Teringat pak Parno – humanis leader


Saat saya pertama kali menginjakkan kaki di kota Daeng (sebutan untuk kota Makassar) ini beberapa tahun yang lampau – sekitar awal tahun 1995 – karena mutasi ke kantor saya yang sekarang ini, yang menjadi Kepala Balainya adalah Bp. Suparno, biasa dipanggil pak Parno.

Tidak lama saya berada di bawah kepemimpinannya, karena ternyata, sekitar bulan Maret-April 1995,  beliau di mutasi ke Bogor. Artinya, pada saat keberadaan saya di Makassar sekitar 3-4 bulan, beliau pindah.

Namun, dalam kurun waktu yang singkat tersebut, ada satu kejadian yang tidak pernah saya lupakan, dan memberikan nilai pembelajaran terhadap diri saya.

Begini ceritanya:

Ketika pindah ke Makassar waktu itu saya masih sendiri – belum menikah – dan status masih calon pegawai (CPNS). Tinggal di bangunan mess kantor, di belakang kantor. Bangunan cukup baik namun sederhana, terdiri dari tiga kamar tidur. Penghuni mess adalah karyawan kantor yang relatif baru di Makassar. Satu dari Bogor dan satu lagi dari Yogya. Tidak ada pengeluaran untuk transport (karena tinggal jalan kaki saja, Bahasa karuhunnya adalah ‘kari ngalengkah wae’). Tinggal pengaturan untuk makan sehari-hari yang bisa ‘diatur’ diantara penghuni-penghuni mess.

Singkat cerita, sekitar satu minggu keberadaan saya di kota ini, saya dipanggil oleh pak Parno. Wah, saya pikir ada apa nih sampai dipanggil segala oleh pimpinan.

Di dalam ruangan sambil menunggu beliau berbicara – sementara telepon – saya berpikir, apa kira-kira ya, sedikit deg-degan juga.

Tidak lama beliau berbicara, kurang lebih seperti ini:

“Dek Bugi, kira-kira sudah satu minggu ya bekerja di sini, bagaimana dengan situasi kerja di sini?”

Saya jawab bahwa Alhamdulillah segalanya berjalan lancar – dan saya masih dalam proses penyesuaian.

Kalimat beliau berikutnya yang cukup membuat saya ‘surprised’:

“Dek Bugi, kalau mengalami kesulitan, terutama soal keuangan, dan kesulitan2 lain, tidak usah sungkan mengetuk ruangan saya. Saya bisa mengertilah, dek Bugi kan karyawan baru di sini, gaji masih 80% (karena CPNS, maka penghasilan yang diterimanya belum penuh – 100%), bukan asli sini pula, saya sangat mengerti, jadi langsung bilang saja ke saya ya …”

Begitu kira-kira dialog singkat yang terjadi antara saya dengan pak Parno. Terlihat seperti hal kecil atau sepele, namun, hal yang telah terjadi hampir 20 tahun yang lalu tersebut sangat membekas di hati saya.

Pak Parno memberikan contoh baik, khususnya kepada saya, pemimpin yang peduli bukan saja kepada pekerjaan kantor yang memang berada di bawah tanggung jawabnya, tetapi juga hingga kepada karyawan-karyawan dan persoalan yang dihadapinya. Mungkin ini yang disebut dengan pemimpin yang humanis – caring people, ataukah pak Parno sedang menjalankan ‘effective leadership’ – yang menganggap bahwa ‘tenang’nya kehidupan karyawan akan menunjang produktivitas kerjanya, entahlah, yang pasti, jika saya menemui orang yang kebetulan diamanahi tanggung jawab sebagai pemimpin kemudian menunjukkan perilaku yang ‘bodoh’, apalagi tidak menunjukkan kepedulian kepada karyawannya (dan ini banyak ditemui dimana-mana), saya kemudian teringat sosok pak Parno.

Semoga bermanfaat

Makassar, 10 Februari 2012

2 Comments

    1. Betul mas Subhan, dalam upaya pengembangan diri, kita perlu menyerap nilai-nilai positif dari sekeliling kita, termasuk melalui blog yang kita baca, dan pak Parno mencontohkan salah satu nilai positif itu. Thanks for commentnya ya ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s