Pemilihan gubernur itu urusan duniawi


Saya mendapati artikel, yang saya gunakan judulnya sebagai judul tulisan ini di atas,  yang menarik terkait pemilihan umum, pemilihan seseorang yang akan dipilih untuk ‘in charge’ sebagai CEO sebuah kota – atau wilayah tertentu,  atau bahkan untuk sebuah wilayah-wilayah yang lebih luas lagi.
Tapi,  seperti biasa,  untuk kalangan ‘cupeters’ – itu istilah yang saya buat untuk orang atau mereka yang tidak bisa melihat bahwa perbedaan itu adalah nyata dan kenyataan dan orang atau mereka yang memiliki pendapat bahwa hanya pendapatnya saja yang benar,  pendapat orang lain salah padahal dengan argumen yang sudah sangat kuat.  Tapi biarlah ke-arogan-an itu menjadi miliknya/mereka saja,  bukan saya.  Karena,  bagi saya,  persoalan perbedaan adalah hak,  adalah kenyataan,  adalah rahmat dari Allah SWT.  Saya tidak juga perlu menjadi seorang ‘intruder‘- ini juga istilah yang saya tabalkan bagi cupeters-cupeters yang agresif sehingga mereka berbuat zholim dengan mengganggu (kenyamanan) mereka yang berbeda (pendapat).

Bagi saya,  berbeda adalah berbeda.  Thats it,  sikapi saja dengan melihatnya sebagai suatu yang sunatullah,  sesuatu yang sudah dari sononye, sesuatu yang sudah diberikan Allah SWT.

Jadi,  lihatlah perbedaan itu dengan santai dan logis,  tanpa harus baper dan lebay sehingga bereaksi dengan berlebihan dan bahkan menjadi suatu gangguan dengan mudah sekali men-judge, menghakimi orang atau mereka itu dengan kata-kata munafik atau bahkan yang kebih ekstrim lagi,  berani menyebutnya dengan sebutan kafir.  Pede bangeuds yak 😀😇☕

Yah itu hak mereka sih. Jangan lupa,  dalam pandangan mereka yang berseberanganpun sebetulnya mereka bisa menyebut cupeters dan intruders itu sebagai munafik dan kafir (terutama karena telah berani mengambil hak Allah SWT yaitu menilai dan men-judge manusia lainnya – mereka telah menjadi ‘tuhan-tuhan kecil’). Tapi tentu kami tidak akan meniru langkah mereka yang sempit itu. Biarlah kita kasih kesempatan mereka untuk happy dengan sikapnya itu.  Insya Allah dengan sikap yang kami ambil ini,  akan menjadi good deeds, menjadi berpahala dimataNya,  dihadapanNya.  Insya Allah,  aamiin YRA.

Lets make a difference as it is.  Let it be like that.  Biarkan berhenti sampai di situ saja.  Youre free to choose your own way as I choose mine. Bisa kan kalau kalian begitu?

Memang diakui bahwa pilkada DKI memunculkan banyak hal-hal baru (dalam konteks negatif) terkait kehidupan beragama dan keberagamaan.  Termasuk pendapat-pendapat dalam memilih Gubernur – dari sudut pandang agama.

Kalau saya pribadi,  artikel di bawah ini, artikel Gus Ishom,  memperkuat banyakreferensi-referensi lainnya yang sudah saya yakini memiliki kebenaran tentang pendapat yang paralel dengan dasar-dasar yang disampaikan oleh Gus Ishom ini.

Berikut adalah artikel dimaksud.

