Baikkah tidak mengijinkan anak bermain?


Sedikit catatan ketika mengantar anak pertama kali memasuki taman kanak-kanak (TK). Di dekat saya ada seorang ibu, yang senasib dengan saya, mengantar dan menemani anaknya masuk TK. Hanya saja, saya agak ‘terganggu’ dengan ocehannya.

Ocehannya disebabkan anaknya yang sering rewel, merengek dan sesekali menangis – yang sebetulnya menurut saya masih termasuk dalam kategori wajar. Namanya juga anak kecil dan baru pertama kali masuk sekolah. Yang menurut saya tidak wajar justru adalah ocehan sang ibu tersebut.

Saya sendiri tidak terlalu mengerti (karena bahasanya yang masih kurang jelas) apa yang diinginkan si anak tersebut hingga rewel. Yang pasti, ibunya dengan terus menerus menjelaskan kepada siapa saja yang berada di dekatnya, bahwa anaknya menangis karena anaknya ingin belajar di sekolah, dan bukannya ingin bermain-main.

Dia rewel karena ingin belajar di sekolah, ingin belajar menggambar menggunakan crayon. Maklum karena itu hal yang biasa dia lakukan di rumah. Saya kan tidak mengijinkan dia bermain di luar rumah, jadi aktivitas dia di rumah ya belajar macam-macam lah. Sehingga tadi waktu disuruh bermain di halaman sekolah (play ground) serta perkenalan dan permainan di kelas,  dia tidak mau. Maunya di kelas itu belajar, termasuk menggambar. Memang tadi di rumah saya bilang ke dia bahwa hari ini dia akan masuk sekolah dan belajar di kelas …. ” Begitu kurang lebih ocehan si ibu.

Tidak banyak lagi ocehan yang saya dengar karena saya lebih baik menjauh dari si ibu itu. Tidak tahan mendengar lanjutan ocehannya karena saya tidak habis pikir kata-kata yang terucap dari mulut si ibu itu, terutama pada bagian: ‘….. saya tidak mengijinkan dia bermain di luar rumah …’, dimana dalam kalimat yang singkat tersebut ada tiga kata yang mengandung makna saling mempengaruhi, yaitu: ijin, bermain dan di luar rumah.

Kata: di luar rumah

Di luar rumah memiliki pengertian sebagai segala sesuatu yang lain sama sekali dari dunia yang ada di dalam rumah. Bagi anak-anak, inilah kesempatan mereka melihat dan merasakan seperti apakah suasana di luar rumah, terutama dunia sosialnya. Kalau selama ini dunia di dalam rumah, misalnya yang sering diterimanya adalah, banyaknya peraturan (atau bahkan tanpa peraturan), kebiasaan-kebiasaan yang ada di dalam rumah ataupun apa saja yang selama ini dilihat, dirasakan dan diterimanya. Interaksinya dengan dunia di luar rumah memungkinkan anak untuk membandingkan, menganalisa (sesuai dengan kemampuan anak tentunya) serta proses pengambilan keputusan yang akan diambilnya nanti – sekali lagi adalah khas anak. Jika ini dilatih, akan melatih daya nalar dan kritis anak.

Kata: bermain

Bermain bagi anak adalah dunianya. Jika si anak memiliki mainan, maka mainan tersebut – yang merupakan alat penghubung anak masuk ke dunia bermain – merupakan ‘harta’ si anak. Jika si anak bermain seorang diri, ia sedang melatih dirinya untuk berkomunikasi dengan dirinya serta lingkungan dekat di sekitarnya. Sementara jika si anak bermain dengan dunia diluar dirinya, merupakan kesempatan untuk mengasah kemampuan sosialnya berinteraksi serta bersentuhan dengan dunia yang lebih luas di luar dirinya. Proses bermain yang dilakukannyapun dapat merangsang tingkat kreativitas si anak.

