Berpikir out of the box – itu nggak gampang


sumber: winterswin.com
sumber: winterswin.com

Out of the box, untuk mudahnya, artikan saja dengan berpikir di luar kotak. Berarti ada berpikirdi dalam kotak dong? Ya, ada dan itu yang membedakan.

Jokowi banyak mencontohkan bagamana implementasi dari berpikir (dan dengan tindakan nyata dari hasil luarannya) out of the box. Ahok pun demikian. Sebut nama lain seperti Walikota Bandung (Ridwan Kamil), Walikota Surabaya (bu Risma), Bupati Gorontalo, Wakil Gubernur DKI Jakarta (bp. Djarot), dan sepertinya masih banyak lainnya yang belum teridentifikasi & tidak disebut namanya disini.

Nama-nama diatas adalah yang sudah ‘beken’, masyarakat telah mengikuti rekam jejaknya, banyak ‘action’ nyatanya serta berkesan positif.

Kita semua dapat melihat, banyak di republik kita tercinta ini mereka yang memiliki jabatan sama dengan mereka yang saya sebut namanya di atas. Tapi kenapa mereka di atas ini menunjukkan nilai lebih? Karena mereka menggunakan cara berpikir dan bertindak yang out of the box.

Saya sebutkan perbandingan satu saja. Antara Jokowi dengan Gubernur DKI pendahulunya.

Sejak Jokowi, memimpin menjadi gubernur, terkuaklah banyak hal buruk di era sebelumnya. Dana yang terlalu fantastis tanpa kesetimbangan manfaat terhadap masyarakat (yang akhirnya dipangkas/tidak digunakan); jumlah staf yang terlalu banyak yang tidak sebanding dengan kinerja dan kebutuhan (yang akhirnya dikurangi dan disesuaikan); penempatan pejabat yang tidak sesuai (yang akhirnya banyak terjadi penyesuaian/mutasi) dan lain sebagainya.

Yang Jokowi tunjukkan adalah out of the box dari ‘box’ gubernur di era sebelum-sebelumnya.

Sehingga ketika Jokowi dapat menguak banyak hal, masyarakatpun berkomentar,”jadi, gubernur sebelumnya apa saja yang dikerjakan ya?”

Namun, tidak perlu menjadi pejabat dulu baru dapat berpikir out of the box. Diri kita, apapun profesi kita, dapat menggunakan alur pikir tersebut. Karena pada intinya, berpikir out of the box adalah berpikiryang berbeda dari yang lain (dalam konotasi positif), bukan berpikir dalam konteks yang selama ini dianggap umum. Dan itu tidak mudah. Memerlukan latihan dan kepekaan atas keadaan sekeliling yang memerlukan perhatian kita serta pemahaman kita akan kebutuhan orang lain. Bisa juga dianggap sebagai sense of crisis-lah.

Yang pasti, menurut saya, orang-orang yang berpikir out of the box adalah orang-orang yang kreatif dan berani. Karena apa? Karena orang-orang seperti ini memerlukan energi lebih untuk berpikir (untuk menghasilkan sesuatu yang kreatif) serta memerlukan keberanian untuk melakukan sesuatu yang berbeda (yang mempunyai nilai lebih), kadang-kadang hingga (dianggap) diluar kelaziman. Sehingga tantangannya akan menjadi lebih besar.

Lihat saja Jokowi, ketika dicibir dan dikritik habis-habisan karena blusukan-nya, dianggap banyak membuang waktu dengan lebih banyak berada di luar kantor. Padahal, dengan blusukan, menurut Jokowi, ia mendapatkan informasi yang bersifat ‘first hand information’. Bukan melulu informasi yang berasal dari bawahannya. Bukan melulu informasi yang bersifat ABS (asal bapak senang). Sehingga kemudian bbrp ‘tentangan’ pun muncul dari bawahannya yang sudah biasa bersikap mengikuti pola ABS tersebut karena mereka menjadi kewalahan pula mengikuti model blusukan Jokowi.

Contoh kecil di sebuah kantor kecil, ketika seorang staf ingin menerapkan pola pikir out of the box – karena diluar kelaziman, reaksi yang muncul adalah:
“Wah anda frontal tuh, sebaiknya kita tidak frontal.”
“Maunya bos sudah begitu, sebaiknya kita turuti saja, toh resiko nanti bos yang tanggung.”
Dan lain sebagainya.

Lebih mudah bagi seorang leader untuk menerapkan pola pikir out of the box dibandingkan dengan mereka yang dalam pola level staf, karena kemudahannya dalam mengeksekusi aksi.

Tapi itulah tantangannya. Jangan gentar berpikir out of the box, karena disitulah hakekat kemanusiaan kita yaitu berpikir merdeka dan merdeka berpikir.

Minimal diterapkan untuk kebaikan diri sendiri.

Salam berpikir out of the box, salam berpikir kreatif dan salam berani.

@kangbugi

(sumber foto: winterswin.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s