Kami sudah ingin hidup tenang, Jenderal!


orang tua dan becaknya
orang tua dan becaknya

Melalui twitter saya baca bahwa pada tanggal 21 Agustus 2014, hari Kamis, sekitar 40 ribu simpatisan Prabowo (Jenderal – mantan) – Hatta akan ‘mengepung’ gedung Mahkamah Konstitusi (MK). aksi ini terkait akan diumumkannya hasil dari Perselisihan Hasil Pemilihan Umum (PHPU) oleh MK. 

mantan caleg gerindra itu
mantan caleg gerindra itu

Melalui youtube, saya melihat tontonan yang lucu sekaligus mengerikan, yang diberikan oleh salah satu pendukung anda, Jenderal, mantan caleg Gerindra wanita, yang mengatakan bahwa anda adalah titisan Allah SWT (yang namun pada akhirnya akibat begitu derasnya kritik yang ditujukan kepada yang bersangkutan akibat menyebut si Jenderal ini dengan sebutan titisan Allah SWT, konon ucapannya itu ditariknya kembali). Lucu, karena dengan berapi-api ia memuja-muja sang Jenderal ini dengan bahasa yang sedikit berlebihan dan mengklaim dengan klaim yang tidak benar, salah satunya yaitu bahwa jika Jenderal ini tidak menjadi presiden maka Indonesia akan berada dibawah kepemimpinan komunis! Sebetulnya siapa yang komunis ya? Mengerikannya, karena dengan beraninya ia mengatakan bahwa ia meminta permakluman dari semua pihak, jika MK tidak memberikan keputusan yang adil (dengan memenangkan si Jenderal ini), maka jangan salahkan mereka (pendukung-pendukung si Jenderal ini – maksudnya), jika mereka turun ke jalan, mengadakan ‘peradilan’ jalanan!

Melalui koran online, terbaca bahwa ada seorang anak kecil, sekitar usia 5 tahun yang berkeras tinggal/bertahan di rumah polonia sampai Jenderal ini di kukuhkan menjadi Presiden Republik Indonesia. Yang anehnya adalah, keinginan anak lima tahun ini – dituruti saja oleh kedua orang tuanya yang akhirnya mereka tinggal di rumah polonia dengan konsekuensi, si ayah menjadi kehilangan pekerjaan! Masuk akal?

Itu cuma sebagian yang ingin saya share disini diantara sekian banyak hal-hal sejenis yang berseliweran yang tidak masuk akal saya dari anda, Jenderal, dan pendukung-pendukung anda. 

Jenderal itu
Jenderal itu

Jenderal,

Menurut saya, ketika anda memutuskan untuk mundur dari kompetisi pilpres, anda telah menunjukkan kepada khalayak ramai siapa sebetulnya anda, seorang mantan jenderal yang tidak memiliki jiwa kompetisi yang sehat dan memiliki kemampuan pemahaman aturan serta perundang-undangan yang lemah (ditunjukkan dengan sikap mundurnya anda bukan pada waktu yang tepat yang dianjurkan oleh peraturan dan perundang-undangan yang berlaku). Jadi menurut saya, anda sudah layak memang berada di pinggir jajaran leader-leader Indonesia, bukan berada di antaranya.

Jenderal,

Anak saya (kelas dua sekolah dasar) yang sangat ‘mengidolakan’ anda – tapi tidak sampai separah anak yang berada dirumah polonia itu, merasa heran dengan keputusan mundur anda tersebut. Ia hanya berpikir sederhana, jadi siapa pemenangnya dalam pilpres ini? siapa yang berhasil mencapai ‘garis finish’ terlebih dahulu. Itu yang ia pahami secara sederhana seperti jika sedang berlomba di sekolahnya. Ia bingung!

Jenderal,

Atau sikap mundur anda itu, pada saat itu, ditujukan pada pendukung-pendukung anda, agar menjadi ‘bereaksi keras’ terhadap pilpres yang dimenangkan oleh pasangan nomor dua itu sehingga terjadi kekacauan dimana-mana? Mungkin saya salah terhadap perhitungan saya itu, Masih banyak yang masih bisa berpikir waras, dan hal itu tidak terbukti. Banyak orang yang di sekitar saya, yang tadinya merupakan pendukung anda, kemudian menjadi mencibir dan menyesal telah mendukung dan memlih anda dalam pilpres lalu, karena sikap anda itu! Bahkan ketika kubu anda menggadang-gadang isu pemilu ulang, mereka cuma mengatakan, “silahkan saja, tapi kali itu, tidak akan pilih Prabowo! Dan pemilu ulang itu harus didanai oleh uang Prabowo, jangan membuang-buang uang negara untuk itu.” See!

