Bung Karno: kita bukan bangsa lebay

Soekarno

Soekarno

Akhir-akhir ini beredar digroup whatsapp dan beberapa milis yang saya ikuti postingan yang berjudul: Bung Karno bangkit dari kubur…. semacam dialog imaginer antara yang memposting tulisan itu dengan mendiang Bung Karno.

Isi lengkapnya sebagai berikut:

Bung Karno bangkit dari kubur

Dia haus ingin minum 

Kusuguhkan air mineral

Dia hanya bingung tak mau minum

Karena tanah airnya tinggal tanah, sedang airnya milik Perancis sudah

Kuseduhkan segelas teh celup

Dia hanya termenung tak mau minum

Karena kebun tehnya tinggal kebun, lahan tebunya tinggal lahan, gulanya milik Malaysia, tehnya Inggris yang punya

Lalu ku bukakan susu kaleng

Bung Karno hanya menggeleng

Kandang sapinya tinggal kandang, sedang sapinya milik Selandia, Diperah Swiss dan Belanda

Bung Karno bangkit dari kubur

dia lapar ingin sarapan

Kuhidangkan nasi putih, Dia tak mau makan hanya bersedih

Karena sawanya tinggal sawah. Lumbung padinya tinggal lumbung. Padinya milik vietnam. Berasnya milik Thailand.

Kusulutkan sebatang rokok

Dia menggeleng tak mau merokok

Tembakau memang miliknya. Cengkehnya dari kebunnya. Tapi pabriknya milik Amerika

Bung Karno bingung bertanya2:

Sabun, pasta gigi kenapa Inggris yang punya, Toko2 milik Prancis dan Malaysia Alat komunikasi punya Qatar dan Singapura Mesin dan perabotan rumah tangga Kenapa dikuasai Jepang, Korea dan Cina

Bung Karno tersungkur ke tanah

Hatinya sakit teriris iris

Setelah tau emasnya dikeruk habis, Setalah tau minyaknya dirampok iblis

Bung Karno menangis darah

Indonesia kembali terjajah, Indonesia telah melupakan sejarah … INDONESIA

Ehmehm … postingan tersebut di atas kemudian saya beri opini sebagai berikut:

Untuk sebuah era saat ini yang namanya era globalisasi, dengan perdagangan bebas seluas-luasnya, hal-hal seperti dalam postingan itu merupakan suatu keniscayaan. 

Justru menurut saya, menurut saya lho ya, kita perlu menghadapinya bukan dengan keluh kesah, tapi dengan strategi yang jitu untuk menghadapi masa atau era dimana memang kita tidak bisa menghindari fenomena-fenomena yang terjadi di era tersebut. 

Sehingga tulisan tersebut SEHARUSNYA tidak berhenti di situ – apalagi kalau mau mrepresentasikan tulisan itu dengan ikon Bung Karno. 

Melihat karakter dan tabiat Bung Karno, presiden RI pertama itu, maka harusnya ceritanya berlanjut menjadi kira-kira seperti ini … dengan semacam dialog imaginer pula dengan mendiang: 

Bung Karno, setelah bangkit dan walau pernah beberapa kali tersungkur, mencoba merenung dalam diam, seperti yang dulu ia biasa lakukan hingga tercetusnya Pancasila dulu itu, di bawah pohon rindang, dimalam yang dingin.

Ia kemudian menorehkan buah pikirannya dalam kertas-kertas bersampul rapi, agar kelak bisa dibaca generasi-generasi berikutnya.

Bangsa Indonesia, walau saya sudah terkubur, tidak boleh lebay – hanya penuh dengan keluh kesah,

kalian harus bangkit dimasa yang kalian tidak bisa hindari ini,

dimana dunia saling bersaling-silang,

dimana informasi bisa melesat lebih cepat dari busur panah, 

dimana ilmu pengetahuan tersebar keluasan lautan, 

Kalian harus rebut itu dengan melebihi kearoganan mereka,

Kalian harus rebut itu dengan melebihi kecepatan mereka, 

Kalian harus rebut itu dengan melebihi keberanian mereka, 

Kalian harus rebut itu dengan melebihi kecerdasan dan kepintaran mereka,

Rebut semua itu dengan menguasai bahasa-bahasa asing, 

Rebut semua itu dengan menguasai ilmu-ilmu pengetahuan, 

Rebut itu dengan menguasai ilmu perdagangan, 

Rebut itu dengan menyebar diri ke seantero jagad,

Rebut itu dengan memperbanyak membaca dan menulis, sebarkan, agar mereka mengenal siapa kalian,  

Rebut itu dengan segala daya kemampuan kalian,

Aku yakin seyakin-yakinnya, kalian bisa merebut semuanya sehingga menjadi Indonesia yang benar-benar jaya nan gemah ripah loh jinawi,

melebihi aku,

melebihi pendahulu-pendahulu kalian, 

Merdeka!!!”

Begitu mungkin gambaran Bung Karno yang saya pahami jikalau ia bangkit dari kuburnya di zaman kiwari ini. 

Jadi melihat postingan yang dishare itu, betapa lebaynya Bung Karno, ko sepertinya ga Bung Karno banget ya. 

Jadi, jangan juga kita melemahkan diri dan melebaykan diri hingga kita justru menjadi warga bangsa yang mempertanyakan dimana kebanggaan kita menjadi bangsa  yang besar ini? 

Romantis boleh (seperti dalam foto – karena bung Karno juga kan orang yang romantis) tapi lebay jangan ah ….

 

Makassar, 23 Agustus 2016

@Kangbugi

[Sumber foto: merdeka.com]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s