Welcome home from ISIS, Larra


silaturahmi
Silaturahmi (sumber gambar: mahad-assalafy.com)

Sebut saja namanya Larra. Ia teman baik saya saat di kampus dulu. Saat lebaran lalu tetiba dapat pesan melalui aplikasi messenger. Kaget? Kagetlah, karena sudah lama nih nggak kontak-kontak, apalagi setelah Larra dan keluarganya pindah ke luar pulau Jawa dan kemudian bergabung dengan ISIS.

Bergabung dengan ISIS? Yah begitulah Larra, kisah hidup bahagianya diisi sebagian dengan memilih bergabung dengan ISIS. Ah … Larra … Larra … pilihanmu itu …

Awal membaca pesan messenger dari Larra agak ragu untuk langsung mempercayainya. Maklum saja, Larra tidak menggunakan nama aslinya di akun messenger baru yang ia gunakan. Apalagi modus penipuan melalui messenger juga kan sedang marak, mengaku si A, ternyata bukan, ujung-ujungnya mau pinjam uang (tapi akhirnya ga dibalikin), atau bahkan ada yg mengajak nikah, ujung-ujungnya juga uang. Teman saya ada yang pernah mengalami hal itu. Tapi dari komunikasi lanjutan via messenger itu, akun yang mengaku Larra ini tidak demikian. Mungkin bener Larra nih pikir saya. Hingga saat Larra meminta nomer whatsapp tanpa ragu saya berikan. Bagus juga nih, saya pikir, bisa telpon langsung juga.

Hingga akhirnya setelah bertukar nomer HP, saya mengawali untuk menelpon Larra. Mendengar suaranya, yakinlah bahwa ia adalah Larra yang saya kenal dulu.

Saat pertama mendengar suaranya, entah kenapa rasa haru kok langsung menyelimuti perasaan saya. Selama ini, mengikuti ‘kisah perjalanan’ Larra beserta keluarga besarnya hanya melalui media massa, entah itu media online, cetak maupun televisi. Selalu yang muncul di kepala saya adalah, kok bisa-bisanya ya Larra dan keluarganya terpengaruh oleh ISIS biadab. Tidak mengira sama sekali. Saat saya dulu mengenal latar belakang keluarganya, asal-usulnya, pertemanan saat kuliah dan setelahnya, tidak ada pertanda bahwa suatu saat ia akan menjadi ISIS. Hanya pertanda terakhir diperlihatkan oleh postingannya di wall facebooknya – sebelum di block – yang menampakkan karikatur seorang wanita bercadar sedang memegang senapan dengan imbuhan kata-kata yang kurang lebih menyatakan bahwa beginilah model jihad yang sempurna menurut ajaran Islam itu. Begitu persepsi yang ia miliki saat itu. Mengerikan sekali kamu Larra melihat postingan tersebut. Larrapun saat itu menjadi semakin tertutup, susah untuk dihubungi. Beberapa teman yang mencoba menyambanginya, tidak ada satupun yang berhasil menemuinya, dengan berbagai alasan.

Menit pertama pembicaraan masih seperti penjajagan, bertanya tinggal dimana, bagaimana keadaan sekarang, dan lain sebagainya dan lain sebagainya. Menit-menit berikutnya istri saya ikut nimbrung, karena kebetulan istri saya pun adalah teman baiknya dulu.

Larra menceritakan hanya kepedihan. Istilah yang digunakannya untuk pengalaman buruknya itu yang ia sebut sebagai ‘sedang jalan-jalan’ dan sekarang ia dan keluarganya sudah kembali. Secara hati-hati saya malah agak eksplisit menyebutkan bahwa Larra dan keluarganya baru saja menjalani jalan-jalan yang agak salah jalan. Namun Larra justru lebih menegaskan lagi apa yang dialaminya itu dengan menyatakan,”hmhmhm, mungkin bukan jalan-jalan yang ‘agak salah’ ya, tapi ‘MEMANG SALAH’ (dengan menambahkan emoticon menangis setelahnya). Dan semua itu pembelajaran yang sangat-sangat mahal bagi kami dan juga dapat diambil hikmahnya sebagai pelajaran yang lainnya agar tidak ada lagi yang seperti kami ini baik dari kalangan sahabat maupun handai taulan. Jazakumullaah khoiron katsiron buat teman-teman dan sahabat semuanya atas semua doa kebaikan motivasi dukungan dan penerimaan kepada Larra dan keluarga …. Semoga ini semua menjadi kebaikan kita bersama … Bi’idznillaah … AlhamdulillaahiRobbil ‘aalamiin.” Demikian ungkapan Larra.

