Cita-cita, seperti sungai yang mengalir

Cita-cita

Cita-cita

saya memilih hidup seperti sungai yang mengalirlive like a flowing river. Sepertinya itu adalah sebuah pilihan yang baik.

sok tahu!”.

Biar tho … hidup-hidupku sendiri toh.”

Kok, tiba-tiba ngomongin sungai yang mengalir, dijadikan falsafah hidup lagi. Itu karena tadi pagi (tiba-tiba) saya ditanya seorang kolega, “nanti ke depan mau jadi apa, pak?”

Mau jadi apa? Ya banyak tho kalau ditanya mau jadi apanya, tapi apa harus semua-mua diceritakan ke dia, mungkin ndak juga. Tapi ta‘ kasih ‘judul besar’nya saja ya. Ya itu, hidup saya, saya setting seperti sungai yang mengalir, dan saya sedang mengalir bersamanya.

Sudah saya jawab begitu, lho kok, dia masih mengejar lagi dengan nanya yang lain-lain, yang intinya, seperti ngasih tahu kalau jawaban saya itu bukan jawaban yang benar atau yang diminta-nya, gitu lho.

yang lebih pasti atau rigid gitu kalau ngasih jawaban, misalnya mau jadi apa atau mau berbuat apa.” Begitu ujarnya selanjutnya.

Apa yang nggak pas ya dengan jawaban itu? Saya juga jadi mikir, lho saya yang punya jawaban dan emang itu yang menjadi keyakinan saya, kok ndak boleh ya?

Mungkin jawabannya harus ‘eksak’ bukan ‘abstrak’. Eksak seperti: mau punya rumah dua buah, mau punya mobil empat buah, mau ini … mau itu … , mungkin seperti itu?

Seperti air mengalir, jadi terlihat abstrak. Padahal tidak demikian.

Sama seperti pengalaman yang diceritakan istri saya, ketika anak saya ditanya oleh ibu dari salah seorang teman sekelasnya,”Ghia, kalau besar mau jadi apa?”

Anak saya menjawab,”mau jadi pemain bola profesional.”

Si ibu itu kemudian kembali bertanya – seolah-olah anak saya itu tidak mengerti akan pertanyaannya,”oh, bukan yang seperti itu, bukan yang seperti pemain bola itu yang tante maksud, yang lain Ghia, seperti yang lain, kalau besar cita-citanya mau jadi apa?”

Kali ini istri saya yang menjawabkannya – karena anak saya jadi terlihat bingung – tidak mengerti, karena pertanyaan si ibu itu sudah dijawabnya. Istri saya mengatakan,”Lho, kan tadi Ghia sudah jawab, dia mau jadi pemain bola profesional, ya itu cita-citanya, boleh kan Ghia punya cita-cita jadi pemain bola?.”

Si ibu ini kemudian menjadi seperti terlihat salah-tingkah karena pertanyaan untuk anak saya, tapi istri saya yang membantu menegaskan menjawabnya. Lanjutnya,”eh.. maksud saya cita-cita seperti yang lain gitu, tapi iya juga sih, pemain bola profesional juga cita-cita kok.”

Istri saya hanya cukup tersenyum saja sambil berpikir dalam hati, mungkin si ibu ini sedikit ‘terkooptasi’ dengan ‘bentuk cita-cita‘ yang (dianggap) umum sejak dulu (dan walau sepertinya harus ‘diruwat’ itu), yaitu, kalau cita-cita, ya si anak harus mengucapkan: saya ingin jadi dokter, atau saya ingin jadi insinyur. Itu baru namanya cita-cita. Menjadi pemain bola yang profesional, bukan cita-cita (?).

Padahal, di dunia ini, buanyaaaak sekali yang bisa dijadikan ‘cita-cita’ dan hal itu seharusnya dianggap sah-sah saja.

Kebetulan, saya dan istri terbiasa ‘membebaskan‘ apa saja terhadap anak saya, terutama dalam hal memberikan kesempatan kepadanya untuk mengambil keputusan yang terbaik untuk dirinya – selama dalam konteks yang positif, termasuk  terhadap keinginan masa depan anak saya itu.

