Selfie sampah, terobosan penanganan sampah perkotaan


Sampah masih menjadi masalah yang pelik di Indonesia. Lihat saja di jalan-jalan, di sekolah-sekolah, dan dimanapun sekitar kita, dari berbagai kalangan usia – laki-laki dan perempuan, mudah sekali membuang sampah di sembarang tempat. Entah dari dalam kendaraan, saat jalan kaki, saat naik motor. Orang merokok, buang puntungnya dimana saja. Anak-anak membeli permen di warung, lalu buang pembungkusnya tinggal lempar saja ke jalan. Mobil mewah, tapi tiba-tiba terbuka jendelanya dan plung … melompatlah dari dalam mobil mewahnya itu sebungkus kantong plastik dan isinya adalah  … sampah! Membeli mobil mewah sanggup, tetapi membeli tempat sampah kecil untuk ditempatkan di dalam mobilnya tidak sanggup. Hal-hal tersebut belum ditambah sampah dari lingkungan perumahan, ruko, perkantoran, pusat-pusat perbelanjaan, restauran-restauran dan lain sebagainya.

Di erah Pemerintahan Jokowi, salah satunya melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menggalakkan penanganan sampah agar lebih baik lagi termasuk melalui pencanangan gerakan Indonesia bebas sampah di tahun 2020 serta setiap tahun diingatkan melalui bingkai HPSN (Hari Peduli Sampah Nasional) yang diperingati setiap tanggal 21 Februari 2017. Sebagai contoh kegiatan HPSN ini dapat dilihat dalam video terlampir (sumber video adalah video blog/vlog karya saya sendiri) – yang dilakukan di sebuah lingkungan kantor di Makassar.

Mungkinkah Indonesia bebas dari sampah seperti yang telah dicanangkan oleh gerakan itu?

Ini tergantung dari kita semua. Karena tugas membersihkan atau kebersihan bukan hanya domain pemerintah saja. Sebagai orang yang tinggal dan bekerja di Makassar, saya ‘concern‘ dengan ‘persampahan’ di kota Makassar ini. Terutama dari segi perilaku masyarakatnya. Karena gambaran yang sudah saya sampaikan di atas itu, terjadi pula di Makassar.

Makassar termasuk kedalam kota yang dijadikan percontohan dalam sistem pengelolaan sampahnya. Walikota Makassar, Moh. Ramdhan Pomanto, sempat diminta mempresentasikan sistem ini di hadapan pak Jokowi tahun lalu – dalam kesempatan itu hanya tujuh kepala daerah yang diundang. Kota Makassar termasuk didalamnya karena Makassar dianggap sebagai kota yang paling siap secara infrastruktur, konsep serta penerapannya di lapangan (Merdeka, 21 April 2016).

sistem-pengolahan-sampah-di-makassar-jadi-percontohan-nasional
Pak Walikota bersama tim penanggulangan sampah Makassar (sumber foto Merdeka)

Makassarpun memiliki 2 (dua) semboyan yang selalu disosialisasikan ke tengah masyarakat yaitu:

  1. Makassar tidak rantasa. Semboyan ini memiliki arti bahwa kota Makassar adalah bukan kota yang jorok, bukan kota yang berantakan. Untuk itu diminta kepada semua warga masyarakat kota Makassar untuk dapat menjaga kebersihan kotanya ini.
  2. Lisa. Semboyan yang sebutannya mirip dengan nama seorang wanita cantik ini sebetulnya merupakan sebuah singkatan atau akronim. Lisa berarti Lihat Sampah Ambil. Artinya, warga kota Makassar diminta kepeduliannya untuk turut menjaga kebersihan dengan secara aktif mengambil sampah yang ada dihadapan kita walau tanpa kita harus tahu siapa yang membuangnya. Ambil sampah tersebut dan buang di tempatnya. Demikian kira-kira praktik dari Lisa ini.

Disamping itu Pemerintah Kota Makassar memiliki armada sampah yang merupakan modifikasi dari mobil boks yang diberi nama ‘Tangkasaki‘ yang merupakan kependekan dari Truk Angkutan Sampah Kita. Armada ini wara-wiri mengangkut sampah dari tempat dan jadwal yang telah ditentukan.

6ac75791-27bd-450d-ac86-6153cb3e2985
Armada sampah Tangkasaki (sumber foto: Merdeka)

Namun demikian, sampah masih saja terlihat dimana-mana. Armada sampah yang masih terbatas jumlahnya serta perilaku warga Makassar yang rupanya masih perlu ditingkatkan lagi kebiasaan baiknya untuk membuang sampah di tempatnya.

Terkait hal tersebut, dalam kesempatan ini saya akan menyarankan suatu sistem yang mungkin saya berguna bagi sistem pengelolaan sampah di Makassar.

Saran saya tersebut saya sebut dengan Selfie Sampah. Sebutan selfie dikaitkan dengan kebiasaan kita di jaman now ini yang sudah mengaitkan selfie sebagai bagian dari gaya hidup milenial atau gaya hidup jaman now.

selfie nypostdotcom
Contoh gaya saat berselfie (sumber: nypost.com)

Selfie sampah ini adalah sistem informasi warga terkait keberadaan sampah yang bukan pada tempatnya, yang seharusnya sampah tersebut sudah terangkut oleh armada sampah Tangkasaki.

Caranya adalah setiap warga yang melihat tumpukan sampah tersebut dapat segera mengambil gambar atau foto dari sampah itu kemudian foto tersebut di upload di media sosial yang khusus berisi informasi tentang sampah milik Pemkot Makassar – untuk itu Pemkot Makassar harus memiliki media sosial untuk keperluan ini, cukup memiliki facebook dan atau twitter dimana nantinya masyarakat dapat melaporkan keberadaan sampah yang tidak pada tempatnya ini di akun media sosial milik pemkot Makassar lengkap dengan berisi informasi: lokasi dan waktu pengambilan foto tersebut.

images-2
Gundukan sampah bukan pada tempatnya (sumber: detik.com)

Setelah foto tersebut termuat di akun media sosial tersebut, admin pengelola akun yang adalah staf Pemkot Makassar, segera menginformasikan hal tersebut kepada unit armada sampah yang terdekat dengan lokasi sampah tersebut untuk mengangkut sampah dimaksud.

Sebagai reward dan penghargaan terhadap upayanya turut menjaga kebersihan kota, Pemkot dapat memberikan hadiah/goodie bag bagi si peng-upload foto tersebut.

Foto-foto yang diupload tidak hanya berisi tumpukan sampah, tetapi juga sampah yang dibuang sembarangan dari dalam mobil, atau warga yang membuang ke sungai misalnya, dan lain sebagainya.

Selfie sampah dimaksudkan sebagai wujud dari sebuah ‘Kota Cerdas‘ yang dapat meningkatkan kepedulian warga kota Makassar khususnya untuk dapat menjaga kebersihan lingkungan kotanya dan terutama lingkungan di sekitarnya. Hal tersebut juga dapat meningkatkan ‘engagement’ atau keakraban antara Pemerintah Kota Makassar dengan warganya. Serta kedepan adalah dapat meningkatkan perilaku warga Kota Makassar untuk tidak membuang sampah sembarangan dan menganggap bahwa persoalan sampah adalah persoalan kita bersama.

Ide sederhana seperti di atas inipun dapat dilakukan pula di kota-kota lain yang ingin meningkatkan menjadi Kota Cerdas dalam hal persampahan dan kepedulian masyarakat terhadap kebersihan kotanya serta meningkatkan keakraban antara pemerintah kota dengan warganya.

Semoga bermanfaat

@kangbugi

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s