Ketika seorang jurnalis terperangkap dalam teror yang mencekam (when a journalist was trapped in a dramatic terror situation)


teroris

Pagi ini saya membaca kisah saksi mata penembakan duta besar Rusia di Turki – mendiang Andrei Karlov (62 tahun) di sebuah pembukaan pameran foto di Ankara, Turki pada tanggal 19 Desember 2016. Saksi mata tersebut bernama Burhan Ozbilici, seorang fotografer, seorang jurnalis. Kisahnya itu dimuat di weblog Associated Press.

Burhan hadir di acara tersebut tidak direncanakan. Ia hadir hanya karena letak diadakan pameran foto itu dilewati jalan pulangnya dari kantor ke rumah. Hanya karena ia adalah seorang fotografer jurnalis, ia tertarik untuk hadir.

Saat ia tiba di lokasi pameran foto, Dubes Rusia tersebut sedang memberikan sambutannya. Pameran foto yang bertajuk ‘From Kaliningrad to Kamchatka, from the eyes of travelers (Dari Kaliningrad ke Kamchatka, dari pengamatan para petualang-petualang)’ berisi foto-foto hasil para ‘travelers’ tersebut.

Ia pun sempat mengambil beberapa foto duta besar yang sedang memberikan sambutan – bukan untuk sebagai bagian dari kegiatan pembukaan pameran tersebut, karena ia sedang tidak meliput, tetapi fotonya itu diharapkan dapat menjadi bagian dari berita yang akan ditulisnya kelak tentang hubungan antara Rusia dan Turki.

Tiba-tiba terdengar tembakan, yang menurut pengamatannya berjumlah seluruhnya sekitar 8 (delapan) kali tembakan. Kemudian terlihat sang Duta Besar jatuh terlentang tidak bergerak lagi, sementara sang penembak duta besar itu, sebelum menembak, sempat meneriakkan kata-kata,”Don’t forget Aleppo! Don’t forget Syria (Jangan lupakan Aleppo, jangan lupakan Suriah).” Terdengar pula setelahnya teriakan “Allahu Akbar” serta beberapa ucapan lain dalam bahasa Arab, yang tidak dimengerti artinya oleh Burhan.

Saat mendengar tembakan pertama, ia seperti tidak tahu apa yang harus dilakukan. Burhan bingung dan kepanikan melanda dirinya serta pengunjung yang lain, mencari tempat perlindunganlah yang diutamakan. Ada yang bertiarap, lari ke luar ruangan dan lain sebagainya. Buhan berlindung di dinding di belakangnya. Namun, karena jarak petembak Duta Besar dengan dirinya sangat dekat, ia dapat melihat dengan jelas apa yang terjadi dihadapannya itu. Bersyukur ia dapat mengatasi kepanikannya dengan cepat dan kemudian tersadar bahwa ia adalah seorang jurnalis. Pikiran ini pun muncul di pikirannya, “I am here, even if I get hit and injured, or killed. I am a journalist. I have to do my work. I could run away without making any photos. But I wouldn’t have a proper answer if people later ask me: ‘why didn’t you take pictures?'”

Arti dari kalimat dalam pikirannya itu kira-kira seperti ini, “Saya sudah berada di sini sekarang ini, sekalipun saya akan nantinya tertembak, terluka atau bahkan terbunuh, saya adalah seorang jurnalis. Saya harus melakukan tugas saya (sebagai jurnalis). Saya dapat saja lari kabur tanpa harus mengambil sebuah foto pun. Tapi saya nantinya tidak akan dapat memberikan jawaban yang tepat bila orang-orang kemudian bertanya nanti: ‘mengapa saya tidak mengambil satu foto pun (dari kejadian tersebut)?'”

Ia pun kemudian mengambil beberapa foto di balik dinding perlindungannya serta di tengah-tengah penembak yang kalap berteriak-teriak sambil menjatuhkan foto-foto yang sedang dipamerkan tersebut.

Terorisnya sangat mengagetkan (saya sebut teroris karena ia menebar teror di acara pembukaan pameran foto tersebut), karena ia adalah seorang anggota Kepolisian Turki – yang rupanya termasuk bersumbu pendek dan terpengaruh oleh apa yang ia dengar dan lihat terkait Aleppo dan Suriah.

Sehingga melihat bahwa sang Dubes tersebut walau tidak terkait langsung, ia adalah merepresentasikan negara Rusia yang dalam pemahamannya merupakan pihak yang bertanggung jawab atas apa yang terjadi di kedua tempat yang ia teriakkan saat menembak mati sang Dubes.

Sayang bapak Duta Besar itu tidak terselamatkan nyawanya. Ia meninggal dalam perjalanannya ke rumah sakit. Kami turut berduka cita atas terjadinya peristiwa tersebut.