Jenderal,

Kemudian anda menuduh bahwa dalam pilpres, telah terjadi kecurangan yang terstruktur, sistematis dan masif (TSM). Ah, anda menciptakan ‘dagelan’ babak baru. Biarlah, itu hak anda. Mungkin maksud anda adalah agar MK menjadi sangat sibuk dengan tuntutan-tuntutan anda ini. Walau dari persidangan yang disiarkan secara luas melalui beberapa stasiun TV, terlihat, dari kacamata awam, tuduhan anda tentang kcurangan yang TSM itu jauh panggang dari api. Entahlah kalau kacamata hakim MK melihatnya lain. Untuk itu mari kita buktikan dan terima hasil keputusan MK tersebut, apapun itu, dengan besar hati dan sikap legowo.

Jenderal,

KPU (Komisi Pemilihan Umum), dari hasil real count telah memutuskan bahwa pemenang Pilpres adalah pasangan capres dan cawapres Jokowi – JK. Quick count-yang valid pun mendukung pernyataan itu. Presiden RI juga dalam pidatonya dihadapan wakil-wakil rakyat di DPR  – dalam Mengantarkan Nota Keuangan RAPBN 2015 pada hari Jumat tanggal 15 Agustus 2014 lalu (mengakui dengan) mengatakan memberi ucapan selamat kepada pemenang pilpres terpilih yaitu Jokowi – JK, hanya masih menunggu hasil sidang gugatan di MK untuk ‘kesahihannya’.

Jenderal,

Mungkin anda tidak tahu? Saat ini rakyat – termasuk saya, sudah sibuk kembali bekerja, mencari nafkah, Jenderal. Banyak dari kami yang hidupnya sulit, termasuk rakyat yang anda bayar yang kerap diminta berdemo dan kelak akan berdemo pada tanggal 21 Agustus nanti. Walau anda tidak menyebutnya sebagai dibayar, tetapi diberi dana operasional (what’s different?).

Jenderal,

Untuk bekerja, rakyat perlu ketenangan. Tidak rusuh akibat demo, tidak disibukkan oleh hal-hal yang tidak perlu. Hidup di Indonesia ini termasuk sulit-sulit mudah, so, jangan dipersulit lagi dengan kekeras-kepalaan anda, Jenderal. Berbesar hatilah dalam menerima putusan MK nanti. Jangan bayar (yang disebut sebagai memberikan dana operasional) rakyat untuk berdemo agar tidak terjadi kerusuhan, jangan provokasi rakyat untuk berdemo atas tuduhan yang tidak mendasar, apalagi akan membuat peradilan jalanan. Itu akan menjadi kriminal dan makin merugikan anda, Jenderal.

Jenderal, 

Semoga anda mau mendengar suara rakyat ini, yang sudah menghendaki ketenangan. Ingin beraktivitas normal lagi dan tentu saja, ingin merasakan mencicipi suasana atau era baru dibawah suasana kepemimpinan yang baru. Ingin merasakan apakah implementasinya sesuai dengan janji-janjinya? Apakah akan lebih baik dari pemerintahan sebelumnya? Itu perlu dibuktikan, maka, mari beri ia kesempatan itu secara proporsional. 

Jenderal,

Kalau keputusan MK nanti tidak berada di pihak anda, bisakah anda meniru sikap seorang negarawan – Foke, alias Fauzi Bowo pada saat itu yang langsung memberikan ucapan selamat kepada pesaingnya begitu ia melihat hasil quick count (padahal baru quick count, lo), ia kalah. Jika itu bisa anda lakukan, anda memberikan contoh baik bagi rakyat dan bangsa ini. Setelah itu anda lakukan, anda dapat menyerukan kepada pendukung-pendukung anda untuk meniru sikap anda tersebut. Tapi itu kalau anda bisa saja. Ora dipekso-pekso toh, Jenderal. Hanya, tolong perhatikan saja, Jenderal, rakyat sudah ingin hidup tenang, tanpa kerusuhan, tanpa kekacauan terutama pasca hasil sidang MK nanti, apapun alasan itu. Rakyat sudah ingin hidup tenang ditengah penghidupan yang sulit ini, setenang wajah pengemudi becak pada foto di atas. Semoga anda bisa mengerti. 

Salam,

@kangbugi

Keterangan sumber gambar: ketanbakar.com, merdeka.com, tempo.co

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s