Anak mandiri, itu harus

sahabatorangtuadananakdotcom

Header3

Saya agak terkesan sewaktu mendengar celoteh ibu-ibu ibunya teman-teman anak saya (Ghia) di SD (Ghia saat ini berada di kelas satu SD BBS – Dramaga Bogor –  baru saja naik ke kelas dua) yang melihat Ghia pergi ke Kidzania dengan teman-temannya, tanpa didampingi ibunya. Sementara sebagian anak-anak lain didampingi orang tuanya walau orang tuanya, pun, hanya menunggu di luar, karena tidak diperbolehkan masuk ke areal permainan (demikian peraturan di Kidzania).

Menurut mereka, yang disampaikan ke istri saya, Ghia nampak mandiri sekali, misalnya pada saat di Kidzania:

– Ghia tampak tidak canggung kesana kemari sendiri, tanpa bergantung kepada teman-teman lainnya,

– sewaktu akan sholat, Ghia terlihat dengan tertib merapikan posisi sepatu, memasukkan kaos kaki ke dalam sepatu, menempatkan tas pada tempatnya, berwudlu dengan tertib dan seterusnya,

– pada saat makan terlihat tertib dan sudah sangat biasa untuk makan sendiri,

– dan lain sebagainya.

Walau merasa tidak ada yang aneh ataupun istimewa tentang apa yang dicelotehkan para ibu di atas dan tidak bermaksud membanggakan diri, karena itu semua masih proses, proses menuju Ghia dewasa yang kelak, insya Allah menjadi anak yang mandiri.

Tapi memang, kami sebagai orang-tuanya, sepakat untuk berusaha dapat membekali anak kami ini dengan kemampuan serta keterampilan agar kelak Ghia dapat mandiri, tidak bergantung pada orang lain, tidak manjalah istilah na mah.

Ghia anak kami satu-satunya – kalau melihat faktor usia serta ‘lamanya’ Ghia baru terlahir ke dunia ini (Ghia lahir di usia pernikahan kami yang ke sebelas tahun), sangat berpotensi untuk menjadi anak yang manja.

Manja?

Yah, misalnya saja apa-apa minta dibantu, ditolongin, padahal bisa sendiri, dan lain-lain.

Saya masih sering menemukan, hingga kelas yang agak tinggi, masih disuapin, dipakaikan kaos kaki dan sepatu jika mau berangkat ke sekolah. Minum minta diambilkan, bekas main dibereskan orang lain, kamar berantakan … de el el …

Yang seperti di atas sih … nggak gue bingits deh. Sebagai orang tua, saya dan istri sepakat untuk tidak melakukan hal-hal seperti di atas (dan hal-hal lain yang sejenis), semata-mata untuk kebaikan anak itu sendiri nantinya, bukan kebaikan kami – orang-tuanya.

Di rumah, sekarang ini Ghia, yang sekarang sudah duduk di kelas 4 (empat) SD, diberi tanggung jawab untuk beberapa hal yang memang menjadi ‘domain’nya, seperti misalnya: mencuci dan mengganti air akuarium untuk ikan-ikan peliharaannya, mencuci koleksi topi-topi dan sepatu-sepatunya, membereskan/merapikan tempat tidurnya, meletakkan piring kotor bekas makannya dan kotoran-kotoran lain ke tempat sampah, menyiapkan buku yang akan dibawa ke sekolah, meletakkan sepatu dan barang-barang lain ke tempatnya, dan lain-lain.

Masih tentang yang mudah-mudah saja, yang mungkin dia lakukan sendiri. Termasuk dalam hal ini makan. Ghia sudah lama meninggalkan ‘masa suap-menyuapnya’. “Sudah besar kok makan aja minta disuapin.” Begitu biasanya kami katakan ke Ghia bila ia menginformasikan bila ada teman-temanntya yang ia lihat masih disuapin oleh orang tuanya. Kecuali kalau kondisi sakit, biasanya baru Ghia kami suapi.

Jadi teringat tulisan Kahlil Gibran seperti di bawah ini.

 

sahabatorangtuadananakdotcom
sahabatorangtuadananakdotcom

Kahlil Gibran:

Anakmu bukan anakmu

Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikiran tersendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

(Sumber Gambar patung anak memanah: sahabatorangtuadananak.com)

Berbekal pengertian seperti apa yang Kahlil Gibran katakan di atas, saya sependapat dengannya. Supaya anak saya bisa ‘lepas dari busurnya’ dengan baik, tiada lain yang harus ia lakukan, Ghia harus mandiri, supaya dapat berdiri di atas kaki sendiri, do it yourself merupakan salah satu bentuk kemandirian yang perlu dibiasakan.

Entah sampai kapan umur masih menetap di badan kami, orang-tuanya. Tentu tidak bisa terus-menerus mendampinginya.

Ghia, kami – orang tuamu, ingin dan berharap agar kamu kelak dapat mandiri, karena we love you so much.

Makassar, 10 Agustus 2016

@kangbugi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s