Kata: ijin   

Dua pihak yang berlaku dalam proses ijin, yang memberi ijin dan yang meminta ijin. Ini terkait dengan otoritas – Bahasa lainnya adalah kekuasaan. Yang memberi ijin (biasanya) berada di atas yang diberi ijin. Nah, walaupun antara orang tua dan anak, besar kemungkinan jika sudut pandangnya adalah otoritas, bukan kepentingan, sangat potensial terjadi konflik kepentingan didalamnya. Pada saat dikatakan bahwa anak tidak diijinkan bermain (seperti contoh di atas), kepentingan siapakah yang diutamakan? Kepentingan anak atau orang tua?

Konsekuensi implikasinya

Kalau benar seperti apa yang dikatakan orang tua tersebut, yaitu tidak mengijinkan anaknya bermain di luar rumah, maka implikasi apa yang kemungkinan dapat terjadi.

Ini dapat merupakan salah satu bentuk pemasungan hak anak, hak untuk bersosialisasi, hak anak untuk berkembang melalui interaksinya dengan dunia luar. Hal ini dapat pula berdampak pada kemampuan kreatifitasnya kelak. Kreatifitas yang diperlukan didalam memasuki dunia nyata nantinya, the real world.

The real world, dunia nyata yang menanti anak-anak setelah memasuki masa dewasanya.  Itu perlu disikapi sejak dini. Agar tidak menghadapi kekagetan sosial dikemudian hari. Bermain di luar rumah, berinteraksi dengan dunia luar seluas-luasnya adalah satu diantaranya.

Orang tua berkewajiban untuk memfasilitasi anak menyiapkan bekal tersebut dengan cara membiarkannya berinteraksi dengan dunia luar dengan terlebih dahulu dibekali guidance berupa nilai-nilai moral dan teladan yang bisa ditanamkan sejak dini, disamping perlu juga memperhatikan hak anak. Hak untuk memperoleh informasi, hak untuk bersosialisasi, termasuk hak menyuarakan keinginannya.

Ada kemungkinan, ketakutan orang tua untuk tidak mengijinkan anak bermain di luar rumah karena lingkungan sekitar yang tidak memberikan suasana yang kondusif bagi anak bermain, seperti misalnya lahan bermain yang sempit, terlalu banyak kendaraan berseliweran dan lain sebagainya, dimana sebetulnya hal-hal tersebut masih bisa dicarikan jalan keluarnya. Misalnya dengan mencarikan anak sebaya di lingkungan sekitar, membawanya ke taman bermain, dan lain sebagainya. Jangan tidak keluarnya ijin bermain karena justru memperhatikan kepentingan orang tua semata, seperti misalnya repot/tidak punya (baca: menyediakan) waktu mengawasi si anak bermain di luar, tidak mau kesibukan orang tua terganggu dengan meluangkan waktu lebih untuk anak, dan lain sebagainya.

Memfasilitasi anak memasuki dunia pendidikan adalah salah satunya, namun perlu diingat bahwa sekolah bukan satu-satunya sarana untuk mempersiapkan bekal tersebut, perlu diberikan keseimbangan antara pendidikan yang didapat didalam rumah, di sekolah dan di luar rumah. Keseimbangan ini memaksimalkan si anak untuk memasuki ‘universitas kehidupan’ sesungguhnya. Ukuran ini pula yang nantinya akan berkembang menjadi modal pribadi (human capital) yang dimiliki seseorang.

Untuk itu, tetap penting memberikan kesempatan bermain bagi anak. Jadi, jangan bangga jika justru anda menolak untuk memberikan kesempatan bermain, karena bisa jadi, ketakutan anda untuk mengijinkannya bermain di luar yang dimaksudkan baik malah akan berdampak kurang baik bagi si anak.

Bogor Agustus 2011.

First post on 5 August 2011 @ http://netsains.com/2011/08/baikkah-tidak-mengijinkan-anak-bermain/

2 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s