Anehkah anjuran berkomunikasi dalam bahasa Indonesia bagi masyarakat Indonesia?


Pertanyaan itu mengusik saya sewaktu melihat pengumuman mengenai acara Gempita Bulan Bahasa – (powered by – disponsori oleh Indosat) yang menekankan pada penerapan Bahasa Indonesia dalam berkomunikasi. Kegiatan ini diselenggarakan pada tanggal 4 Nopember 2011 dan diprakarsai oleh Rumah Kata Bogor.

Anehkah? karena ada yang berkomentar,”kok orang Indonesia dianjurkan (lagi) berbahasa Indonesia? Untuk menjawabnya, coba kita perhatikan suntingan di bawah ini:

Bangsa Indonesia sedang dalam masa-masa membangun. Didalam proses membangun ini, Indonesia memerlukan Kapital dalam jumlah besar. Kapital ini penting untuk digunakan membangun sarana infrastruktur-infrastruktur di daerah-daerah. Disamping itu, kapital ini dapat digunakan pula untuk membangun human resources yang kita miliki. Meningkatkan kapasitas human resources penting untuk mempersenjatai mereka dalam rangka mengelola natural resources untuk hasil yang lebih qualified lagi…. dst … dst…

Paragraf di atas saya susun sebagai contoh beberapa kata-kata non-Indonesia yang sering dijumpai bertaburan digunakan entah dalam tulisan di blog, artikel, maupun dalam ucapan-ucapan yang sering muncul di media layar kaca, maupun dalam komunikasi-komunikasi pribadi.

Coba kita hitung kata-kata yang menggunakan istilah-istilah asing dan memiliki padanannya dalam Bahasa Indonesia: kapital-capital = modal; infrasutruktur-infrastructure = prasarana; human resources = sumber daya manusia; natural resources = sumber daya alam; qualified = memuaskan, berkualitas.

Memang ada kata-kata yang berasal dari kata-kata non-Indonesia yang sudah masuk menjadi kosa kata Bahasa Indonesia – kata-kata serapan. Tetapi banyak pula kata-kata yang belum menjadi kata-kata serapan, tetapi sudah memiliki padanan katanya. Kalau memiliki padanan kata dalam Bahasa Indonesia, lalu, mengapa tidak digunakan padanannya saja, bukan kata-kata non-Indonesianya?

Hanya mereka yang menggunakan kata-kata non-Indonesia tersebut yang mungkin bisa menjawabnya. Namun beberapa pendapat mencoba menjawab kenyataan tersebut antara lain: karena ketidak-tahuan si pengguna, mereka tahu tetapi merasa lebih ‘bergengsi’ untuk menggunakan Bahasa non-Indonesia, atau karena ketidak pedulian si pengguna.

Penggunaan Bahasa menunjukkan jatidiri bangsa. Keinginan untuk terus-menerus berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia (kalau bisa dengan baik dan benar) menjadi salah satu cara pula untuk menunjukkan jatidiri kita – tentu sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Kegiatan Gempita Bulan Bahasa telah membantu untuk mengingatkan kita, masyarakat Indonesia, untuk lebih peka lagi meningkatkan kepedulian kita berkomunikasi dengan menggunakan Bahasa Indonesia. Karena ternyata masih banyak masyarakat Indonesia yang belum menunjukkan kepeduliannya berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia – ya, Bahasa Indonesia, tentu yang baik dan benar. Dan menganjurkan hal seperti ini bukanlah merupakan hal yang aneh, tapi justru sangat bermanfaat. Anda setuju?

Bogor, 9 Nopember 2011

5 Comments

  1. Dear Sir Bugi, I am very happy to that your son is growing fast, i admire your blogo too. we are all fine. winter is comming and we are reserving our energy to consume it in the comming months,

    Biniam

    1. Biniaaaaaaaaaaaaaaaam…. it’s been such a very long time not contacting each other. How’re you mate? (Aussie style: mate). Nice also to see you were visiting my blog. A cold winter in UK huh, you can escape by visiting me in Indonesia, can’t you? ;-D. We’re fine as well, please keep in touch Biniam…..😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s