Ngalap Berkah Ramadhan #3


Meragukan Allah

Ah … Kalau ingat kejadian kemarin, malu sangat diri ini di hadapan Allah Taala. Saya telah berburuk sangka pada Allah. Namun secangkir kopi mengingatkanku, hingga daku tersedu, hingga daku terisak, malu.

Sedari siang, hati ini ngedumel bertanya-tanya, lebih tepatnya mempertanyakan keputusan Allah, segala keputusannya, segala ketetapannya.

“kok begini ya jadinya?”

“kok sepertinya lama sekali sulit ini terasa”

“kok kenapa seperti ini yang diberikan, bukankah jika jika yang lain, akan lebih baik?”

Demikian seterusnya, demikian seterusnya.

Ah, sepertinya sedang galau nih.

Jadi malah menyalahkan Allah. Nggak pantes tau!

Secangkir kopi menyadarkanku.

Saat itu sedang acara berbuka puasa bersama di mesjid. Masih duduk manis menanti saat berbuka tiba. Nasi dos sudah di depan masing-masing. Demikian pula makanan kecil plus tidak ketinggalan sajian es teler yang belakangan ini menjadi super duper ngetop untuk penghilang dahaga saat berbuka.

Sambil kuping mendengarkan penceramah yang sudah menjadi satu paket dengan kegiatan bukber, dan yang untungnya juga nggak ceramah yang temanya kadang membuat kuping panas, karena berisi hasutan, hujatan kebencian dan yang negatif lainnya – Alhamdulillah yang diundang adalah penceramah/ustad yang bener bukan yang abal-abal, saya mencari sesuatu … secangkir kopi.

Ya, secangkir kopi, itulah kelengkapan yang kurang.

Tapi kopi kan ga biasa menjadi menu yang muncul saat bukber. Ini hanya karena kebiasaan saya bila berbuka, yaitu minum kopi dulu, baru dilanjutkan dengan hidangan-hidangan lain. Malah biasanya, kopi terus lanjut makan nasi, baru setelah itu shalat Magrib. Karena kebiasaan saja sih.

Nah, di acara bukber ini, agak berbeda. Tadi terlihat disediakan (diedarkan) secangkir teh atau kopi. Tapi kebanyakan disediakan teh, kopi jarang peminat.

Jadi, sudah dua kali orang yang membagikan itu, hanya membawa teh. Saya diam saja ketika mereka lewat. Males ah kalau teh.

Nggak lama datang lagi petugas pembagi teh itu. Di depan saya sudah segera ambil teh-teh tersebut. Saya tidak bergeming. Kemudian ia tetiba menghampiri saya, sambil menyodorkan sebuah cangkir. Lho kan saya tidak minta ya, tapi kemudian iya berkata,”kopi pak?”

Rupanya yang disodorkan ke saya itu adalah secangkir kopi. “oiya, kopi ya?” tanya saya menepis keraguan.

“iya pak, kopi.” sambil melanjutkan menyodorkan cangkir kopi tersebut.

“terima kasih mas.” ucap saya sambil segera menyodorkan tangan menyambut uluran kopi tersebut, sambil menyeruak sejumput pertanyaan, tahu darimana ya si mas kalau saya memang sedang menunggu secangkir kopi untuk teman berbuka…. 😇

Saya langsung tercekat. Beginilah Allah mengatur rizki untuk hamba-hambaNya. Kata orang Sunda mah, rejeki teu pahili (rizki tidak akan tertukar) – sudah jelas ketetapanNya untuk semua makhluk-makhlukNya.

Seperti secangkir kopi yang mengulur dengan sendirinya ke hadapan saya tanpa meminta dan memang itu yang dibutuhkan. Seperti itulah sejatinya uluran ‘tangan Allah’. Terasa pas, terasa lezatnya, terasa legitnya.

Ah … ya Allah, semoga hambaMu ini bukan termasuk orang-orang yang kufur akan nikmatMu, akan rizkiMu….

Aamiin YRA

Terima kasih ya Allah…

Alhamdulillah … 🙏🙏

@kangbugi

…. di bulan puasa …

(foto dokumen pribadi)

First posted in here:

https://www.plukme.com/post/1527338205-ngalap-berkah-ramadhan-3

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s