Jaga budaya (Sunda) atuh (reportase Saung Nyerat edisi: 26 Juni 2011)


Itu yang menjadi prinsip utama Padepokan Riksa[1] Sunda (PRS), yang menjadi nara sumber pada acara Saung Nyerat Sipatahunan sebuah acara rutin Radio Sipatahunan, Bogor – edisi Minggu, 26 Juni 2011 pukul 16 – 17 wib, acara yang digawangi oleh para blogger kota Bogor yang tergabung dalam Blogor.

Sebagai nara sumber PRS adalah Hendra M. Astari yang biasa dipanggil kang[2] Hendra dan Hadi Darajat atau kang Hadi. Sebagai pewawancara (host) dari Blogor adalah Bugi Sumirat.

Siaran ini berlangsung lancar, interaktif dan banyak menguak hal-hal dari PRS yang belum diketahui selama ini, seperti misalnya latar belakang berdirinya PRS, pendirinya, tujuannya, kiprahnya selama ini dan lain sebagainya. Wawancarapun diwarnai dengan pertanyaan-pertanyaan dari pendengar yang penasaran ingin mengetahui PRS lebih jauh.

PRS, yang didirikan di bulan November 2006, memang memfokuskan aktivitasnya terhadap kegiatan-kegiatan yang ‘berbau’ budaya Sunda dan wa bil khusus adalah untuk budaya Sunda di wilayah Bogor . Mengkaji sejarah dan budaya Sunda adalah ‘makanan’ sehari-hari para anggota PRS ini. Tapi tidak lantas menjadikan kegiatan mereka selalu terkesan serius. Lihat saja komunitas napak tilas yang merupakan salah satu bentuk kegiatannya. Komunitas ini menitik beratkan kegiatannya pada penyaluran ketertarikan anggota komunitas pada situs-situs bersejarah di kota Bogor. Kang Hendra dan kang Hadi menyebutnya,”untuk mudahnya, kita sebut saja komunitas jalan-jalan ….” Komunitas ini sangat cocok bagi mereka yang memang memiliki hobi jalan-jalan. Untuk anggota blogor yang mempunyai hobi sejenis, baik juga untuk bergabung.

Ada lagi komunitas urang Sunda Bogor. Komunitas ini mengkhususkan pada mereka yang ‘merasa’ Sunda, Bahasa yang digunakan dalam komunitas inipun kebanyakan menggunakan Bahasa Sunda. Walaupun bagi mereka yang tidak lancar berbahasa Sunda tidak dilarang untuk menggunakan Bahasa persatuan kita, Bahasa Indonesia.

Bukan hanya itu, PRS pun telah mengeluarkan majalah yang bisa dinikmati warga Bogor secara umum. Hanya saja, majalah ini masih seluruhnya ditulis dalam Bahasa Sunda. Ketika ditanyakan kepada kang Hendra apakah ada kemungkinan untuk membuat majalah tersebut menjadi bilingual: Bahasa Sunda dan Bahasa Indonesia, ia menjawab,”untuk saat ini masih keseluruhannya dalam Bahasa Sunda, karena masih ada keterbatasan tenaga. Kalau nanti sudah memadai, akan diusahakan dicetak dalam dua Bahasa: Indonesia dan Sunda.” Majalah yang bernama Balebat, yang berarti fajar di pagi hari ini, memiliki keinginan untuk membantu menyebarluaskan informasi PRS serta kegiatan-kegiatan lainnya yang terkait dengan budaya Sunda.

Lalu apakah kegiatan-kegiatan PRS ini hanya bagi mereka yang memilliki latar belakang budaya Sunda (urang Sunda). Kang Hendra dan kang Hadi sangat tidak setuju dengan pendapat itu. akang-akang ini menyatakan bahwa PRS bagi mereka yang tertarik dan merasa perlu untuk tertarik menjaga, mengkaji, menggunakan budaya Sunda, sehingga siapa saja yang memiliki ketertarikan dan minat yang sama dengan PRS bisa turut bergabung.

Sama seperti bloger-bloger kota Bogor yang memiliki blog, padepokan inipun menuangkan cerita-cerita tentang kegiatannya di blog PRS di: http://www.majalah-balebat.blogspot.com dan majalah Balebat bisa diakses secara online di http://www.balebat.com.

Bagi anda yang ingin mengetahui lebih lanjut mengenai padepokan dan bahkan ingin bergabung, bisa langsung berkunjung secara online di blognya maupun bergabung kedalam komunitasnya melalui facebook yang beralamat di Komunitas Napat Tilas Peninggalan Budaya dan Komunitas Urang Sunda Bogor.

Tapi, mengapa sih budaya Sunda yang dipilih oleh padepokan ini untuk digeluti secara serius. Kang Hendra menambahkan bahwa pada awalnya padepokan ini digagas oleh orang-orang Sunda yang tergabung dalam milis Kusnet (Komunitas Urang Sunda di Internet). Mereka merasa berkepentingan untuk turut menjaga budaya Sunda yang mereka lihat mengalami penurunan dalam pemahaman nilai-nilai budayanya. Budaya Sunda yang mereka pilih dikarenakan latar belakang keturunan mereka yang berorangtuakan orang Sunda dan sudah mengalir didalam darah dagingnya. Disamping itu, pemahaman anggota-anggota padepokan ini adalah bahwa dengan menjaga budaya Sunda akan  sangat penting dalam turut menjaga budaya Indonesia secara umum dalam kerangka NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Merekapun menyadari bahwa budaya, sebagai ‘peninggalan’ leluhur ada pula sisi positif dan negatifnya. Untuk itulah dengan banyak mengkaji budaya (Sunda) kita semua menjadi lebih tahu nilai-nilai budaya yang positif yang perlu dijaga dan dilestarikan.

Jadi, hayu[3] atuh kita jaga budaya kita, banyak nilai-nilai positif yang bermanfaat untuk hidup kita kok, bukan begitu?

—————————————-

[1] Riksa: Bahasa Sunda, yang berarti: menjaga dengan segala konsekuensinya.

[2] Akang:  sebutan kakak untuk laki-laki = sebutan mas di masyarakat Jawa.

[3] Hayu: ayo.

————————————–

This is my reportage when I hosted blogor’s routine activity at Sipatahunan Radio – Bogor – 26th June 2011 and it posted at: http://blogor.org/2011/06/27/reportase-sn-edisi-tgl-26-juni-2011-jaga-budaya-sunda-atuh/ 

2 Comments

    1. Betul om WKF, menjaga budaya2 turut membantu memperkokoh NKRI. Budaya: hasil karya (olah budi dan daya) anak bangsa kan … trima kasih sdh mampir n berbagi komentarnya😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s