Bangsa Indonesia, peramah dan baik hati?


Konon, bangsa Indonesia adalah bangsa yang ramah dan mempunyai sifat yang baik hati. Apa yang dimaksud dengan kalimat tersebut? Bangsa Indonesia adalah bangsa yang  ramah, baik hati, murah senyum, senang menyapa, berperilaku sopan dan lain sebagainya, yang termasuk dalam konteks positif.

Jika demikian adanya, sungguh terasa kebanggaan bisa menjadi bagian dari bangsa Indonesia, bangsa yang senang berbuat baik. Bisa dipastikan bagaimana aman dan tenteramnya Negara Indonesia ini.

Namun, pengamatan sekilas atas apa yang terjadi di sekeliling saya nampaknya membuat saya perlu mengintrospeksi diri (namun belum sampai kepada tahap mengkoreksi) lagi atas apa yang telah saya tulis pada paragraf di atas. Beberapa pengamatan selintas yang saya bisa catat untuk kesempatan ini antara lain:

1.      Penjualan ayam tiren (mati kemarin), daging sapi glonggongan (di ‘suntik’ air sebelum disembelih), daging kadaluarsa, daging berformalin. Dalam sidak (inspeksi mendadak) yang dilakukan beberapa dinas terkait di beberapa pasar-pasar tradisional di beberapa daerah di Indonesia ditemukan banyak sekali dijual ayam tiren, daging glonggongan, daging kadaluarsa dan daging berformalin.  Daging-daging tersebut selain sudah tidak layak untuk dikonsumsi dapat berakibat tidak baik bagi yang mengkonsumsinya, disamping tentu saja yang mengkonsumsinya dapat dikategorikan melanggar syariat agama, karena termasuk memakan bangkai (semoga tidak karena mereka tidak mengetahuinya pada saat membeli). Hal lain adalah bahwa bagi daging yang telah diberi formalin, yang mengkonsumsi akan mengkonsumsi formalin yang dilihat dari segi kesehatan dapat membahayakan tubuh si pengkonsumsi. Untuk daging sapi glonggongan, terjadi penipuan timbangan berat daging karena total berat daging telah bertambah dengan air yang dimasukkan kedalam daging sapi. Disamping itu juga, terjadi penyiksaan terhadap sapi sebelum sapi itu disembelih karena air dimasukkan kedalam tubuh sapi pada saat sapi tersebut masih hidup. Sadis! Sasarannya selain manusia, hewanpun dijadikan korbannya.

2.      Cincau mengandung boraks dan jajanan makanan ringan yang diberi pewarna tekstil. Cincau dan penganan kecil menjadi makanan yang cukup digemari dan merakyat, karena harganya cukup terjangkau. Tetapi rupanya bahan makanan inipun tidak luput dari mereka yang mencari keuntungan dari penderitaan orang lain. Boraks dicampurkan pada saat membuat cincau untuk menambah kekenyalan cincau dan membuat cincau lebih awet, tahan lama. Sementara pewarna tekstil digunakan untuk menambah ‘selera’ yang mengkonsumsi karena warna yang ditimbulkan oleh pewarna tekstil itu lebih kuat dan membuat penampilan warna makanan lebih indah.  Boraks dan pewarna tekstil bukan untuk dikonsumsi manusia. Mengkonsumsinya berpotensi mengakibatkan kerusakan pada organ-organ ginjal dan hati serta penyebab penyakit kanker. Sadis! Bayangkan bagi mereka yang sering mengkonsumsinya, bahaya apa yang mengancam kesehatannya.

3.      Hal lain adalah yang saya lihat semasa tingginya pemudik menjelang lebaran, maraknya modus pembiusan bagi mereka yang akan mudik pulang kampung. Modusnya adalah menyuntikkan zat pembius kedalam minuman yang kemudian diberikan kepada calon korbannya dengan dosis yang lumayan tinggi. Begitu meminum minuman tersebut, tidak lama kemudian si korban akan tidak sadarkan diri dan akhirnya ditinggal begitu saja dalam bis dalam keadaan tidak sadarkan diri dan tentu saja, barang-barang berharga bawaannya sudah raib entah kemana yang biasanya barang bawaannya itu adalah hasil tabungan semasa kerjanya, minimal setahun belakangan. Sadis! Dosis tidak terukur obat bius yang masuk kedalam tubuh si korban dapat membahayakan kesehatannya. Sementara bisa dibayangkan bagaimana perasaan si korban mengetahui hasil tabungan keringatnya selama ini yang ingin digunakan selama berlebaran dikampung halamannya raib begitu saja.

4.      Informasi lain terkait dengan sweeping yang dilakukan organisasi massa ‘berwajah agama’ tetapi berperilaku jauh dari kesan beragama yang melakukan sweeping diawal bulan Ramadhan. Yang dilakukan adalah bertindak kasar terhadap rumah makan yang buka pada siang hari di bulan Ramadhan dan melakukan tindakan semena-mena, termasuk didalamnya adalah melakukan penghancuran peralatan makan di rumah-rumah makan tersebut. Sadis! Sebagai orang yang kebetulan beragama sama dengan organisasi tersebut, saya merasa prihatin dengan perilaku tersebut. Saya yakin bahwa justru agama mengajarkan bagaimana melakukan nasehat-menasehati (amar ma’ruf nahi munkar) dengan sangat santun tetapi mengena. Di bulan Ramadhan dimana dianjurkan menahan emosi sebagai usaha bernilai juang tinggi tidak diperlihatkan ormas tersebut, malah mereka melakukan sweeping dengan melampiaskan emosi sebagai panglimanya. Wallahualam.

