Memelihara anak seperti memelihara anak anjing?


an innocent little puppy
an innocent little puppy

Sahabat saya semasa di kampus pasca dulu di Australia, sebut saja Robyn, selalu tertarik untuk tahu tentang perkembangan Ghia (Ghia adalah my only son, sekarang berusia delapan tahun, tapi pada saat itu berusia sekitar dua tahunan). Menurut Robyn,”Bugi, buat kami di Australia sini, memiliki keyakinan bahwa punya anak itu seperti punya anak anjing (puppy). Memelihara anak itu seperti memelihara anak anjing.”

Wah, kaget juga mendengarnya. Anak manusia kok disamakan dengan anak anjing. Melihara anak kok disamakan dengan melihara anak anjing, dimana samanya? Apalagi seumur-umur belum pernah pelihara (anak) anjing.

Saya mencoba memahami ‘kultur anjing’ di Australia dan ‘I got it‘. Saya mulai mengerti filosofinya.

Anjing, di Australia dan mungkin di belahan lain western country, sudah menjadi bagian dari keluarga. Part of their family. Bagian dari keluarga besarnya. Rasa sayang mereka kepada anjing sama seperti rasa sayang mereka kepada anak mereka. Mereka melihat anjing seperti ‘manusia hanya berwujud hewan.’ Demikian pula menurut mereka, anjing adalah hewan yang paling setia kepada tuannya.

Banyak cerita bagaimana anjing menunjukkan kesetian kepada tuan atau pemiliknya. Salah satunya adalah kisah anjing setia Hachiko di Jepang. Anjing ini menunggu tuannya pulang di depan stasiun kereta api tempat ia biasa mengantar dan menjemput tuannya pergi dan pulang kerja. Padahal tuannya sudah meninggal. Anjing itu tetap melakukan rutinitasnya, berharap tuannya akan muncul. Patung anjing itupun kemudian didirikan di depan stasiun kereta api tersebut.

Anak anjing (puppy) berpolah semaunya khas anak anjing. Kadang lucu, kadang menjengkelkan (baca: menggemaskan), tapi, bagaimanapun polah mereka, mereka akan selalu terlihat lucu, dimata pemiliknya, dimata tuannya.

Kesan itu yang muncul dari penjelasan Robyn. Ketika anak anjing menyalak saat tuannya datang, kalau tuannya TIDAK MENGERTI, kesannya gonggongan anjing itu mengganggu. Padahal ia sedang ‘menyambut’ kedatangan tuannya.

Ketika anak anjing menggigit celana tuannya, kalau tuannya TIDAK MENGERTI, dikira akan merusak celana tuannya. Padahal si anak anjing tersebut sedang akan mengajak tuannya bermain-main.

Ketika anak anjing tidak mau berhenti berputar-putar disekitar tuannya, kalau tuannya TIDAK MENGERTI, anak anjing tersebut akan selalu terlihat merepotkan tuannya dan TIDAK ‘BEHAVE’ seperti anjing dewasa yang sudah dididik untuk jadi anjing yang penurut. Padahal, sekali lagi, si anak anjing itu cuma mau mengajak tuannya bermain-main.

Dalam posisi ini, si tuan diminta untuk mengerti dan menyesuaikan cara pandangnya. It’s only a puppy and what they’re doing is (always) for funny things not a serious matter. Ya, mereka cuma anak anjing, masih memerlukan proses pelatihan untuk menjadi seekor anjing dewasa yang BEHAVE.

Dengan cara pandang itu, si tuan tidak akan melihat anak anjing bukan sebagai suatu yang tidak BEHAVE, tapi sebagai sesuatu yang lucu, fun, dan hanya punya tujuan bermain-main.

Bahkan, masih menurut Robyn, kalau si puppy ini (maaf) buang air besar bukan pada tempatnya pun, masih di-excuse sama tuannya, “it’s only a puppy“, begitu rata-rata pendapatnya. Ia masih dalam proses belajar dan berlatih segala hal yang diberikan oleh tuannya. Tuannya hanya perlu melatihnya secara benar.Dalam proses pelatihan ini tidak selalu berjalan mulus, kadang berperilaku seperti latihan yang sudah diberikan, kadang tidak. “It doesn’t matter. It’s a kind of process.” begitu menurut Robyn.

Sekarang kalau kita sandingkan dengan mendidik anak. Robyn, dan mereka yang setuju dengan pendapat yang Robyn katakan, perlu melihat dari sudut yang berbeda. Sudut itu adalah sudut pandang anak, bukan sudut pandang dewasa. Seperti tuan melihat perilaku anak anjing itu.

