‘yang penting hepi’ di warung kopi


Klepas klepus rokok

Dimana-mana sekarang banyak tempat cukup baik untuk menikmati kopi. Warkop (warung kopi) atau café yang mudah didapat dan cukup terjangkau harganya.

Satu masalah yang sering saya dapati membuat tidak nyaman saat ngopi, adalah asap rokok. Yang lainnya, boleh dibilang fine-fine aja.

Klepas-klepus orang mengepulkan asap rokok di kiri kanan meja tempat kita ngopi itu, tanpa (mau) tahu apakah disekitarnya perokok semua? Apakah disekitarnya menikmati asap rokok hasil klepas-klepusnya itu? Apakah sekitarnya itu terganggu asap rokok mereka? Apakah asap rokoknya kelak akan menimbulkan penyakit karena membuat mereka menjadi perokok-perokok pasif? Nggak tuh. Mereka cuek-cuek saja. Malah mungkin mereka berpikir, “salah lo sendiri, dateng ke sini.”

Pemilik atau pengelola warkop tidak juga ‘berpihak‘ kepada mereka yang tidak merokok, yang terganggu dengan asap-asap itu. Yang sama-sama membayar tetapi terkurangi hak-nya untuk tidak menghirup asap rokok. Mereka, pengelola-pengelola itu tidak memisahkan yang perokok dengan yang bukan perokok. Mereka, pengelola-pengelola itu tidak menyediakan areal untuk merokok – bagi perokok, sehingga semuanya bercampur baur. Mereka, pengelola-pengelola itu juga tidak melarang mereka merokok didalam cafenya, didalam warkopnya.

“Ya kaburlah mereka, para pelanggan-pelanggan itu.” Begitu alasan utama mereka jika dilarang merokok diterapkan atau dipisahkan tempat antara yang merokok dan tidak.

Atas nama keuntungan, lenyap rasa bersalah itu. Rasa bersalah karena tidak berlaku adil antara perokok dengan non perokok. Rasa bersalah atas diskriminasi, perokok lebih diutamakan dibanding yang non perokok. Rasa bersalah atas ketidak pedulian perokok terhadap kepentingan non perokok.

Atas nama ego, hilang rasa bersalah itu. Diri menjadi tidak peka. Tidak peka terhadap kepentingan orang lain. Tidak peka terhadap kerugian orang lain. Peka saja tidak, apalagi rasa bersalah.

Persis seperti sebuah iklan rokok yang sering ditayangkan di televisi,”yang penting hepi.”

Oh kepekaan itu. Oh rasa bersalah itu. Semoga tetap menjadi salah satu bagian dalam diriku.

Makassar, 22 Desember 2014

@kangbugi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s