Kalau saja namanya bukan Dolly


Walikota Surabaya
Walikota Surabaya

Belakangan ini, nama Dolly, atau gang Dolly – dari Surabaya, tepatnya di daerah Jarak atau Putat, Pasar Kembang – cukup hangat diperbincangkan di segala media. Paham kan apa itu Dolly ya?

Doly itu, tempat ‘esek-esek’ yang cukup besar dan bahkan konon terbesar di Asia Tenggara. Menurut sejarahnya, Gang Dolly ini sudah ada sejak zaman Belanda dan dikelola oleh seorang perempuan keturunan Belanda yang dikenal dengan nama Dolly van der Mart.

Di daerah Dolly, walau merupakan pusat kegiatan lokalisasi pelacuran, tetapi banyak yang terlibat dalam tata niaganya. Sebut saja misalnya mucikari, pemlik wisma, para penjual aneka kebutuhan (makanan, minuman, rokok, dll), tukang parkir, preman, dan lain sebagainya. itu pula yang ‘bersuara paling keras’ sewaktu Dolly dideklarasikan ditutup pada tanggal 18 Juni 2014 lalu.

Seperti informasi yang ditampilkan di Metro TV pada tanggal 28 Juni 2014. Dalam acara di Metro TV itu, seorang mucikari dengan ngototnya menolak penutupan Dolly, dan akan menentangnya untuk ‘buka’ kembali setelah lebaran (si mucikari mengatakan, bahwa untuk menghormati bulan puasa, maka selama puasa ini, ia dan para anak buahnya pun meliburkan diri).

Alasan si mucikari adalah bahwa dengan ditutupnya Dolly ia akan banyak mengalami kerugian. sebut saja kerugian dari fee PSK, uang yang diinvestasikan pada saat ia membangun wisma – yang belum mencapai BEP (padahal nilai investasinya mencapai sekitar 700 jutaan lebih) dan dana kompoensasi yang disediakan pemerintah sangat jauh dari mencukupi.

Sementara di wawancara terpisah dengan salah seorang pekerja seks-nya (PSK – pekerja seks komersial), si PSK ini mengatakan bahwa ia memang sangat ingin berhenti, karena menjadi PSK adalah sangat-sangat menyakitkan. Ia bersyukur dengan adanya penghentian ini serta dana kompensasi yang diberikan oleh pemerintah. ia akan mencari pekerjaan/penghasilan yang halal.

Walikota Surabaya, dalam salah satu kesempatan wawancara mengatakan bahwa ia banyak menerima ucapan dukungan dari banyak pihak terkait upanya menutup Dolly, terutama dari anak-anak yang dengan tulus mengirimkan surat kepadanya berisi ucapan terima kasih dan rasa syukur. Pertentangan hanya muncul dari mereka yang dirugikan secara materil, seperti contoh mucikari di atas.

Memang terlihat jelas, kontroversi keras muncul ke permukaan karena ada nilai ekonomi yang terganggu, rantai ekonomi yang (akan) terputus dengan ditutupnya Dolly. Nilai moral, entah dimana ia ditempatkan? karena dilihat dari sudut pandang yang prinsip, yaitu agama dan moral, sudah tidak ada tawar-menawar soal prostitusi ini. Tapi, bukan itu yang dijadikan dasar utama logika berpikir para penentang penutupan Dolly ini. Mereka tidak khawatir bagaimana dampak penghasilan yang diperoleh dengan cara seperti itu. Mereka tidak khawatir pula terhadap generasi muda ataupun mereka yang sama sekali tidak terlibat dalam kegiatan/rantai prostitusi, tetapi tinggal di kawasan tersebut.

LIhat saja ketika si mucikari di wawancara, beberapa argumennya antara lain:

– jangan nilai kami dari pelacuran ini, karena dari sinilah kami makan. Soal agama, biar itu kita serahkan kepada Tuhan. Di sini juga secara rutin kami memanggil guru ngaji dan mengadakan pengajian.

– kami tidak lebih buruk dari para pejabat (yang dianggap bertanggung jawab dalam proses penutupan  Dolly ini) yang melakukan korupsi.

– orang bilang anak-anak dirugikan karena tinggal di kawasan Dolly, terutama moralnya. anak saya tidak ada pengaruhnya karena buktinya mereka tetap bersekolah, hingga sarjana, dari penghasilan ini.

– dan seterusnya, dan seterusnya.

Pelaku langsung merasakan penyesalannya, tetapi pelaku tidak langsung tidak.

Mungkin memang benar, fenomena di atas menggambarkan di semua lini, kita mengalami degradasi moral yang sangat luar biasa. Sudah susah membedakan mana halal mana haram. Yang penting, aku tetap hidup dan aku harus hidup. Salah siapa? mungkin salah kita semua.

Mungkin nama lokalisasi cukup berkontribusi pula terhadap kondisi ini. Namanya cantik, Dolly. Mungkin terbayang, inilah surga dunia sebenarnya. Surga yang didambakan.

Apa jadinya jika nama lokalisasi tersebut bukan nama yang cantik-cantik. Misalnya: Kampung Neraka, Wisma Syeitan, Pusat Pelesiran Iblis. Kemudian para pengunjungnya diberi semacam brosur jika berkunjung ke situ, persis seperti pengumuman bahaya merokok yang tertempel dalam kemasan-kemasan rokok (walau juga tidak berpengaruh sama sekali ?). Dalam brosur dapat saja tertera tulisan misalnya: silahkan datang untuk berbuat dosa di sini, resiko ditanggung sendiri; Yuk nikmati PSK disini, kita nanti ketemu di Neraka; dlsb.

Sepertinya terlalu satir, dan bukan juga mencoba bersifat munafik,tapi buat saya yang menggelikan adalah upaya penentangan terhadap ajakan/program yang akan membawa mereka ke arah yang positif, ke arah yang lebih baik. Ini terkait logika berpikir. Hampir selaras dengan postingan saya beberapa waktu lalu di sini, yang membahas tentang logika berpikir terbalik yang rupanya sudah tidak dianggap terbalik lagi.

Mungkin karena namanya yang cantik, Dolly, coba kalau saja namanya bukan Dolly, tapi seperti yang saya contohkan di atas. Entahlah.

Makassar, 29 Juni 2014

@kangbugi

(Sumber gambar: solopos.com, diposting pula di sini)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s