Ah … seandainya saya wong jogja


Yogya itu adem atau ngademi. Arti adem atau ngademi itu lebih tepatnya diterjemahkan menggunakan ‘rasa’ atau roso-nya mbah Maridjan almarhum yang terkenal itu.

Saat berkunjung ke Yogya di bulan Juli 2017 lalu, untuk urusan pekerjaan, saya menyempatkan diri ngobrol-ngobrol santai bersama dua orang blogger Kompasiana Jogja (K-Jog) yaitu mas Dimas dan mbak Riana. Asyik ngobrolnya apalagi dengan suasana khas Jogja, yaitu ng-angkringan, di angkringan kang Harjo di daerah Wijilan.

Terus terang, saya dan mas Dimas dan mbak Riana ini baru kali pertama ketemu, ya di situ itu (oya, saya aslinya Jawa Barat, tapi bekerja di Makassar – hobi juga menulis dan tergabung dalam komunitas Kompasianer Makassar). Tapi mungkin karena sama-sama ‘blogger Kompasiana’, jadi langsung cair saja, akrab gitu. Ditambah makanannya yang oke punya, khas angkringan, murah-meriah, dengan cara penyajian  dan nama-nama menu yang unik tapi teuteup … enak tenan.

Sudah ngobrol ngalor-ngidul, tiba-tiba mbak Riana tanya ke saya, apa kesan saya melihat Jogja dari waktu ke waktu, apa ada perubahan yang berarti dan apa sih yang berkesan dari datang ke Jogja ini?

Wah berat nih pertanyaan mbak Riana. Kita kan lagi ngobrol-ngobrol santai, tapi kenapa dikasih pertanyaan yang berat gitu hehehe (mbak Riana cuma mesam-mesem saja ketika saya komplen sambil bercanda). [Suasana ngobrol ngalor-ngidul bareng temen-temen K-Jog ini kira-kira seperti dalam video saya berikut ini:]

Memang sih, kedatangan saya ke Jogja kali itu bukan untuk yang pertama kali. Sudah beberapa kali saya ke Jogja, baik urusan pribadi (liburan) maupun urusan pekerjaan/kantor. Untuk urusan kantor, yang kebetulan adalah kerjasama luar negeri – dengan Australia, karena ada mitra dari UGM (Universitas Gadjah Mada) – dan dianggap Jogja berada di tengah diantara mitra lain yang berada di Jakarta, Bogor, Pati dan Makassar (saya mewakili kota ini).

Kembali ke pertanyaan mbak Riana di atas tadi, saya agak lama terdiam dulu sebelum saya menjawab dengan plus-minus seperti di bawah ini (agak-agak serius dikit nggak apa-apa yaa hehe). Oya, urut-urutan penjelasan saya tidak mencerminkan prioritas (dan ada beberapa hal yang saya sajikan merupakan rangkuman tambahan setelah saya menyelesaikan kunjungan saya di Jogja).

Pertama, Jogja buat saya adalah heaven of culture, surganya kebudayaan. Bahwa Jogja itu kota budaya, jelas kelihatan sekali. Mulai dari bangunannya, kuliner, attitudenya, pakaiannya dan lain sebagainya. Apalagi keberadaan keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sepertinya berperanan besar dalam ‘menjaga gawang’ budaya kota dan budaya masyarakat Jogja.

Kedua, Jogja itu toleran, artinya masyarakatnya masih menjunjung tinggi toleransi. Terlepas dari beberapa kejadian minor yang pernah saya dengar, Jogja tetap, menurut saya, adalah daerah yang bertoleransi tinggi. Masih banyak orang atau wisatawan yang berkunjung ke Jogja menunjukkan salah satu hal itu. Kalau nggak toleran, masa’ iya masih mau pada dateng ke Jogja, iya kan (seperti saya yang seneng bener kalau ke Jogja). Mungkin istilah toleransi ini bisa juga lebih tepat disebut dengan akulturasi, maksudnya, yah budaya apapun cocok aja berinteraksi dengan budaya Jogja. Dan orang Jogja, nggak harus hilang budaya dan kebudayaannya dengan berinteraksi dengan orang-orang dari luar Jogja. Lagipula, Jogja adalah contoh toleran dalam hal religi juga, misalnya dapat saling berdampingan antara yang masih menganut kepercayaan nenek moyang dengan yang sudah meninggalkan kepercayaan tersebut. Saya melihat ini contoh kecilnya adalah sebuah pertokoan yang menyajikan suasana yang toleran tersebut bahkan terkesan magis – magis gimana gitu. tapi itulah khas Jogja [Suasana pertokoan tersebut dapat dilihat dalam video yang saya buat di bawah ini:]