5.      Contoh terakhir yang ingin saya sajikan adalah sewaktu saya melihat dari kejauhan bagaimana seorang sopir angkot (angkutan kota) harus dengan susah payah mendorong angkotnya mencari lokasi yang aman karena angkotnya mogok. Tidak ada seorangpun yang menolongnya. Padahal pada saat itu banyak sekali orang yang berada di sekeliling angkot tersebut, baik orang yang sedang lewat maupun para pedagang asongan. Sadis! Keheranan yang tidak berjawab, mengapa tidak ada seorangpun yang membantu si supir angkot tersebut meminggirkan mobilnya?

Beberapa contoh-contoh yang sempat saya catat di atas ini menyebabkan saya mempertanyakan mengenai karakter bangsa Indonesia, apakah seperti contoh-contoh yang saya sampaikan ataukah seperti yang saya sempat tuliskan di awal tulisan ini? Ada argumentasi yang menyatakan, bahwa itukan hanya contoh-contoh kecil, tidak mewakili perilaku keseluruhan bangsa Indonesia ini. Itu betul, tetapi kemudian pertanyaannya adalah seberapa besar keterwakilan contoh-contoh yang saya tuliskan itu terhadap realitas kenyataan sebenarnya. Pun berapa banyak perilaku-perilaku sejenis yang ada di masyarakat yang belum terekam di kesempatan ini.

Ada argumentasi juga yang menyatakan bahwa lebih karena disebabkan tekanan ekonomilah perilaku-perilaku seperti di atas itu bermunculan. Ini berarti bahwa jika keadaan ekonomi membaik, perilaku-perilaku seperti tersebut di atas dapat berkurang dan bahkan hilang.

Saya mencoba menjawab dengan memberikan dua contoh lagi, yaitu sebagai berikut:

1. Konon, kalau ingin melihat perilaku asli bangsa Indonesia, berkunjunglah ke desa-desa. Di sanalah karakter asli bangsa ini masih banyak bisa ditemui.
2. Kalau mengambil contoh mancanegara, ketika tsunami berlangsung di Jepang beberapa waktu lalu, dunia melongok Jepang sebagai Negara yang memiliki karakter yang kuat. Apa pasal? Ketika bencana terjadi, di kota-kota yang tertimpa bencana tidak timbul kerusuhan, penjarahan dan bentuk kejahatan lainnya. Menurut beberapa analis, ini disebabkan oleh karakter bangsa Jepang yang kuat.

Lalu apakah karakter bangsa Indonesia ini termasuk tidak baik dan lemah? Saya kemudian mencoba mengingat pendapat Mochtar Lubis, seorang budayawan dan sastrawan, yang pada dekade tahun 1970an pernah berceramah di TIM (Taman Ismail Marzuki) Jakarta dimana dalam ceramahnya ia menguraikan ciri-ciri (karakter) bangsa Indonesia, ada beberapa yang menunjukkan karakter yang lemah, namun ada pula karakter yang baiknya. Ciri-ciri tersebut adalah:

1.      Hipokrit – lain di bibir, lain dihati, atau biasa disebut dengan munafik. Orang dengan ciri ini bersikap demikian karena takut terkena hal-hal yang dapat merugikan dirinya.

2.      Segan dan enggan bertanggung jawab atas perbuatannya, putusan dan pikirannya. Orang dengan karakter ini lebih senang untuk menimpakan kesalahan/kegagalannya kepada orang lain dibandingkan bersikap gentleman dengan mengakuinya.

3.      Berjiwa feodalis. Dalam hal ini sangat tidak suka akan kritik tetapi senang sekali bila mendapatkan pujian.

4.      Masih percaya pada takhyul dan senang mengkeramatkan sesuatu – bersifat mistis.

5.      Bersifat artistik, hal ini dimungkinkan karena dekat dengan alam.

6.      Mempunyai watak yang lcenderung boros dan tidak hemat.

7.      Kurang sabar, cepat cemburu dan dengki. Ini akan menimbulkan sifat iri hati dan kurang semangat berusaha. Ingin sukses dengan jalan termudah/jalan pintas.

Sementara sifat-sifat baiknya seperti misalnya bangsa Indonesia mempunyai ikatan kekeluargaan yang kuat, berhati lembut, suka damai, memiliki rasa humor yang tinggi, memiliki kemampuan belajar yang tinggi dan tergolong manusia berotak encer.

Pro kontra yang ditimbulkan atas pendapat Mochtar Lubis ini adalah adalah hal yang wajar. Tapi bukan itu letak  permasalahannya. Diakui atau tidak, apa yang dikatakan oleh Mochtar Lubis ini ada kebenarannya.

Jadi, bagaimana kita menunjukkan perbuatan kita, itu yang lebih penting, ingin seperti yang secara umum masih dianggap mewakili karakter bangsa Indonesia seperti yang saya sampaikan di awal tulisan, ataukah ingin mengikuti pola pikir dari contoh-contoh yang saya sampaikan serta karakter bangsa ini versi Mochtar Lubis? Semua berpulang kepada kita semua. Namun ada baiknya kita bisa berkontribusi untuk menunjang penguatan karakter bangsa yang baik dan kuat, sehingga kelak tidak ada keraguan lagi jika menyebutkan bahwa karakter bangsa Indonesia itu peramah dan baik hati.

Bogor, 8 September 2011.

First post @ Netsains – 8 September 2011  [http://netsains.com/2011/09/bangsa-indonesia-peramah-dan-baik-hati/]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s