Langkah ‘kepahlawanan’ dari Sumbawa


Mas Bambang – di lahan pertanian dengan kuda kesayangannya – masih membaca di sela-sela kesibukannya

Namanya Bambang, saya kenal sewaktu melakukan penelitian di Kabupaten Sumbawa. Ia adalah seorang pemuda, yang multi-talenta (itu yang kepala desanya katakana), yang juga adalah ketua kelompok tani.

Ia lulusan SMA (Sekolah Menengah Atas), dan kebetulan, lulusan SMA di desanya sudah termasuk kedalam golongan orang-orang yang berpendidikan tinggi – karena rata-rata penduduk di desanya, dapat lulus SD (sekolah dasar) saja sudah bagus. Jadi, berpendidikan SMA – sudah termasuk berprestasi.

Lagipula, ia dikenal kreatif, kata orang, bentuk kreatifnya adalah mengerjakan apa saja bisa. Contoh, jadi ketua koperasi, ya. Jadi ketua kelompok tani, ya juga. Jadi petani (ini profesi aslinya – menurutnya, dan ia lebih senang dikenal sebagai seorang petani), oke. Jadi pegawai kantor desa – bagian administrasi, ini juga boleh. Untuk yang terakhir ini, menurut kepala desanya,  kecakapan mas Bambang sangat diperlukan untuk kelancaran pelaksanaan tugas di kantor desa.

Sebagai ketua kelompok tani dari suatu kelompok tani yang baru dibentuk pada saat itu, ia secara aklamasi didaulat oleh peserta rapat untuk duduk sebagai ketua. Menurut beberapa anggota kelompok tani yang sempat saya wawancarai, mereka memilih mas Bambang sebagai ketua kelompok tani karena mereka tidak melihat sosok lain yang cukup pantas duduk sebagai ketua bagi kelompok mereka. Jadi, mas Bambang lah yang mereka pilih. mas Bambangpun nampaknya tidak kuasa untuk menolak.

“Saya nggak enak kalau diberi kepercayaan terus menolak, rasanya bagaimana gitu.” begitu ujarnya ketika saya tanya mengapa ia mau dan sering dipilih menjadi ketua.

“Tapi apa anda sanggup melaksanakan semua amanah-amanah itu?” saya ajukan kembali pertanyaan kepada mas Bambang.

“Ya … saya harus berusahalah.” begitu katanya.

“lagipula, kalau saya diberi amanah, tentu ada konsekuensinya dong.” tambahnya.

“konsekuensi?” tanya saya dengan agak kebingungan.

“Iya, konsekuensi, mas. Jadi kalau mereka memberikan amanah kepada saya, saya terima untuk tidak mengecewakan mereka. Nah, tentu saya mengharapkan mereka serius dengan pemberian amanah itu, caranya, ya harus mau bantu saya juga dong, kan nggak mungkin saya kerja sendiri, tanpa didukung dan dibantu oleh mereka. Jadi mereka saya minta untuk bertanggung jawab terhadap pilihannya itu, dengan cara  gitu lho mas.” begitu ujar mas Bambang selanjutnya.

Betul juga pikir saya, masuk akal juga. Pantaslah kalau ia didukung oleh banyak pihak.

Hasil pertama yang ia tunjukkan adalah kelompok taninya berhasil mendapatkan kepercayaan dari sebuah perusahaan swasta untuk mendapatkan kredit petani – pengadaan pupuk, insektisida dan alat-alat pertanian. Sebuah prestasi yang pantas untuk dicatat, karena membuat senang banyak pihak.

Dua bulan kemudian, semenjak saya bertemu mas Bambang terakhir kalinya, saya menyambangi desa itu lagi. Tapi kali ini ada yang sedikit berbeda. Di sekretariat kelompok tani maupun di kantor desa tidak saya temui mas Bambang. Lho, kemanakah gerangan?

Ternyata mas Bambang akan tidak berada di desa itu untuk waktu sekitar dua bulan ke depan. Ia mengikuti kursus PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di kantor kabupaten – sekitar tiga jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan umum dari desanya.

PAUD? Bakal jadi profesi baru mas Bambang nih, pikir saya.

Pak Desa juga menambahkan kalau ia menunjuk mas Bambang untuk mewakili desanya karena ia memiliki kemampuan untuk itu. Dan diharapkan mas Bambang kelak mampu mengembangkan PAUD di desanya.

Tapi apa hanya itu alasannya? Penasaran, saya telpon langsung mas Bambang.

Dalam pembicaraan melalui telpon tersebut mas Bambang menjelaskan bahwa ia memang sudah lama memiliki ketertarikan akan dunia pendidikan. Dan sepertinya PAUD ini dapat menjadi salah satu penyaluran keinginannya dan kreatifitasnya. PAUD, menurut mas Bambang, sangat diperlukan terutama di desanya karena PAUD adalah sebagai pintu gerbang bagi anak-anak untuk memasuki dunia pendidikan. Sehingga perlu dilakukan upaya yang serius dan sepenuh hati didalam membuka ‘pintu gerbang’ tersebut.

Ketika disinggung mengenai kemungkinan bercampur aduknya hal-hal maupun aktivitas yang digelutinya di desanya, dengan santai tetapi pasti, mas Bambang menjelaskan, bahwa sepulangnya dari pelatihan menjadi guru PAUD ini, ia akan mencoba berkonsentrasi membagi waktu sebaik-baiknya diantara kegiatan-kegiatannya itu. Namun, jika didalam kenyataannya nanti hal itu ternyata dirasa berat sehingga mengharuskan ia harus memilih kegiatan mana yang akan diprioritaskan, mas Bambang menyatakan dengan serius bahwa ia akan memilih untuk menjadi guru PAUD dan membina serta mengembangkan PAUD di desanya.

“Serius mas Bambang?” tanya saya ketika mendengar pilihannya itu.

“Betul mas, saya serius mengenai menjadi guru PAUD dan mengembangkannya. Karena pendidikan usia dini dapat dijadikan dasar meletakkan fondasi pendidikan-pendidikan yang akan dilalui selanjutnya. Dan saya bangga jika saya bisa menjadi bagian dari itu, walaupun sepertinya menjadi ketua kelompok tani, menjadi perangkat desa kelihatan lebih bergengsi, tapi aku mau tetap menjadi guru PAUD.” begitu penjelasan tambahan mas Bambang.

Oh, mas Bambang, mulianya hatimu dan majunya keinginanmu. Saya cukup mengerti karena ini pasti merupakan keputusan sulit untuk mas Bambang – apalagi sebagai ketua kelompok tani, seperti yang ia kemukakan di atas, sepertinya lebih ‘menjanjikan’ dan ‘menguntungkan’. Saya hanya bisa mendoakan mas Bambang, semoga beliau bisa mewujudkan cita-citanya dan memberikan kontribusi positif bagi kemajuan pendidikan anak-anak di desanya – dan bahkan di desa-desa di sekitarnya. Menjadi guru PAUD adalah bagian juga dari menjadi seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

Semoga mas Bambang bisa menjadi pahlawan di bidang pendidikan yang sesungguhnya terutama di desanya. Contoh kecil dari aksi nyata untuk Indonesia kita tercinta ini. Aamiin.

You can read this article also at: http://www.lintas.me [http://indonesiaku.lintas.me/article/bugisumirat.wordpress.com/langkah-kepahlawanan-dari-sumbawa-bugi-sumirats-weblog]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s