Terlepas dari kejadian yang memilukan yang terjadi di Angkara Turki tersebut, Burhan memberikan contoh bagi para jurnalis – termasuk di sini adalah para citizen journalist (yah semacam Kompasianer-kompasianer dan blogger-bloggerlah) tentang beberapa hal, di antaranya:

1. Kepekaan akan nilai berita. Burhan memahami betul bahwa dirinya adalah seorang fotografer yang jurnalis, sehingga saat berada dalam situasi tersebut, kepekaannya akan situasi yang terjadi serta ‘nalurinya’ sebagai seorang jurnalis muncul. Apa yang sedang terjadi di sekelilingnya dan sedang disaksikan di depan matanya itu memiliki nilai ‘berita’ yang tinggi untuk disebar-luaskan dan kemudian iapun tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut.

2. Ketenangan dan kehati-hatian. Saat menyadari bahwa penembakan tersebut sudah termasuk kejadian yang ‘membahayakan’, walaupun sempat panik, tapi ia segera menepis kepanikannya itu dan mencari posisi yang aman, sambil terus menjepretkan kameranya. Sikapnya ini membuat ia dapat memperoleh angle atau sudut pengambilan foto yang bagus tanpa harus nekad menerobos bahaya. Bila dilihat dalam berita yang ia tulis, maka nampak bahwa posisi Burhan adalah berada di sekitar bagian depan teroris tersebut.

3. Cermat, teliti dan detail. Dalam posisi dan situasi yang demikian, ia tentu tidak dapat melakukan fungsinya secara prosedural, Misalnya mencatat secara detail apa yang ia dengar, lihat dan rasakan. Tentu mengandalkan pencatatan di ‘kepalanya’ untuk merekam apa yang ia saksikan tersebut. Sehingga saat ia menuliskan kembali menjadi sebuah berita, dapat benar-benar menggambarkan apa yang terjadi saat itu.

Demikian pula dengan foto-foto yang diperolehnya, cukup dapat menggambarkan apa yang ingin diketahui pembacanya. Bila kita melihat foto-foto yang diperolehnya, kita tidak akan mempercayai bahwa hal itu berdasarkan kejadian sesungguhnya, karena sangat ‘hidup’. Sikap untuk dapat cermat, teliti dan detail tentu bukan keahlian yang dapat segera diperoleh, tetapi memerlukan keahlian yang perlu diasah terus-menerus.

4. Cepat ditulis dan diberitakan. Burhan sepertinya menerapkan prinsip keep writing, apapun situasi dan kondisi yang dihadapinya dan ia menerapkan pula prinsip quick writing & reporting sehingga ia dapat menyajikan informasi-informasi penting (berita dan foto-fotonya) dari kejadian tersebut sesegera mungkin, sehingga apa yang ditulisnya menjadi sumber utama bagi kita untuk mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi di seputar penembakan tersebut.

Hal ini (kecepatan dan keakuratan penulisan) dapat memberikan nilai lebih terhadap berita yang disajikan. Saya akui, hal ini adalah hal yang terberat bagi saya selaku Kompasianer, yaitu sesegera menuliskan serta memposting tulisan yang sifatnya reportasi/liputan.

Mungkin karena alasan pekerjaan lain (walau sebenarnya termasuk alasan yang klise yah hehehe). Ingin sekali menyajikan dan memposting sesegera mungkin, tapi biasanya sempat tertunda beberapa waktu sebelum saya mempostingnya. Kecepatan dalam memposting juga memberikan nilai lebih kepada berita tersebut, termasuk dapat menghindarkan kita dari potensi menyajikan berita yang ‘basi.’

5. Prinsip ready for use. Belajar dari Burhan, sang jurnalis perekam berita penembakan di pameran foto tersebut, prinsip ready for use nampaknya sudah tertanam di sanubarinya, yaitu bahwa ia, sebagai jurnalis, harus siap ‘merekam’ dan ‘mencatat obyek, kejadian dan lain-lain yang memiliki ‘nilai berita.’

Seperti yang dicontohkannya, dengan prinsip tersebut, ia terus merekam kejadian yang dilihat dan dialaminya itu melalui kamera yang dibawanya serta pencatatan detail di memory-nya. Mungkin kitapun dapat mencontoh dengan selalu mempersiapkan kamera (yang ready selalu bersama-sama kita minimal kamera HP) dan pencatatan detail kejadian – bisa dengan hanya melalui daya ingat kita ataupun menyiapkan notes kecil sebagai tempat kita mencatat detail yang akan kita tuangkan nantinya ke dalam tulisan.

Lima hal di atas yang menurut saya dapat saya rangkum dari apa yang Burhan – sang jurnalis tersebut teladankan kepada kita melalui pengalamannya itu yang dapat kita pelajari untuk pembelajaran kita sebagai seorang jurnalis warga, seorang kompasianer ataupun blogger didalam melakukan reportase warga.

Semoga bermanfaat.

@kangbugi

(Sumber foto: picswalls.com)

Selengkapnya (dimuat juga di): http://www.kompasiana.com/bugisumirat/ketika-seorang-jurnalis-terperangkap-dalam-suasana-teror-yang-mencekam_585a26087097734214925952

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s