Demikian dalam proses kembalinya ke tanah air, tidak berarti sudah mendapatkan kemudahan, termasuk upayanya untuk menjalin temali silaturahmi. Walau sudah mengaku bahwa ia telah salah jalan dan memang hanya ingin mengulurkan jemari silaturahmi. No more, no less.

Salah satu upaya yang Larra lakukan adalah menghubungi teman-teman dekatnya dulu, termasuk teman kuliahnya terutama teman-teman yang dulu merupakan sahabat baiknya. Namun rupanya tidak semulus yang dikira. Tapi Larra mahfum sangat. Kelihatannya sih Larra sudah lebih ‘tough’ sekarang – mungkin perjalanan hidupnya memintanya demikian.

Larra sempat cerita, bahwa uluran tali silaturahminya sudah dicoba diulurkan dalam berbagai cara. Secara personal, baik melalui beberapa sosial media yang dimilikinya, ataupun melalui perantaraan teman dan kerabat. Intinya dengan berbagai caralah.

Tanggapan yang baik dan positif banyak ia terima, namun tidak sedikit yang mengabaikan dan bersikap sinis dan bahkan terang-terangan menolak. Larra tidak terlalu memusingkannya, sudah cukup berbahagia menerima respon-respon yang positif yang ia terima untuk diri dan keluarganya.

Beberapa tanggapan negatif bahkan muncul dari yang dulu ia anggap sebagai sahabat dekatnya. Yang ia kira akan dapat lebih mudah dalam menerima uluran silaturahmi karena hanya itu yang ia minta saat ini.

Saya sendiri, sesaat setelah berbicara dengan Larra melalui telpon, berusaha untuk menghubungi beberapa teman yang saya anggap dekat dengan saya dan dekat dengan Larra. Tidak ada maksud apa-apa kecuali melihat permintaan uluran tali silaturahmi dari Larra ini sebagai permintaan yang perlu ditanggapi secara positif berdasarkan pertimbangan-pertimbangan: my heart dan my humanity, that’s all.

As simple as that? Iya tetapi setelah saya cukup sedikit banyak melakukan pertimbangan dan mengikuti perjalanan sesat Larra dan keluarganya selama ini, hingga mereka kembali ke tanah air tercinta Indonesia. Saya dan istri termasuk yang sangat keras diawal mendengar bagaimana Larra dan keluarga mengambil keputusan ini. Hanya satu kata. Kalau bisa, mereka tidak usah kembali (sebagai buah dari resiko atas keputusan yang telah mereka pilih), kalaupun kembali – dengan berbagai alasan, mereka harus mendapat hukuman yang sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia – karena mengabaikan ideologi NKRI dan ini adalah masalah yang prinsipil sekali, karena terkait dengan ideologi negara. Wah, sepertinya serius sekali ya. Menurut saya sih memang masalah ideologi harus dianggap dan diperlakukan serius, karena sepertinya masih ada yang mencoba bermain-main (lebih tepatnya mempermainkan) dengan masalah ideologi yang sangat prinsip ini.

Hingga kinipun keyakinan ataupun ‘kekerasan’ prinsip kami tersebut tidak berkurang sedikitpun. Mungkin karena dilatari oleh ayah dan nenek saya yang adalah seorang pejuang, sering saya mendengar kisah bagaimana saat mereka berjuang dulu, termasuk saat mereka mengikuti perang Gerilya dahulu. Perjuangan mereka dan pejuang-pejuang lain sangat berat, hingga Indonesia, dengan ideologi yang dimilikinya sekarang, bisa seperti dalam kondisi seperti sekarang ini. Sangat berat. Terhadap Larra, sikap kami tetap, tidak berubah.

Berbeda dengan beberapa rekan yang saat mendengar Larra beserta keluarga bergabung dengan ISIS di awal mereka ke Suriah dahulu itu malah mengacungkan jempol dengan berujar bahwa apa yang dilakukan Larra dan keluarga adalah bagian dari jihad yang diajarkan Islam, dan memang jihad itu tidak mudah, karena jaminannya surga. Warbiasah deh mereka itu, sebuah kekeliruan dianggap jihad. Tapi yah kita tidak dapat memungkiri bahwa ada orang-orang yang beranggapan picik seperti itu. Kekeliruan dianggap jihad sesuai dengan persepsi yang dimilikinya saja (padahal bila kemudian mendengarkan cerita yang Larra sampaikan saat bertemu silaturahmi tersebut, yang ia alami adalah jauh panggang dari api dan Larra menyebutnya bahwa yang ia temui di sana jauh dari ‘Islam’ yang ia kenal dan pelajari sebelumnya. Nah lho?!).