Ketiga, Jogja itu ‘heaven‘nya kuliner, muanteb-muanteb bener. Ini bener banget. Apalagi dengan ciri khas Gudeg sebagai ikon makanan khas Jogja, sudah wokeh bener deh. Saya sendiri termasuk penggemar Gudeg. Nah kemarin ini, saat menginap di sebuah hotel di Jogja, cukup amazing, gudeg, makanan kesukaan saya ini, masuk dalam menu andalan breakfast hotel. Enak lagi rasa gudegnya. Yah ‘terpaksa’ (terpaksa senang tapinya) setiap pagi makan gudeg komplit – ada opor ayamnya juga. Plus jamu yang sepertinya cukup pas diminum setelah makan gudeg. Saya cukup mengapresiasi upaya-upaya oleh siapapun untuk tidak melupakan hal-hal yang sifatnya tradisional dicampur dengan urusan yang pure commercial atau bisnis. [Gudeg dalam hotel tersebut sempat saya videokan seperti dalam video di bawah ini:]

Adalagi kuliner Jogja yang saya suka, yaitu nasi kucing. Disebut nasi kucing karena ukurannya yang imut atau dalam porsi kecil, sehingga cocok untuk makanan seekor kucing, katanya, plus yang harganya murah-meriah. Berbeda dengan model angkringan kang Harjo, di atas, ada tempat angkringan yang jadi favorit saya juga, letaknya di Malioboro yang saya kunjungi beberapa bulan lalu. Hebatnya ini penjual nasi kucing (angkringan Margo Mulyo) yaitu walau yang dijualnya termasuk kategori murah-meriah, tapi di sini, saat jam makan siang (lunch time) ada live musicnya lho, biasanya seorang pemain gitar menemani pengunjung yang sedang menyantap makan siangnya. Waduh .. surga banget sih – murah-meriah tapi ‘berkelas’. [Suasana tempat ini sempat saya abadikan dalam video di bawah ini:]

Keempat, Jogja sebagai tujuan turisme. Ini mah bener banget atuh. Saya berkali-kali ke Jogja nggak ada bosan-bosannya. Seperti nyandu gimana gitu (nyandu dalam konteks yang positif ya). Jogja buat saya, yang bukan orang atau wong Jogja ini, cukup ngangeni lho, tenanan (artinya beneran, lho, sudah berbahasa Jogja tuh hehehe). Kunjungan lalu mendatangi beberapa lokasi, yang sebelumnya begitu juga, hingga yang kemarinpun begitu. Ndak habis-habis, karena ada yang baru juga bermunculan.

Seperti dalam kunjungan kemarin ini, saya sempat mendatangi kawasan wisata hutan wisata pinus Mangunan – yang terdiri dari 7 (tujuh) kawasan wisata. Belum semua, tapi sempat mendatangi yang utama-utamanya saja (seperti dalam foto di bawah ini). Kawasan itu ada unsur man-made-nya (buatan manusia) untuk spot foto – seperti tampak di foto, tapi tetap membuatnya menjadi magnet untuk dikunjungi, apalagi selain pemandangannya yang bagus, hawanya segar sekali. Polusi belum merambah ke situ (mudah-mudahan tidak akan pernah ya).

