Masuk TK harus di tes?


Kenapa ya anak usia taman kanak-kanak (TK) harus melalui tes ketika hendak masuk TK? Itulah yang saya dapat ketika ‘hunting’ sekolah  TK untuk anak saya di kota Bogor, di salah satu TK yang saya kunjungi. Alasan yang dikemukakan ketika saya tanyakan adalah untuk mengetahui kemampuan anak, misalnya kepintarannya.

”Jadi baik kan pak kalau dalam satu kelas itu kemampuan murid seimbang, tidak didalam satu kelas itu isinya anak yang pintar semua sementara kelas yang lain tidak.” begitu ujar petugas yang melayani saya dan istri ketika saya tanyakan mengapa anak yang ingin masuk di TK di TK ini harus melalui tes terlebih dahulu.

Terus terang saya tidak terlalu antusias memperhatikan keterangan petugas itu lebih lanjut, yang menjelaskan panjang lebar soal pentingnya tes tersebut walaupun menurutnya mudah. Tapi bagaimanapun ’mudah’nya tes tersebut, untuk tujuan pengelompokkan anak pintar dan bodoh, saya kurang sependapat. Ini masih dalam kapasitas anak TK lho. Lalu, adakah perbedaan anak yang melalui tes dan tidak sewaktu masuk TK ini dengan kemampuan akademiknya dimasa yang akan datang?

Sebelum pulang, saya dan istri sempat berkeliling sekolah TK tersebut. Ada beberapa hal yang mengganggu saya dan istri dalam pengamatan yang kami lakukan saat itu, seperti:

  1. Lokasi TK tidak terlalu luas termasuk tempat bermainnya, padahal, namanya TK, menurut saya, konsep (taman) bermainnya harus diutamakan dibandingkan konsep pengajaran di kelasnya.
  2. Di dalam areal TK, begitu memasuki pagarnya, terdapat tulisan dalam cetak tebal:”Daerah khusus berbusana muslim”. Hm..hm… menurut saya ini bentuk diskriminasi baru. Pertanyaan saya, seperti apa kriteria berbusana muslim menurut sekolah tersebut? Apakah memakai jilbab untuk yang wanita? Apakah menggunakan baju koko dan berpeci untuk yang pria? Kebetulan istri saya menggunakan kerudung, bayangkan jika ada orang tua (baca: ibu) yang kebetulan mengantarkan anaknya dan yang bersangkutan tidak mengenakan kerudung, apakah tidak diperkenankan masuk. Kemudian saya yang kebetulan pada saat itu hanya mengenakan celana jeans dan kaos saja, apakah sudah memenuhi kriteria dimaksud? Kami adalah muslim, tetapi hati kami miris membaca pengumuman tersebut. Kecil-kecil kok anak sudah diajarkan diskriminasi, bahkan untuk mereka yang seagama.
  3. Pada saat kami akan meninggalkan areal sekolah tersebut, kami mampir ke kantin dalam lingkungan sekolah dan bertepatan dengan jam pulang sekolah anak-anak TK (di sekolah tersebut bukan hanya sekolah TK yang ada tetapi ada juga SD dan SMPnya). Ternyata kami menyaksikan keterkejutan lain, yaitu bahwa anak-anak TK tersebut berhamburan juga ke kantin dan ikut belanja makanan yang ada. Bukan itu yang menjadi keterkejutan kami, tetapi, sebagian besar anak-anak TK tersebut (tanpa didampingi oleh penjemputnya) didalam berbelanja menggunakan uang pecahan Rp. 10.000,-; Rp. 20.000,- dan menggunakan pecahan Rp. 50.000,-. Mungkin mereka memang berasal dari orang tua yang berkemampuan, tetapi ’melepas’kan anak untuk berbelanja makanan dan dengan menggunakan uang pecahan yang agak besar tanpa ada yang mengawasi sehingga tidak tahu apa yang dibelinya, tampaknya bukan ide yang baik.

Istri saya sempat nyeletuk,”wah, uangnya besar-besar ya.”

Si penjual menyahut,”ini mah biasa bu.”

wah … wah .. wah ….

Kami langsung memutuskan untuk lebih baik tidak menyekolahkan anak kami di TK tersebut.