I learned one thing from you, Robyn.

Apapun perilaku anak adalah ‘full with fun‘. Main – dunia mereka adalah dunia main. Mereka merasa semua adalah bagian dari dunia main-mainnya. That’s all. Peran kaum dewasa adalah memberikan pelajaran, pendidikan dan tauladan dengan menyingkronkan dengan dunianya, yaitu main – bermain.

Belajar membaca, bisa disampaikan sambil bermain-main.

Belajar menggambar, bisa disampaikan sambil bermain-main.

Belajar makan dengan benar, bisa diajarkan sambil bermain-main.

Belajar mengenal nama-nama hewan, bisa diajarkan sambil bermain-main.

Dan banyak lagi, dan banyak lagi yang bisa disampaikan, diajarkan sambil bermain-main.

Beranjak dengan bergeraknya usia semakin besar, porsi penyampaian, pengajaran bisa disesuaikan. Dikurangi bermain-mainnya dengan diperbanyak materi non-bermainnya. Ini perlu ‘sense of childhood‘. Pendekatan untuk setiap anak tidak sama. Hal ini perlu pengalaman dan praktik. TIDAK CUKUP hanya teori tanpa praktik.

Kemudian saya teringat ucapan Ms. Kerry, guru playgroup Ghia di Albury Community Centre, Australia. “Every child is unique.” begitu ujar Kerry. Kerry mengatakan hal ini saat mengomentari hasil pekerjaan anak-anak playgroup (prakarya). Saat itu menjelang Christmas, setiap siswa diberikan sehelai kertas seukuran kartu pos, untuk diwarnai sebagai Christmas card – menggunakan crayon yang disediakan – yang kemudian akan ditempel di tembok kelas. Ghia, yang saat itu berusia sekitar tiga tahunpun diberi sehelai kertas tersebut. Saat itu Ghia hanya mengambil kertas itu dan mengambil crayon berwarna biru. Ghia hanya mencoretkan satu garis melintang, dari sudut kanan atas ke bagian tengah kertas. Itu saja, kemudian ia tinggal kertas itu di atas meja dan pergi mencari permainan lain. Tidak melanjutkan pekerjaannya. Sementara anak-anak lain kebanyakan melanjutkan menggambar dan mewarnai kertas itu.

Saat itu saya mengamati dan ingin meminta Ghia kembali mengerjakan tugas tersebut. Tapi rupanya Kerry mengamati gerak-gerik saya dan tahu maksud saya. Iapun kemudian berkata,”No, Bugi, biarkan saja, biarkan Ghia memilih yang ingin dia lakukan. Christmas card ini sudah cukup sebagai hasil prakaryanya.”

Kemudian, Kerry pun mengambil Christmas card tersebut dan menuliskan nama Ghia di sudut kanan bawah (karena saat itu Ghia belum bisa menuliskan namanya sendiri) dan menempelkan card itu di tembok kelas. Walau hanya sebuah garis melintang didalam card itu.

Ketika saya tanyakan mengapa Ghia tidak perlu melanjutkan prakaryanya, Kerry menegaskan kembali bahwa setiap anak itu ‘unique‘ dan tidak perlu ada penyeragaman. Kalau anaknya tidak mau, tidak perlu dipaksa. Pemaksaan itu justru akan menjadi hal yang kontra produktif. Dalam hal gambar itu, Ghia ya seperti itu.

I learned one thing also from you, Kerry.

Kemudian saya teringat kisah istri saya, Mia tentang teman seangkatannya di kampus Unas, Dyah. Saat itu (Oktober 2014) Mia menghadiri reuni kampus di kampus Unas, Pejaten – Pasar Minggu. Saat itu Ghia diajak ikut menghadiri reuni itu. Sepulang dari Reuni, Mia ikut kendaraan Dyah sampai stasiun kereta api Pasar Minggu – untuk naik commuter line ke Bogor. Di perjalanan, Ghia mulai cranky, “aku nggak mau ke stasiun Pasar Minggu, aku maunya ke stasiun Kalibata.” begitu teriaknya. Beberapa kalimatnya kemudian, “aku mau ke AW dulu, aku mau rootbeer float dulu, baru ke Bogor.” Dan kata-kata rewel lainnya.