Hutan pinus mangunana
Hutan pinus mangunan (dok. pribadi)

Yang menarik bagi saya lainnya adalah obyek wisata baru, yaitu rumah terbalik ‘the upside down world‘ di kawasan Ring Road Utara, Maguwoharjo, Kabupaten Sleman. Konon kawasan ini baru buka awal Juli lalu dan saya ke situ di akhir bulan Juli, jadi belum genap usianya, yo wis, harus mampir nih. Bener juga, antriannya luar biasa banyaknya (dan pengunjungnya kebanyakan orang dari luar Jogja – hasil nguping dengerin percakapan mereka saat mengantri), padahal masih pagi. Obyek wisata ini bukan khas Jogja, karena terdapat juga di beberapa kota lain di Indonesia (dan mancanegara), tapi tetap saja, sensasinya ‘dapet’, apalagi masih gres kan. [Keseruannya dapat dilihat dalam video di bawah ini].

Kelima, Jogja tempatnya orang-orang ramah. Untuk statement ini, sudah nggak perlu diragukan lagi deh. Sepanjang perjalanan kunjungan saya ke Jogja yang sudah beberapa kali itu, ciri ini yang sangat menonjol. Bicara merekapun cukup pelan, tidak tergesa-gesa dan lembut (sopan). Contoh kecil saja ya saat saya ngobrol ngalor-ngidul bareng mbak Riana dan mas Dimas itu, mereka ramah banget, padahal mereka cape lho, karena baru pulang kerja, tapi tetap menyempatkan diri untuk bertemu saya dengan segala keramah-tamahannya. Percaya ndak, akhirnya – kalau nggak inget masing-masing harus kerja (dan saya meneruskan urusan kantor itu), rasanya masih lanjut ngobrol – tapi jam sudah menunjukkan tengah malam. Apa boleh buat.

Contoh kecil lain adalah, saat di sana, saya untuk transportasi memilih menggunakan transportasi online (motor ataupun mobil). Supirnya overall ramah dan sopan. Yang terakhir yang saya naiki (motor – mas Bram) malah baik sekali dan ia menempatkan diri sebagai setengah ‘guide‘ untuk saya yang sedang ‘bertamu’ di Jogja (terima kasih ya mas).

Sehingga kelima hal di atas rasanya cukup untuk menjawab pertanyaan mbak Riana.

Saat itupun saya bilang ke mereka, kalau saya ditanya secara jujur, kota yang paling disukai untuk tempat tinggal, Jogja masuk kriteria saya sebagai kota yang paling disukai untuk tinggal.

Maka, menjawab pengandai-andaian saya, bila saya tinggal di Jogja dan menjadi orang Jogja (wong Jogja), tentu saya nggak usah repot-repot atur jadwal (dan menabung yang banyak dulu tentunya) kapan bisa ke Jogja lagi. Cukup tinggal atur waktunya saja terus jadwalkan – nggak usah terlalu bersusah payah menabung terlebih dahulu.

Tapi itulah … saya nggak tinggal di Jogja.

Luar biasa memang deh Jogja. Jogjakarta istimewa sekali, sesuai dengan namanya.  Seharusnya Indonesia ya seperti ini, dalam arti memunculkan dan memelihara nilai-nilai positif lokal, yang memperkaya kultur kita sebagai masyarakat, negara dan bangsa Indonesia. Daerah-daerah lain di Indonesia boleh mencontoh Jogja (nggak usah malu mencontoh, kan untuk kebaikan). Sehingga ungkapan ‘menjadi Jogja, menjadi Indonesia’ adalah tepat sekali. Mau jadi orang Indonesia seutuhnya, ayo datang dan lihat Jogja menjaga, menata diri dan kebudayaannya serta mengembangkannya.

itulah makna Jogja yang adem, yang ngademi yang saya maksudkan di atas itu.

Ah .. jadi rindu Jogja nih, jadi pengen ke Jogja lagi, jadi pengen menikmati ‘menjadi Indonesia lagi’. Jogja, I’m coming … tapi insya Allah kapan-kapan yaaa, doakan saya supaya bisa ke Jogja lagi.

Ah … seandainya saya wong Jogja.

Makassar, 28-08-2017

@kangbugi

 

Advertisements

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s