Kami biasanya menambahkan,”yang penting cita-cita/keinginan kamu itu berguna bagi dirimu sendiri, bagi orang lain, bagi masyarakat dan agamamu.” Terdengar berat? Kami hanya ingin men-camkannya saja pada anak saya itu, boleh memiliki cita-cita untuk menjadi apa saja, asal memperhatikan tambahan yang kami sampaikan tersebut.

Pernah dia, anak saya, ketika ditanya apa cita-citanya, menjawab,”saya mau jadi petugas pompa bensin (waktu itu dia baru saja pulang dari mengikuti kunjungan ke Kidzania – disana, salah satu profesi yang dia jalani adalah menjadi petugas pompa bensin), enak, dapat uang.” begitu alasannya.

Pernah juga, sewaktu kami sedang memperhatikan seorang penambal ban bekerja, ia berbisik di telinga saya, dia bilang,”Bab, kalau sudah besar, aku nggak mau jadi tukang tambal ban.”

Ketika saya tanya kenapa, ternyata alasannya, pekerjaan tukang tambal itu terlihat kotor, di matanya. Ya itulah dalam pandangan anak-anak, yang sering berobah-obah. Yang juga saya tekankan kepadanya adalah ia tidak boleh merendahkan pekerjaan orang lain, apapun itu.

Kembali ke pertanyaan rekan saya di atas, saya memang lebih senang menjawab seperti itu, kalau ada yang tanya keinginan saya ke depan. Bukan berarti saya tidak dapat mendefinisikan keinginan saya ataupun cita-cita saya sendiri, tetapi lebih kepada pengalaman yang selama ini sering saya alami.

Saya sering, dulu, memiliki (beberapa) keinginan yang diwujudkan dengan beberapa rencana, dari mulai keinginan A hingga C, misalnya. Ternyata, yang saya alami, yang dipilihkan Allah adalah keinginan Z, yang saya ingini, tapi tidak saya rencanakan sama sekali. Tapi ternyata, perpaduan itulah yang kemudian saya rasakan keindahannya, walau sebelumnya agak kecewa juga, kenapa bukan keinginan A ataupun B yang disetujuiNya.

Saya kemudian menganggap atau mencoba memaralelkannya dengan filosofi sungai mengalir.

Jangan dikira dengan memaralelkan pada air sungai yang mengalir itu kita membuat diri kita tanpa persiapan. Atau kita dapat membuat berpasrah diri saja.

Tidak. Itu yang saya alami. Kita perlu mempersiapkan daya upaya juga, untuk siap mengikuti aliran sungai mengalir tersebut.

Kadang airnya tenang. Kadang airnya deras, bahkan melewati bebatuan – seperti kegiatan sport outdoor: arung jeram.

Perahu juga harus kuat, demikian pula dayungnya. Jangan lupa mengenakan rompi anti tenggelam, serta helm dan persyaratan lain yang diperlukan.

Kita tahu bahwa sungai ini pada akhirnya akan tiba pada muaranya. Muaranya itulah yang menurut saya perlu dipertegas, di muara mana aliran ini akan berakhir – berdasarkan cita-cita awal kita.

Sementara melewati aliran sungai, tidak selamanya kita berada dalam posisi di air. Kadang kita perlu ke tepi untuk sementara, beristirahat, kemudian perjalanan dilanjutkan. Ikhtiar harus terus dilakukan.

Jadi, tidak mudah. Perlu ke-tawakallan dan ke-istiqomahan kita untuk melalui aliran sungai mengalir ini, disamping ke-tawadlu-an serta kesabaran dan keikhlasan dalam menerima setiap hasil akhir yang dipilihkanNya.

Sama seperti pada anak-anak yang ditanyakan apa cita-citanya sewaktu kecil dan menjawab dokter atau insinyur. Apakah ada hasil penelitian berapa banyak saja yang kemudian menjadi dokter sungguhan (bukan hanya sebatas pada cita-citanya). Serta, berapa banyak yang menjadi profesinya sekarang tapi tidak pernah menjadi salah satu cita-citanya sedari kecil?  Tapi sepanjang disyukuri, tentu mereka akan merasa jauh lebih baik.

Selama kita optimis dalam berikhtiar, masa‘ sih Allah nggak akan ngasih yang terbaik untuk kita, iya nggak, tapi yang terbaik menurutNya lho, bukan menurut kita. Tapi menurut pengalaman saya, itulah yang lebih baik!

[sumber foto: omenkstory.wordpress.com]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s