Ini tentang (contoh) mental baik


Mental baik

Ketika membaca status teman-teman facebook saya, mata saya tertumbuk pada status sahabat saya yang sedang menuntut ilmu di Australia, Fitriah Asad.

Ia menulis di statusnya, yang ternyata adalah pengalaman pribadinya, sebagai berikut:

Baru mau mninggalkan parkiran, pndanganku teralihkan dg surat yg diselipkan di ‘wiper’. “duch, jgn2 surat cinta ini? tp ak kan sdh parkir d tmpat yg bener”, pikirku. Segera kuambil surat itu, dan q baca apa isinya. Trnyata ada se2orang yg tdk sengaja mnabrak pintu mobilku, dan mninggalkan bekas biru d pintu itu. Dlm suratnya dia meminta maaf dan mnjlaskan kronologis kejadiannya sertabertanggung jawab membyar krusakan yg dbuatnya. Stelah mbaca surat itu, tdk ada kmrahan yg terlintas, justru kata ‘salut‘ akan kejujuran dan tanggung jwb yg dia perlihatkan. Dia bs sja pura2 tdk thu dan pergi begitu sja….’toh tdk ada yg thu akan kjdian itu’. Tp dia justru mninggalkan contact person yg bs ak hbungi danmau mbayar biaya prbaikannya, dan trnyata dia adalah dosenku……

Saya hanya berpikir, “Ah … ini adalah contoh yang baik, contoh tental mental yang baik. it’s a good attitude, it’s a good example”.  Saya kemudian sedikit merenung. Jika hal seperti itu menimpa diri saya, apakah saya akan dengan berbesar hati melakukan apa yang dosen teman saya itu lakukan? apakah saya akan meninggalkan nomor telpon saya dan bersedia dihubungi untuk dimintai pertanggungan jawab serta membayar biaya kerusakan? Saya belum dapat menjawabnya karena hal itu belum terjadi pada saya. Tapi jika ya benar-benar terjadi bagaimana?

Saya coba mencoba menyandingkan cerita sahabat saya Fitriah itu dengan kejadian lain yang juga terkait dengan mental, dengan attitude, seperti dalam komentar dibawahnya, dimana kejadiannya sama-sama di Australia, tetapi berada di daerah lain dari tempat tinggal Fitriah, mobil rekan Fitriah yang sedang diparkir di depan rumahnya sendiri, ditabrak oleh orang yang tidak dikenal, kaca spionnya sampai pecah dan si penabraknya kabur!

Disamping itu, sore hari tadi, sewaktu pulang dari kantor dan masih ‘ngrumpi‘ dengan teman-teman kantor, saya sempat berdiskusi dengan beberapa teman karena melihat di tempat parkir ada sebuah mobil yang memarkir kendaraannya menghalangi mobil lain, sehingga si empunya mobil yang terhalangi tersebut kesulitan untuk mengeluarkan mobilnya dari tempat parkir, sementara yang memiliki mobil yang menghalangi tersebut entah dimana keberadaannya. Teman saya nggrundel dengan kesal, “orang itu bisa punya mobil tapi tidak tahu cara mengemudi mobil dengan baik dan yang pasti, tidak punya etika dan perasaan!”

Tapi itulah kita, seringkali mendahulukan hak disamping kewajiban. Kita harus belajar bagaimana memperoleh hak kita dengan kewajiban memperhatikan hak orang lain pula. Barulah terjadi keseimbangan.

Kejadian di atas, dua contoh terjadi di Australia dan satu contoh terjadi di Indonesia. Dimana-mana terdapat contoh terhadap kelakuan yang baik dan kelakukan yang buruk. Beberapa ahli mengkategorikan kelakuan baik dan buruk dipengaruhi oleh kualitas baik/buruknya mental yang dimilikinya.

Yuk kita belajar dari contoh yang baik agar mental kita ter-refresh dengan contoh pengalaman yang baik yang akan berakibat baik pula kepada attitude/perilaku kita.

Semoga bermanfaat dan thanks Fit, atas sharing pengalaman baiknya.

@kangbugi

[sumber gambar: sport.gameday.com.au)

Diposting juga di Kompasiana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s