A Movement for Changing is a must and what is yours?


Hari Sabtu, 8 Desember 2012 saya berkesempatan menghadiri acara yang diselenggarakan oleh TEDx Makassar bertajuk ‘KOMUNITAS UNTUK PERUBAHAN

Sesuai dengan temanya, acara yang disajikannyapun sarat dengan pemaparan tentang komunitas-komunitas yang terlihat dan terrekam ‘berusaha’ untuk melakukan aksi-aksi maupun gerakan yang diyakini dapat menghasilkan perubahan. Penyajiannya adalah dalam bentuk pemutaran video maupun  presentasi oleh mereka yang dianggap berkontribusi sebagai komunitas penggerak perubahan tersebut.

Penggerak Perubahan versi TEDx

Pengalaman negara lain

Beberapa video yang diputar selama acara TEDx berlangsung, berisikan kejadian-kejadian yang terjadi di luar negeri terkait dengan beberapa contoh dari aksi yang dapat dikategorikan sebagai gerakan yang mengarah pada terjadinya perubahan. Sebut saja misalnya:

–           Gerakan ‘Before I die’. Gerakan dimotori oleh seorang gadis ini (yang saya lupa untuk mencatatnya secara detail) terlihat sangat sederhana. Setiap , dimana setiap orang diminta untuk menuangkan idenya apa yang akan dilakukan sebelum ia (orang yang menuliskan ide-idenya itu) meninggal. Menurut mereka, jarang mereka mengingat-ingat akan kematian, apalagi ‘diingatkan’ mengenai apa yang akan dilakukan sebelum kematian menjelang. Model pengingat kematian ini menjadi cepat tersebar luas, diikuti oleh banyak orang bahkan sampai ke mancanegara.

–           Ada juga video yang menyampaikan tentang bagaimana memulai sebuah gerakan. Ini video yang menurut saya paling menarik. Video yang memuat pemaparan Derek Silver ini betul-betul menggambarkan bagaimana gerakan itu dimulai. Yang diperlukan tentunya adalah adanya INITIATOR – orang yang memulai gerakan. Dalam video itu terlihat bagaimana seseorang yang melakukan gerakan-gerakan seperti menari di tepi pantai, yang sangat attraktif yang pada akhirnya diikuti oleh sebagian besar pengunjung pantai itu – menjadi sebuah ‘massive dance’. Ditambahkan pula bahwa membuat sebuah gerakan pada akhirnya adalah ‘not about you (leader atau orang yang memulai gerakan)’, tapi lebih kemudian kepada gerakan itu sendiri, kepada the movement. Selanjutnya, leader/initiator perlu mengeducate mengenai gerakan itu kemudian kepada yang mengikuti aksi/gerakan tersebut.

Pengalaman dalam negeri

Sementara sharing pengalaman dari dalam negeri (lokal Makassar) terdiri dari pemaparan beberapa komunitas seperti: Komunitas Qui Qui – komunitasnya para perajut; Komunitas makassar berkebun – mereka pecinta pemanfaatan lahan kosong/tidak terpakai; Komunitas Barongsai – Komunitas Barongsai Makassar; Komunitas ibu-ibu doyan nulis – komunitas yang ditujukan bagi ibu-ibu, khususnya, untuk menyalurkan waktu luangnya kedalam kegiatan menulis hingga menerbitkannya kedalam sebuah buku; Komunitas backpacker – komunitas bagi mereka yang hobi jalan-jalan dengan biaya seminimal mungkin; Komunitas pemerhati pasar lokal – pemerhati pasar-pasar lokal di Makassar; Komunitas pemulung – berupa kegiatan pendampingan para pemulung di TPA (tempat pembuangan akhir) Antang, Makassar dan yang terakhir adalah Pagolo Football Community– persatuan sepak bola untuk mereka mantan pecantu narkoba dan pengidap HIV/AIDS (ODHA – orang dengan HIV Aids).