Dyah, kadang menimpali,”iya Ghia, tante Dyah ke Kalibata deh, tapi kalau nggak macet ya, kalau macet, kita ke pasar Minggu. Iya Ghia, kita nanti mampir ke AW ya, tapi kalau kita lewat AW.” Dyah tetap mengambil arah ke stasiun Pasar Minggu, karena stasiun itulah yang terdekat, dan tidak ada AW yang terlewati, sehingga tidak mampir ke AW. Sambil tetap menyetir kendaraannya, Dyah mengatakan sambil berbisik kepada Mia,”Teh (teteh, sebutan kakak untuk perempuan Sunda), Ghia ngantuk tuh, jadi mulai rewel dia. Seperti anak-anak aku juga. Kalau sudah mulai rewel begitu, itu artinya mulai ngantuk, lelah, tidak nyaman atau bosan. Malah anak bungsuku, kalau rewel lebih parah, bisa sambil guling-guling di lantai.”

Mia hanya mengiakan, karena Miapun menyadari kalau Ghia sepertinya sudah memiliki gabungan kesemuanya: ya lelah, ya bosan, ya ngantuk. Dan itu betul. Tidak lama setelah duduk di commuter line, Ghiapun tertidur pulas.

Tante Dyah mengerti, karena ia sudah punya pengalaman dan pengalaman-pengalaman itu yang kemudian membuat tante Dyah memahami mengapa seorang anak menjadi rewel, cranky, dan sejenisnya. Ada alasan anak itu berperilaku demikian, hanya saja seringkali anak tidak dapat mengekspresikannya secara proporsional.

I learned one more thing also from you, tante Dyah.

Kemudian saya teringat artikel yang saya unggah di laman Facebook saya. Tentang ‘berbicara dengan anak, bukan kepada anak‘ (linknya: http://www.islampos.com/berbicaralah-dengan-anak-bukan-kepada-anak-115170/). Dalam artikel tersebut terdapat perbedaan antara berbicara dengan anak dengan metode yang berbeda dapat menghasilkan hasil yang berbeda secara signifikan.

Disini, perlu pemahaman orang tua/dewasa untuk MENGERTI ‘bahasa anak’ bukan melulu menuntut anak mengerti ‘bahasa orang dewasa’. Kombinasi pengetahuan ini dapat menghasilkan komunikasi yang lebih efektif antara orang tua/dewasa dengan anak-anak.

I learned one more thing again from that article.

Saya setuju dengan Robyn (walau tidak mau menggunakan adagium yang persis sama), saya setuju dengan Ms. Kerry, saya setuju dengan tante Dyah dan saya setuju dengan artikel tersebut. Karena kita sedang melakukan pendidikan terhadap seorang manusia kecil. Bukan menciptakan robot-robot yang hanya bisa menjadi penurut untuk membuat nyaman orang tuanya.

Kita perlu masuk ke dunia anak untuk berkomunikasi dengan anak-anak untuk hasil yang efektif.

Kita perlu menyelami alasan-alasan anak sehingga kita dapat mengetahui mengapa anak bersikap demikian.

Kita perlu memahami bahwa setiap anak itu adalah unik sehingga tidak melakukan generalisasi ataupun membandingkan dengan anak-anak yang lain.

Kita perlu memahami keunikan setiap anak untuk memberikan pendekatan yang disesuaikan dengan keunikan anak itu.

Kita perlu menyadari bahwa pendekatan yang kita lakukan terhadap anak, akan berpengaruh pula dalam proses pembelajaran yang dialami si anak tersebut.

Kita perlu menyadari pentingnya proses dalam sistem pembelajaran, tidak hanya berpaku kepada hasil akhir.

Kita perlu lebih dewasa lagi dalam melihat perilaku anak secara utuh tanpa cepat mengambil kesimpulan tanpa didukung alasan yang jelas. Dengan kata lain, kita perlu selalu ber-positive thinking terhadap anak, agar anakpun dapat bersikap positif.

Dunia anak penuh misteri. Walau mereka harus terus belajar. “They are only puppies”. Seperti kata Robyn. Kita yang perlu menyesuaikan – in some extent.

Ah, ternyata kitapun masih perlu banyak belajar, menguak misteri anak-anak, bukan hanya mereka, anak-anak itu, yang dituntut untuk belajar.

I love you my son, I love you – my little puppy.

@kangbugi

[sumber gambar:  http://onin.london/puppy-mummy/%5D

Dimuat pula disini: http://edukasi.kompasiana.com/2014/12/11/memelihara-anak-seperti-memelihara-anak-anjing-691437.html

1 Comment

  1. Reblogged this on bundaghia's Blog and commented:
    Postingan pertama ini tulisannya my hubby yang di posting di websitenya: bugisumirat.wordpress.com. Saya setuju dengan isi tulisannya dan itu berdasarkan pengalaman kami. Kami merasakan manfaat terhadap pola pikir kami dan semoga bermanfaat untuk yang lainnya juga.
    Selamat menikmati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s