaya, dalam hal ini melalui ketuanya yaitu Kang Bugi, mendorong agar dapat dilakukan regenerasi kepengurusan di komunitas Kompasiana Makassar Tawwa – karena ketuanya yang telah berpindah domisili ke Jakarta. Alhamdulillah teman-teman Kompak Tawwa bersedia dan didukung pula oleh kesediaan kandidat yang secara aklamasi diminta untuk dapat mengambil peran ketua Kompak Tawwa terebut, pilihan teman-teman mengerucut kepada satu nama, yaitu kak Abby Onety.

Alhamdulillah kak Abby bersedia, hanya tidak sendiri, tetapi meminta bantuan rekan kompasianer lain, yaitu kak Atik Muttaqin untuk secara bersama-sama menggawangi Kompak Tawwa, dengan kak Abby sebagai ketuanya. Alhamdulillah proses ini berjalan lancar. Selamat kak Abby dan Kak Atik, selamat ya Kompak Tawwa Makassar.

Perpisahan dengan Kang Bugi

Ah, rupanya momen workshop singkat menulis tersebut, terisi banyak agenda, dari pelatihan, kopdar, pemilihan ketua Kompak Makassar Tawwa, memperingati setahun usia Vlomaya hingga yang membuat sedih, yaitu perpisahan. Rupanya kang Bugi sudah akan tidak berada lagi di Makassar per awal Agustus 2018. Kang Bugi akan menempati tempat kerjanya yang baru di kota hujan, yaitu kota Bogor. Yah … sedih juga sih.

Pemateri: kang Bugi dan kak Abby (Dokumentasi Vlomaya)
Pemateri: kang Bugi dan kak Abby (Dokumentasi Vlomaya)

 

Ajang workshop kemarinpun digunakan sebagai momen terakhir kang Bugi berbagi ilmu di kegiatan Vlomaya di Makassar dan berpamitan kepada para kompasianer yang ada di Makassar. Selamat jalan Kang Bugi, insya Allah akan ada momen mendatang yang mempertemukan kita kembali, aamiin YRA.

Salam Vlomaya,

@KB

Catatan: sumber foto adalah dokumentasi Vlomaya yang dikumpulkan dari kang Bugi, kak Abby, kak Atik, kak Helfianti.

Suasana workshop (dok. Vlomaya)
Suasana workshop & Nisa – putrinya kak Atik
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s