Tentang Larra, berdasarkan informasi awal yang saya terima melalui beberapa media-media yang telah saya sebutkan di atas, they’re back – they have been back already with the same frequency as us. Sudah pula melewati proses ‘hukum’ (proses yang diperlukan oleh pemerintah seperti proses yang dilakukan oleh BNPT ataupun upaya-upaya deradikalisasi lainnya) – bahkan suami dan kakaknya masih berada dalam tahanan pemerintah. Salah seorang anaknya sekarang termasuk cukup aktif dilibatkan dalam kegiatan-kegiatan deradikalisasi dengan cara diminta untuk berbagi (sharing) berbicara tentang perjalanan ‘sesat’ mereka selama (sebelum dan setelah) bergabung dengan ISIS. Itu beberapa informasi yang saya ketahui dan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan itulah, my heart dan my humanity mengatakan,”yes, I have to help & support them as far as I could by receiving Larra request for silaturahmi.” Alhamdulillah istri sayapun sepakat one hundred percent setuju menerima silaturahmi Larra.

Dari lima orang rekan yang saya hubungi untuk bergabung di acara kumpul-kumpul dadakan di rumah saya untuk bersilaturahmi dengan Larra, seorang tidak bisa hadir karena ada kegiatan yang bersamaan, tiga orang menyatakan kesediaannya untuk hadir. Satu orang menolak hadir karena menurutnya, ia belum bisa menerima Larra atas apa yang telah dilakukannya dulu (bergabung dengan ISIS) – bahkan saya diejek telah melakukan perbuatan bodoh dengan mengundang Larra datang ke rumah.

Nggak salah lo ngundang Larra? Inget lo, kamu punya anak kecil, kamu pns, kamu kok bodoh ya mau terima Larra di rumahmu, ingat resikonya nanti …” begitu katanya. Cukup jengkel juga sih disebut ‘bodoh’ seperti itu – tapi sak karepmulah hehe. Apakah dengan menolak silaturahmi Larra ia menjadi lebih pintar? Bukankah justru sebaliknya yang terjadi? Padahal sudah saya jelaskan sejelas-jelasnya maksud saya mengundang Larra silaturahmi, ya hanya ingin bersilaturahmi saja. Tapi bila kemudian terbuka kesempatan untuk sedikit mendengarkan ‘kisahnya’, dengan bertemu langsung dengan Larra, segala pertanyaan/kecurigaannya itu bisa diklarifikasi langsung dengan yang bersangkutan. Langsung mendapatkan the first hand information.

Tapi ia memilih untuk menyimpan syak-wasangka itu dan berkutat pada keyakinan yang dimilikinya. Itu haknya sih dan sayapun tidak dalam posisi memaksanya untuk hadir atau untuk menerima silaturahmi Larra, saya hanya membuka kesempatan rekan lain yang dulu menjadi sahabatnya apabila bersedia dan berkenan untuk bergabung dengan kami bertemu dan menerima uluran silaturahmi Larra.

Namun ucapan kata ‘bodoh’ dari rekan saya itu rupanya cukup sedikit membekas di telinga saya, hingga untuk mencoba membuang kata itu, saya mencoba sedikit tukar pikiran dengan teman saya yang lain yang adalah teman blogger saya. Ia orang pesantren yang aktif terlibat dalam kegiatan-kegiatan deradikalisasi dan bahkan ia dulunya pernah ‘masuk’ ke dalam gerakan islam radikal, namun Alhamdulillah dapat menemukan jalan Islam yang lurus – jauh dari radikal.

Kata-kata pertama yang ia ucapkan setelah mendengar penjelasan tentang niat saya mengundang Larra justru menampar stigma ‘bodoh’ yang diucapkan teman saya itu,”wah ini adalah kabar terbaik hari ini yang saya dengar. Niat elo ngundang temen eks ISIS lo itu adalah kabar baik buat gue. Tentu tidak ‘berbahaya’ mengundang mereka, kan status mereka sudah jelas, bukan berstatus buronan, malah memang orang-orang seperti mereka itu harus kita rangkul untuk tetap berada di jalan yang benar. Gue salut sama elo dan gue dukung upaya elo ini, ini good news buat gue….”

Ternyata apa yang teman blogger saya itu sampaikan sejalan dengan apa yang teman saya yang lain yang bersedia hadir di acara silaturahmi tersebut sampaikan juga ke saya, yaitu bahwa ia sudah langsung berdiskusi tentang permintaan silaturahmi ini dengan temannya yang adalah seorang perwira kepolisian aktif. Teman polisinya itu mengatakan hal yang kurang lebih sama yaitu mendukung usaha-usaha menjalin silaturahmi seperti ini, dengan Larra dan keluarga, dan malah menganjurkan sebagai suatu perbuatan baik – agar diteruskan.

Jelas kan!!!