Dari komunitas-komunitas yang ditampilkan pada saat itu, saya menaruh perhatian lebih pada dua komunitas, yaitu: Komunitas ibu-ibu doyan nulis dan Pagolo Football Community.

Yang pertama adalah dikarenakan ibu-ibu itu berusaha menggunakan waktu luangnya dengan lebih maksimal dan bermanfaat lagi, yaitu menuangkan ide-ide kedalam tulisan yang berupa cerita untuk anak dan kemudian menerbitkannya. Kita semua sudah mahfum bahwa pekerjaan ibu rumah tangga itu adalah pekerjaan yang mulia dan tidak mengenal waktu serta banyak mencurahkan tenaga. Membuat cerita yang bermuatan bobot mendidik untuk anak sendiri yang kemudian dapat dishare kepada orang tua lain dalam bentuk buku, menambah kemulian mereka lagi. Yang menambah kesan pada komunitas ini lagi adalah bahwa mereka semua bermula dari nol, artinya mereka tidak memiliki pengetahuan, kebiasaan menulis dan menerbitkan buku, apalagi buku cerita untuk anak. Tetapi, ya itulah, gerakan ini berhasil ‘menasional’ dan telah memiliki beberapa cabang di Indonesia dan beranggotakan ibu-ibu yang hampir mencapai jumlah 5000 ibu-ibu. Suatu jumah yang tidak bisa dikatakan kecil.

Selanjutnya, Komunitas Pagolo FC, memiliki misi tersendiri yang sangat mulia. Mengingat bahaya Narkoba yang semakin besar merasuk generasi muda Indonesia dan salah satu akibatnya adalah dapat terjangkit penyakit HIV/AIDS (seperti yang diidap oleh sang presenter saat ini). Keberadaan komunitas seperti ini perlu disebarluaskan untuk menjadi ‘duta’ agar memperkenalkan awareness/kepedulian kepada generasi muda Indonesia mengenai bahaya Narkoba. Terkait dengan penyakit HIV/AIDS, keberadaan komunitas ini menjadi penting, mengingat banyak dari kita yang belum memahami betul bagaimana ‘bersikap’ terhadap ODHA. Pesan lainnya adalah, jika seseorang terpuruk, seperti para mantan pecandu tersebut, dan kemudian menabalkan dirinya untuk kembali ke jalan yang benar, masih banyak kontribusi yang bisa mereka berikan baik untuk dirinya sendiri, keluarganya, maupun bangsa dan Negara Indonesia.

Pengalaman Pribadi tentang Perubahan

Kegiatan yang diselenggarakan oleh TEDx Makassar ini membuat saya mencoba berkaca terhadap apa yang sudah saya lakukan selama ini, sudahkah saya juga melakukan perubahan?

Beranjak dari situ, saya melihat beberapa hal yang sudah saya lakukan mudah-mudahan dapat berkontribusi pada perubahan yang terjadi di masyarakat – walau masih dalam skala kecil dan belum seluruhnya bertindak sebagai initiator.

Namun bukan di situ letak poinnya. Yang terpenting adalah mau bergerak ke arah perubahan yang lebih baik, bergerak dengan skala yang lebih luas, serta dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Dan yang saya rasakan – perlunya merubah diri sendiri terlebih dahulu sebelum kita mengupayakan gerakan untuk merubah masyarakat – akan lebih terasa manfaatnya di kedua belah pihak (yang menggerakkan dan yang digerakkan). Terlebih, merubah diri sendiri adalah lebih sulit daripada merubah orang lain.

Kegiatan yang dilaksanakan TEDx Makassar ini memberikan contoh bagaimana komunitas bergerak kearah perubahan, dan menambah wawasan yang hadir di kegiatan itu bahwa banyak lini yang bisa dilakukan untuk dapat berkontribusi menciptakan komunitas-komunitas yang mengacu pada perubahan di sekitar kita. Entah sebagai leader/initiator, maupun sebagai bagian dari komunitas itu sendiri.

Mereka sudah memulai, bagaimana dengan anda?

TEDx Makassar
TEDx Makassar

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s