Kami sedikit berefleksi. Ketika tinggal di Australia beberapa waktu yang lalu, kami melihat ada beberapa hal yang menurut kami positif bagi anak usia sekolah TK sampai usia sekolah dasar, diantaranya adalah:

  1. tidak ada tes ketika akan memasuki sekolah TK. Patokan didasarkan pada batasan usia.
  2. Anak-anak diberikan konsep pendidikan yang lebih mengedepankan ’bermain’. Untuk itu, tidak banyak tugas rumah (PR) yang dibebankan kepada mereka, karena anak-anak masih perlu memiliki waktu bermain yang cukup di rumah sepulangnya dari sekolah.
  3. Anak-anak tidak dikenalkan dengan sistem pendidikan tidak naik kelas. Semua anak akan naik kelas. Tugas guru untuk memantau kondisi si anak. Misalnya si anak memperlihatkan kelemahan di bidang bahasa, maka sekolah (baca: guru) akan memberikan penekanan lebih pada anak tersebut pada bidang bahasa, sehingga, sedikit banyak kemampuan anak rata-rata akan berimbang.
  4. Anak diharuskan membawa bekal dari rumah untuk dimakan pada saat waktu istirahat/makan siang. Dan orang tua sudah dibekali informasi oleh sekolah mengenai jenis makanan yang perlu disiapkan. Ini untuk menjaga asupan kebutuhan gizi si anak.
  5. Orang tua diberikan pemahaman bahwa setiap anak adalah ’unik’ (memiliki ciri khas), sehingga perlu diberikan dorongan untuk mengembangkan keunikan masing-masing anak, bukan menyeragamkan setiap anak. Anak tidak dilihat dari ’nilai’ yang diperoleh, tetapi dari kemampuan yang diperlihatkannya.

Kemudian saya teringat ucapan kak Seto: “pentingnya mendidik anak menjadi lebih kreatif, bukannya semata lebih pintar (Intisari Februari 2011)

Saya dan istripun memutuskan untuk kembali melakukan ‘hunting’ mencari TK yang masih mengedepankan konsep bermain yang lebih dibandingkan dengan sekedar mengelompokkan anak yang pintar dan tidak, sesuai dengan kata ‘taman’ yang disandang sekolah taman kanak-kanak. Di taman lah pada hakekatnya tempat bermain anak-anak, menikmati keceriaan diantara anak-anak seusianya tanpa membedakan mana yang pintar dan mana yang tidak. Have fun kids.

Bogor, 14 April 2011

[posted too at http://edukasi.kompasiana.com/2011/04/14/masuk-tk-harus-di-tes/%5D

4 Comments

  1. hm, persis dengan yang aku alami setahun yang lalu, mas. saat itu saya dan istri menyimpulkan bahwa : tak ada lagi TK yang sesuai dengan konsep bermain anak-anak.
    akhirnya mau tidak mau saya harus mendaftarkan anak ke TK juga, karena ia sudah kepingin masuk TK karena melihat ayunannya🙂
    dan setelah masuk, ternyata dahsyat…. bolehlah mereka (para pengelola TK itu) mempromosikan konsep Islami (menurut kepala mereka sendiri), tetapi dalam keseharian saya melihat perilaku anak-anaknya seperti yg mas temukan di kantin. so, itu kan hasil dari “pendidikan” mereka di TK dan di rumah.

    Belum lagi masalah2 keuangan. Saya beberapa kali menemukan TK dan PAUD (pendidikan anak usia dini) yang tak berempati kpd keluarga miskin. seorang tetangga saya, terancam tak bisa ikutan tour PAUD anaknya karena tak punya uang lebih untuk berangkat sesuai ketentuan harga paket ortu+anak. Yang ia sesalkan, uang tabungan anaknya yg cuma 100 ribu dipotong juga, karena ada ketentuan, yg gak ikut harus tetap bayar 100 rb.
    Dahsyat kan mas?

    Sepertinya kita sudah harus mendiskusikan soal ini lebih sering deh ya.

    1. Bisa juga kita mendiskusikan soal ini lebih sering – hasilnya bisa kita jadikan masukan bagi pemangku kepentingan, kalau tidak, kita yang perlu ‘bergerak sendiri’, bukan begitu kang MT. Mengenai TK, saya yakin masih banyak TK2 yang tidak seperti itu sebetulnya, hanya saja, system dan tren yg menggejala ini dikhawatirkan akan menyeretnya ke arus yg sebaliknya. Mudah2an hal itu tdk terjadi. Thanks sdh mampir n komentarnya😉

    1. Ya itulah yang membuat saya heran, tujuan TK kan melatih kepekaan sosial anak dulu … tapi itulah ‘Indonesia raya’ he he he… thanks for visit and comment ya😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s