Paupau ri kadong, membukukan tradisi lisan Sulawesi Selatan


Acara bedah buku Paupau ri Kadong
Acara bedah buku Paupau ri Kadong – dokumentasi pribadi

Beruntung beberapa waktu lalu (tepatnya hari Rabu, 10 Mei 2017) saya dapat menghadiri suatu even yang sangat bermanfaat bahkan dapat dikategorikan sebagai fenomenal, yaitu acara bedah buku yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan Kota Makassar.

 

Acara ini dilaksanakan di Hotel Yasmin, Makassar  dan membedah buku terbitan Dinas Perpustakaan Kota Makassar – bekerja sama dengan Pustaka Refleksi yang merupakan karangan Nurdin Yusuf, Sherly Asriany dan Ridwan. Buku  yang berjudul Paupau ri Kadong ini menjuluki dirinya sebagai buku yang berisikan tradisi lisan Sulawesi Selatan, yang juga berfungsi sebagai sarana hiburan dan pendidikan. Buku ini dibedah secara tunggal oleh Dr. Muhlis Hadrawi, seorang pakar sastra Bugis dari Universitas Hasanuddin dan dimoderatori oleh Tulus Wulan Juni dari Dinas Perpustakaan Kota Makassar.

 

Saya sebut beruntung, mengingat bahwa sebagai pegiat literasi, kegiatan seperti ini menjadi soul-fed atau makanan jiwa yang diperlukan. Mendengarkan sesuatu yang bersifat ‘abstrak’ (petuah atau nasihat adalah sesuatu yang dapat ‘dirasakan’ tapi tidak tampak wujudnya karena yang namanya petuah atau cerita kan tidak tampak bendanya tapi dapat dirasakan melalui indra pendengaran kita. Jiwa pun bersifat ‘abstrak’, jadi cocoklah cerita-cerita atau tuturan ini merupakan makanan jiwa yang bila didengarkan dan berdampak positif maka ia merupakan makanan jiwa yang cocok yang menyehatkan.

 

Paupau ri kadong itu sendiri dapat diartikan sebagai pitutur atau cerita yang diiyakan (pendengarnya akan mengangguk-anggukkan kepalanya bila sedang diceritakan) bila didengar atau diperdengarkan kepada yang mendengarkannya. Begitulah kira-kira arti sebenarnya yang mendekati, seperti dituturkan langsung oleh penulisnya.

Para pembicara dalam acara bedah buku - dokumentasi pribadi
Acara bedah buku Paupau ri Kadong

Sebagai selayaknya sebuah cerita atau pitutur, cerita-cerita yang terkoleksi secara apik dalam buku Paupau ri Kadong ini awalnya terlepas liar diantara para penuturnya, dari mulut ke mulut, dari generasi ke generasi, tidak mengalami suatu proses yang disebut pencatatan apalagi terbukukan dengan baik dan terawat.

 

Seperti saat ditanyakan kepada penulis utama buku ini, Nurdin Yusuf, bagaimana proses hingga buku ini terbentuk. Ia dengan gamblang menceritakan secara singkat bagaimana proses penyusunan buku ini dilakukan. Hal ini menurut saya menjadi penting diketahui karena ini terkait dengan pitutur lisan, dapat sebagai proses pembelajaran bagi mereka – para penulis dan informasi ini tidak terdapat dalam buku tersebut.

 

Nurdinpun kemudian menjelaskan bahwa ia memulai pengumpulan informasi (riset) cerita-cerita yang beredar di masyarakat sudah sejak lama. Dimanapun, kapanpun, bila ia mendengar ada yang mengetahui sebuah pitutur lisan setempat dan di saat itu, ia belum memiliki informasi tersebut, iapun kemudian akan langsung meminta kesediaan si pemberi informasi itu untuk direkam tutur lisan yang disampaikannya. Dengan cara ini, Nurdin, yang putrinya juga menjadi co-author dalam buku tersebut, berhasil mengumpulkan ratusan tutur lisan masyarakat Sulawesi Selatan. Namun, bencana banjir besar beberapa tahun lalu memusnahkan sebagian besar hasil risetnya itu, rekaman-rekaman yang telah dikumpulkannya. Untuk itu, diperlukan riset ulang untuk beberapa cerita tradisi lisan tersebut yang dirasa penting dan akan menjadi bagian dari buku Paupau ri kadong.

 

Yang menarik pula dari lahirnya buku ini adalah bahwa penulis  kedua, Sherly Asriany adalah anak kandung dari penulis pertama. Menurut Nurdin, yang di usia tuanya ini masih nampak aktif dan enerjik, peran Sherly dalam penulisan buku adalah memberikan resume atau pandangan awal terhadap setiap tutur lisan yang telah ditransformasi menjadi bentuk artikel tersebut. Keseluruhan cerita yang ada dalam Paupau adalah sebanyak 23 cerita. Ini berarti Sherly berkontribusi terhadap 23 resume artikel yang ada. Sherly yang sehari-harinya berprofesi sebagai dosen ini mengaku sangat senang dan menikmati tugasnya berkontribusi dalam proses penyusunan buku dan membantu ayahanda tercinta.

