Bukan soal tidak ada air minumnya


Air minum vs respect
source: stsurfimages.com

Saya baru mengalami kejadian yang belum pernah saya alami sepanjang hidup saya. Baru pertama kali saya alami. Betul, baru pertama kali saya alami.Sekali waktu saya diminta untuk menjadi pembicara di suatu kegiatan sosialisasi. Membawakan materi yang ada kaitannya dengan lingkungan. Temanya menarik. Diadakannya juga di salah satu institusi milik pemerintah.

Memang, sosialisasi itu hanya berlangsung singkat, sekitar dua jam saja, dan saya menjadi pembicara tunggal dalam kegiatan sosialisasi tersebut. Lalu apa hubungannya antara materi lingkungan yang saya sampaikan dengan ‘air minum’ seperti tercantum pada judul artikel ini diatas?

Hubungannya rupanya sangat erat, walau tidak terlalu saling berhubungan (seperti soal ujian saja ya).Dalam kegiatan tersebut, saya, selaku pembicara, tidak disediakan minum (apalagi konsumsi).

Betul begitu?

Begitulah kejadian yang saya alami. Tidak dilebihkan, tidak dikurangi. Soal jam karet, karena molor sekitar satu jam dari jadwal, okelah ….. masih dapat saya tolerir. Tapi tidak menyediakan air minum …. hm … hm … so surprise, so weird, so unpleasant. (Entah so … so …. apalagi yang sepadan dengan itu?)

Saya kira pengundang/penyelenggara mengerti bahwa berbicara itu mengeluarkan energi. Menjadi pembicara itu melelahkan, bukan hanya ‘kerja’ rongga mulut dan sekitarnya, tetapi berpadu padan dengan kerja pikiran, dimana sudah di mahfum bahwa kombinasi kerja kedua lini itu membutuhkan energi yang signifikan.

Tadinya saya pikir, oh … mungkin tidak disediakan minum di sesi awal,  akan diberikannya nanti di tengah-tengah acara. Di tengah-tengah acara belum muncul, oh …. mungkin minumannya akan muncul di akhir acara. Oh … mungkin, oh …. mungkin …. dan banyak oh mungkin lainnya yang sempat terlintas di pikiran … yang pasti, blas, hingga kegiatan tersebut bubar, Alhamdulillah, tidak muncul setetespun penenggak dahaga bagi si pembicara (apalagi snack dan teman-temannya). Tapi untungnya, kemana-mana saya terbiasa membawa air minum dalam botol Tupperware saya, sehingga agak terbantukan.

Bukan soal air minumnya, bukan soal snacknya. Tapi ini lebih kepada bentuk ‘penghargaan’ atau respect.

Bisa nggak sih kita menghargai orang lain? Menghargai tamu yang datang ke ‘rumah’ kita? Menghargai orang yang telah menyampaikan materi dan berbagi pengalaman dengan kita?

Berapa sih harga air mineral satu gelasnya? Lima ratus rupiah? Seribu rupiah? Atau pesan segelas teh manis di kantin, yang harganya mungkin sekitar dua ribu rupiah atau dua ribu lima ratus rupiah? Nggak seberapa kan?

Tapi ini, kembali, bukan soal tidak ada air minumnya. It’s about your ability in showing your respect. Lebih kepada kemampuan anda menghormati orang lain, menghargai orang lain.

Bisakah kita menghargai orang lain? Biasakah kita menghargai orang lain? Dan, tahukah kita bagaimana (cara) menghargai orang lain?

Please, jawab dulu deh pertanyaan-pertanyaan di atas, dan semoga kita bisa dan mampu menjawabnya. Setelah itu baru kita memahami isi tulisan di atas.

I will have no further comment kalau pertanyaan-pertanyaan di atas, jawabannya adalah tidak tahu, speechless!

Saya mencoba membandingkan dengan kebiasaan nenek saya dulu, yang hingga saat ini saya ingat dan kebiasaan baiknya itu saya terapkan – cause it’s very human.

Saya paling senang kalau hari sabtu itu pergi ke rumah nenek saya. Karena apa? Karena kalau kami, cucu-cucunya ke sana, pasti sudah ada makanan-makanan kesukaan kami. Sudah disiapkan. Ia tahu, setiap cucu-cucunya akan datang, ia mempersiapkan hal-hal (makanan) yang membuat kami betah berlama-lama di rumahnya, membuat kami nyaman.

Rupanya bukan hanya kepada kami, cucu-cucunya kebiasaan ini ia lakukan. Iapun biasa membuat nyaman tamu-tamu yang datang ke rumahnya. Caranya, menurutnya, dengan segera menyuguhkan, setidaknya teh manis (nenek saya tidak mau menyuguhi tamunya dengan air putih, katanya,”teh manis lebih terkesan menghargai tamu, dibandingkan dengan menyuguhkan air putih.”).

Prinsipnya, ketika tamunya datang, kalau keperluannya diperkirakan akan lama, maka ia segera memerintahkan pembantunya untuk menyiapkan minuman – teh manis – itu.

“kalau Cuma sebentar sih nggak usah. Tapi kalau lebih dari 5-10 menit tamu berada di ruang tamu kita, kita wajib menyediakan air minum untuknya. Siapa tahu tamu kita itu kehausan, kan kita juga mendapatkan pahala dengan menyediakan air minum untuk tamu kita. Lagipula, tamu itu rejeki kita.” Begitu ujarnya mengajari kami, cucu-cucunya.

Sayang saya memberikan sosialisasi tersebut bukan dirumah nenek saya. Sayang, bukan nenek saya yang menjadi ketua panitianya.

Dan sekali lagi, ini bukan soal tidak ada air minumnya….

Semoga bermanfaat.

Makassar, June 2013.

BS

sumber foto: stsurfimages.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s