PEMILIHAN GUBERNUR ITU URUSAN DUNIAWI

Oleh: Ahmad Ishomuddin

Sejak menjelang pesta rakyat untuk pemilihan gubernur DKI Jakarta, mendadak hampir semua orang tahu Qs.  al-Maidah ayat 51. Firman Allah tersebut dipaksa untuk masuk ke ranah politik, bahwa kata awliya’ itu monotafsir, hanya bermakna pemimpin. Celakanya yang dimaksud pemimpin adalah gubernur, dan kebetulan salah seorang calon gubernur DKI, Basuki Tjahaya Purnama  (Ahok) beragama Nasrani. Maka jadilah Qs. al-Maidah ayat 51 dijadikan sebagai dalil untuk pengharaman memilih calon gubernur non muslim itu. Padahal ayat tersebut, termasuk kata auliya’ jelas multi tafsir.  Kata awliya’ yang disebut dua kali dalam ayat tersebut di berbagai tafsir al-Qur’an berarti teman setia,  penolong, sekutu,  dan sebagainya. Sedangkan konteks turunnya ayat tersebut tidak ada kaitannya sama sekali dengan pemilihan pemimpin,  apalagi dikaitkan paksa dengan larangan/keharaman memilih calon gubernur non muslim.

Kita sebagai warga negara tidak perlu ragu bahwa NKRI bukan negara berdasarkan agama tertentu, melainkan negara berdasarkan konstitusi yang menyamaratakan hak-hak warga negara tanpa pengecualian,  tanpa diskriminasi. Adapun persoalan memilih gubernur adalah persoalan kebebasan berpolitik. Pilihlah yang menurut anda  terbaik, dan paling mampu mendatangkan kemaslahatan bagi seluruh rakyat. Tidak perlu saling cakar berebut benar. Tidak perlu bertikai,  saling menghinakan, bermusuhan,  dan apalagi saling menumpahkan darah. Tidak perlu menuduh orang yang berbeda dukungan politik sebagai munafik,  kafir, tidak beriman,  tidak boleh melaknati, mendoakan sesama muslim dengan doa-doa berisi keburukan sebagai intimidasi dan pasti masuk neraka. Hormatilah perbedaan dan bersikap santunlah karena itulah ajaran Islam yang sesungguhnya.

Memilih gubernur di Indonesia tidaklah sama dengan memilih imam shalat di masjid-masjid yang syaratnya harus beragama Islam. Memilih itu soal kebebasan menentukan mana yang terbaik dan paling bisa membawa masyarakat ke dalam kemaslahatan dan keadilan sosial. Bekerjasama antara muslim dan non muslim untuk mewujudkan kemaslahatan duniawiyah bersama tidak haram alias tidak dilarang oleh firman Allah dalam Qs.  al-Maidah ayat 51.

Ahmad Musthafa al-Maraghi dalam Tafsir al-Maraghi, Juz 6, halaman 136-137 setelah menjelaskan maksud firman Allah tersebut menyatakan,

ومن هذا تعلم أنه إذا وقعت الموالاة والمحالفة والمناصرة بين المختلفين في الدين لمصالح دنيوية لا تدخل في النهي الذي في الآية كما إذا حالف المسلمون أمة غير مسلمة على أمة مثلها لاتفاق مصلحة المسلمين مع مصلحتها فمثل هذا لا يكون محظورا

“Dari sini anda tahu bahwa bila terjadi kerjasama,  saling bersekutu,  dan saling tolong menolong antara orang yang berbeda agama karena kemaslahatan duniawi, maka itu semua tidak masuk dalam larangan yang ada pada ayat ini (Qs. al-Maidah ayat 51). Sebagaimana apabila para muslim bersekutu dengan non muslim untuk mengalahkan umat yang semisalnya karena ada kesamaan maslahat kaum muslim dengan kemaslahatan non muslim,  maka yang semisal ini tidak boleh dilarang (tidak haram)”.

Pernyataan senada di atas juga dikemukakan oleh al-Syaikh Muhammad al-Amin bin Abdullah al-Harari al-Syafi’i dalam Tafsir Hadaiq al-Ruh wa al-Raihan fi Rawabiy ‘Ulum al-Qur’an, jilid 7, halaman 342.

Umat Islam boleh bekerjasama dengan siapa pun non muslim,  termasuk jika ia terpilih menjadi gubernur, untuk mewujudkan kemaslahatan duniawi bersama.

Semoga pilkada DKI Jakarta berlangsung sukses dan damai. Amin.

(catatan: sumber foto: suarasulutnews.co.id)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s