Beberapa pendongeng kota Makassar yang tergabung dalam Dongkel with Mobile Library - dokumentasi pribadi
Beberapa pendongeng kota Makassar yang tergabung dalam Dongkel with Mobile Library – dokumentasi pribadi

Tradisi lisan yang berkembang di Sulawesi Selatan merefleksikan kekayaan, perkembangan dan kondisi budaya setempat atau budaya lokal, sekaligus kearifan lokal. Menuliskannya menjadi sebuah buku merupakan suatu usaha yang patut dipuji dan harus didukung. Karena belum banyak yang melakukan upaya ini padahal pitutur lisan skala lokal sangat lah banyak dan belum ‘tercatat’. Upaya ini menunjukkan suatu bentuk terhadap pelestarian (dalam bentuk pencatatan atau pendokumentasian) dan pengembangan proses budaya dan kebudayaan yang merupakan khasanah kekayaan lokal (Sulawesi Selatan) dan juga merupakan aset bangsa.

 

Hal yang menarik lainnya adalah bahwa di Makassar, Dinas Perpustakaan Kota Makassar telah menginisiasi dan mengembangkan program Dongkel (dongeng keliling) with mobile library yang menjadi salah satu pemenang dari “Top Inovasi 99 Pelayanan Publik 2017“. Makassar memenangkan dua dari 99 pelayanan publik top 2017, yaitu Dongkel with mobile library (inovasi Dinas Perpustakaan Kota Makassar) dan Lorong Sehat (Longset) – inovasi Dinas Kesehatan Kota Makassar, dimana kedua program ini berhasil menyingkirkan program dari kota-kota terkemuka di Indonesia.

 

Program Dongkel with mobile library ini memiliki tujuan untuk meningkatkan secara maksimal minat baca warga, utamanya dikalangan pelajar. Disebut dongeng keliling, karena program ini memang melibatkan pendongeng-pendongeng andalan kota Makassar yang sudah didaftar oleh Dinas Perpustakaan Kota Makassar. Pendongeng-pendongeng ini akan bersama-sama perpustakaan keliling mengunjungi sekolah-sekolah yang telah mendaftar untuk minta dikunjungi. Sebelum perpustakaan keliling membuka ‘warung bukunya’, didahului oleh aksi yang menarik dan memikat dari para pendongeng ini. Langkah ini untuk makin membuat anak-anak pelajar yang kedatangan tim dongkel, tertarik untuk membaca buku-buku yang tersedia di perpustakaan keliling itu.

 

Hal yang perlu dilengkapi dari buku ini adalah minimnya informasi tutur lisan yang dibukukan dalam buku ini darimana asalnya, dari kabupaten mana dan dari siapa diperolehnya. Hal-hal tersebut bila dilengkapi akan dapat memperkaya data dan informasi yang telah disajikan. Disamping menghargai sumber awal tutur lisan itu diperoleh. Termasuk pula dapat menjawab hal yang saat acara berlangsung ditanyakan oleh seorang penanya bahwa beberapa cerita dalam buku itu mirip dengan cerita dari daerah lain – artinya tutur lisan tersebut bukan hanya terdapat di Sulawesi Selatan.

 

Namun secara keseluruhan buku Paupau ri Kadong ini dapat menjadi acuan bagi para petutur lisan seperti para pendongeng ini dalam melaksanakan kegiatan literasi mendongengnya. Berazaskan pitutur lisan lokal Sulawesi Selatan. Untuk itu, keberadaan buku ini tetaplah sangatlah bermakna dan bermanfaat karena telah melengkapi khasanah kebudayaan Sulawesi Selatan, khususnya budaya bertutur atau lisan. Disamping itu, buku tersebut dapat dianggap sebagai arsip nasehat karena isi tutur lisan kebanyakan memang berupa nasihat yang disampaikan secara lisan dan disimpan dalam ingatan. Terlebih mengingat bahwa kemampuan ingatan itu ada keterbatasannya dan terbatas pula orang yang mau dan dapat mengingat tutur lisan dengan baik, maka upaya mengubah tutur lisan menjadi sebuah buku sangatlah patut diapresiasi karena berarti juga membukukan nasihat-nasihat baik orang-orang tua kita dahulu, leluhur-leluhur kita .

 

Semoga bermanfaat dan maju terus dunia literasi Indonesia.

@kangbugi

[diposting pula di sini: http://v20106.kompasiana.com/bugisumirat/paupau-ri-kadong-membukukan-tradisi-lisan-sulawesi-selatan_5940c5e48ce7f5361c4648a2]

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s