Pendapat-pendapat seperti itulah yang perlu kita dengar untuk mengisi relung hati kita, relung pikiran kita agar menghasilkan keputusan yang tepat dan positif pula.

Pasca pertemuan silaturahmi dengan Larra dan keluarga yang Alhamdulillah berjalan lancar – namun sangat perihatin mendengarkan sebagian kecil ceritanya (baru sebagian kecil saja lho dan kami saat itu tidak dapat mempercayai apa yang kami dengar – kok bisa-bisanya ya Larra dan keluarga memilih jalan yang penuh kebodohan itu), support dan dukungan untuk menerima temali silaturahmi Larra malah datang berlimpah. Semua mendukung dan memberikan penilaian serta komentar positif. Beberapa komentar yang sempat saya catat adalah sebagai berikut:

Larra itu, kalau diibaratkan seperti orang yang baru saja terpeleset jatuh dan sedang mencoba untuk bangun lagi. Kayak kita nggak pernah kepeleset saja sih?”

Orang-orang seperti mereka itu adalah korban dari ajakan ISIS yang memang menempuh strategi seperti itu, bisa ‘membius’ orang-orang seperti mereka (Larra dan keluarganya).”

Kalau pemerintah saja bisa memaafkan mereka (dengan beberapa konsekuensi hukumnya tentu), masak kita nggak bisa?

Apa kita lebih suci, bersih, baik dari mereka? Bagaimana kalau kita berada dalam posisi mereka, terpuruk seperti mereka, terus sikap kita negatif terhadap mereka. Mereka sudah jatuh terpuruk lho, sekarang sedang mencoba bangkit lagi menata kehidupannya, apa tidak pantas kita rangkul sebisa dan semampu kita?

Mereka kan hanya ingin menyambung tali silaturahmi, mengapa harus ditolak? Islam kan tidak mengajarkan demikian. Kalau mereka menyebarkan ajarannya, baru kita tolak. Simpel saja deh. Lagipula, apakah setelah yang ia (mereka) alami ini mereka akan mencebloskan diri lagi?

Kalau kita ibaratkan Larra adalah orang yang baru keluar dari penjara, apakah kita akan menambah ‘hukuman’ lagi dengan tidak menerima mereka. Tidak cukupkah hukuman yang ia terima di penjara tersebut. Saya kira yang dialaminya, harusnya, sudah sangat-sangat membuatnya jera.”

Malah bagus nerima teman yang lagi dirundung susah itu kan dukungan buat moral dia juga, saya tahu pak rasanya ditolak dan dimarjinalisasi…” (komentar dari temen yang kebetulan non muslim & pernah mengalami penolakan & dimarjinalkan)

Bersilaturahmi dengan Larra is fine, mereka sudah ‘jinak’ kok (dengan nada bercanda).”

Luar biasa kisahnya, Kang. Salut sama kebesaran hati kang Bugi dan teman-teman yang membuka diri dan memberi kesempatan kedua untuk Larra. Semoga Larra benar-benar kembali ke jalan yang benar ya.”

Demikianlah beberapa pendapat yang saya dengar dan sempat saya catat. Sejauh ini, pendapat negatif yang saya dengar langsung ya hanya seperti yang telah saya sebutkan di atas. Kalau dipersentase, mungkin dapat disetarakan dengan sembilan puluh sembilan persen menyatakan kesetujuannya untuk menyambut uluran silaturahmi Larra.

Sebetulnya segala pendapat, tidak berpengaruh signifikan terhadap apa yang saya yakini – karena kita boleh kan berbeda pendapat, namun kami meyakini bahwa menerima uluran silaturahmi Larra merupakan suatu pendapat dan perbuatan yang benar. Saya berpendapat dan menganggap bahwa Larra dan keluarganya sudah ‘with us’ lagi, terlepas dari keyakinan yang dimilikinya. Orang sudah mengaku tersesat dan telah kembali kemudian sedang berusaha menata hidupnya agar dapat lebih baik lagi, mengapa kita menolaknya? Kita sebaiknya menerima silaturahmi mereka. Itu keyakinan kami.

Welcome home, Larra.

Semoga bermanfaat

@kangbugi

Advertisements

4 Comments

    1. Hanupis om MT, your support and feedback thdp masalah ini juga memberikan warna yg indah terhadap silaturahmi tsb & artikel ini 👍👍

  1. Luar biasa kisahnya, Kang
    Salut sama kebesaran hati kang Bugi dan teman-teman yang membuka diri dan memberi kesempatan kedua untuk Larra
    Semoga Larra benar-benar kembali ke jalan yang benar ya

    1. Terima kasih banyak mbak Putu Sukartini atas apresiasinya, harapan yang sama dari kami terhadap Larra dan keluarganya. Makasih yaa …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s