Sahabatku pergi, in memoriam bu Rully

Bersama bu Rully saat cerita2 tentang tongsis

image
Bersama bu Rully saat cerita2 tentang tongsis

Hari ini, Selasa 12 Januari 2016, media whatsapp saya ber-blink-blink. Dua berita masuk, isinya sama, mengabarkan bahwa sahabat saya dan keluarga, bu Rully – yang bernama lengkap Dra. Sri Rulliyati, MSc. binti Sutardi, meninggal dunia. Beliau meninggalkan dunia fana ini di RS PMI Bogor, pukul 09.30 WIB.
image

Innalillahi wa innailaihi raajiun. Ia telah kembali kepadaMu ya Allah, ya Rabb. Kembali ke pangkuanMu, ke haribaanMu.

Saya dan keluarga bersahabat dengan bu Rully dan suaminya, pak Muslich. Kalau saya sedang di Bogor, biasanya saya sempatkan untuk berkunjung ke kantornya, di kawasan Puslitbang Kehutanan di Gunung Batu. Sekedar bercengkerama bernostalgia – karena bu Rully dan pak Muslich pernah bertugas di Makassar, teman sekantor dan menjadi sahabat kami beberapa tahun yang sudah lalu. Di Gunung Batu, Pak Muslich berkantor di Lantai dasar, bu Rully di lantai 3.

Bu Ully, istri saya lebih senang memanggilnya dengan bu Ully, tanpa huruf R didepannya, lebih nyobat, begitu alasannya. Sementara Ghia, my only son, memanggilnya dengan wa Rully. Ghia senang kalau diajak mampir ke rumah wa Rully, karena bisa memandang ikan-ikan dan kura-kura di kolam di halaman depan rumahnya. Juga melihat burung-burung peliharaannya. Yang pasti, Ghia happy karena sering dapat buah tangan setelahnya.

Tidak mendengar kisah sakitnya, hanya gangguan di lutut yang sering saya dengar – yang menyulitkan almarhumah naik ke ruangannya beberapa lantai di atas. Hingga ruangan pak Muslich yang menjadi tempat ngobrol kalau kami ke sana. Kabar terakhir di penghujung bulan Desember 2015. Saat saya di Bogor, mendengar kabar sakitnya. Namun karena kondisinya menyebabkan bu Rully tidak bisa dijenguk. Jadi rencana menjengukpun batal. Walau penasaran ingin menjenguk, tapi kami cukup mendoakan dari jauh saja akhirnya.

Teringat akan waktu-waktu lampau. Saat beliau tinggal di Makassar. Pernah bermalam takbiran di rumahnya di kawasan Mandai – Maros. Ikut bantu-bantu bikin (menganyam) ketupat. Saat itu kali pertama saya membuat kulit ketupat – yang seingat saya, setelah masa itu, nggak pernah saya menganyam kulit ketupat lagi.

Saat lebaran tahun lalu, masih tentang ketupat. Almarhumah cukup peka ketika saya curcol soal ketupat yang waktu itu terlambat pesan. Ia dengan sigap langsung membagi ketupat miliknya yang kebetulan sudah siap hidang. Ghia yang langsung melonjak kegirangan.

Kemarinpun, saat Ghia diberitahu bundanya kalau wa Rully meninggal, ia berkomentar sedih,”wa Rully yang ada kolam ikannya itu bun? yang ada kura-kuranya kan? meninggal, bun? kasihan ya ….”

“Iya Ghia, wa Rully yang itu, sekarang sudah tenang kembali ke Allah.” Begitu timpal bundanya.

Istri saya menyebut bu Ully sebagai orang yang paling sabar sedunia. Memang sayapun banyak belajar sabar dan kesabaran darinya. Intensitas komunikasi terakhir dengan almarhumah banyak tercurah tentang akik. Bu Rully termasuk penggemar akik. Cukup banyak koleksinya. Beliau suka ‘pamer’ koleksi-koleksinya melalui BBM. Beberapa kali pula beliau menjadi ‘customer’ saya. Kebetulan saat musim akik yang lalu itu, saya ikut nimbrung bisnis akik, yang hasilnya cukup lumayan.

Kemurahan hatinya ia tunjukkan pula melalui perilaku memiliki akiknya. Ia tidak segan untuk memberikan koleksi yang dimilikinya kepada keluarga, teman maupun koleganya. Termasuk koleksi yang disayanginya. Pernah saat ia membeli akik yang cukup cantik dari saya, kemudian beberapa waktu kemudian almarhumah mau memesan akik yang persis sama dengan yang ia pesan itu. Saya sempat bingung karena kan akik, untuk yang bermotif, tidak ada yang persis sama. Ketika saya tanya memangnya kenapa dengan akik yang dulu dibeli dari saya itu. Jawabnya ringan, sudah dikasihkan kepada saudaranya.

Cerita seorang teman di kantor tadipun menunjukkan dirinya yang ringan tangan. Di tengah sakitnya, bu Rully masih membantu kegiatan penelitian salah seorang koleganya di Makassar. Bu Rully memang seorang ahli anatomi kayu di Badan Litbang Kehutanan. Tentu keahliannya sangat diperlukan dan sangat bermanfaat.

Dihari kepergiannya, alhamdulillah, istri saya dapat melayat ke rumah duka. Cukup banyak pelayat yang datang. Banyak pula yang terkejut akan kepergiannya itu yang terkesan tiba-tiba karena beberapa hari sebelumnya, salah satu keluarganya memposting foto-foto saat bu Rully di rumah sakit. Di situ ia tampak lebih segar dan kondisinya lebih baik.

Namun Allah SWT Maha Berkehendak, lebih tahu memilihkan mana yang terbaik untuk bu Rully menurutNya. Kita semua, terutama keluarganya, tidak lain kecuali menerima dan mengikhlaskannya.

Tidak ada yang tidak berduka disekeliling bu Rully hari ini.

Semoga almarhumah bu Rully khusnul khatimah. Al Fatihah. Aammiinn YRA.

Selamat jalan bu, selamat jalan sahabat ….

Makassar, 12 Januari 2016

@kangbugi

catatan:
– foto pertama koleksi pribadi
– foto kedua dari koleksi Facebook putrinya: Diyanatunnisa Izzatii

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s