Maaf, saya tidak (mau) hidup dalam syak wasangka


Ilustrasi
Ilustrasi

Temen saya yang sudah lama tidak bertemu dengan saya, sekali bertemu langsung keluhan yang disampaikan,”eh.. tahu ga… aku ternyata tuh dijengkelin, diomongin, dijelekin sama si Warty (sebut saja namanya demikian) lho, Warty nyebarin berita bohong, dia bilang aku ngejelekin dia di depan umum, aku dibilang ngejelekin Warty dengan berkomentar ngomongnyalah yang membingungkan pada saat ada acara kumpul-kumpul, yang bodohlah karena tidak tahu dimana meletakkan pengharum toilet yang benar sampe aku tertawa terbahak-bahak, yang ga ngerti buka tutup saus tomatlah … dan …”

“Stop… stop… jangan lanjutkan … please ada apa nih?” tanya saya keheranan. Tidak ada hujan dan angin, langsung mendengar berita-berita aneh seperti ini. “Sudah lama ga ketemu, bukannya bawa berita yang baik-baik dan enak di dengar, tapi malah bawa gosip ga karuan gitu.”

“Ini bukan gosip, tapi kenyataan kale.” Timpal teman saya itu.

“Kalau aku sekarang dengar beritanya bukan dari si Warty langsung, ya namanya gosip juga bo.” Sahut saya berusaha meredam crocosannya.

Tapi rupanya interupsi saya tidak ampuh, kalah oleh emosinya yang meledak-ledak itu, dan ia tetap melanjutkan ceritanya.

Rupanya, masih menurut dia, si Warty itu jadinya merasa tersinggung oleh ulahnya, seperti yang sudah disampaikannya di atas dengan tambahan penjelasan yang panjang lebar.

Suer deh, aku waktu itu ga ngomong aneh-aneh kok, emang penjelasannya waktu saat kejadian membingungkan ga tau apa yang diomonginnya, ya aku bilang langsung toh dan pada saat itu apa yang saya sampaikan menjadi bagian dari kumpul-kumpul kita yang penuh nuansa keakraban, saling bercanda ria, so kalau memang membingungkan, ya saya bilang hal tersebut membingungkan, masa’ saya harus pura-pura ngerti, ga ada maksud apa-apa dibaliknya dan lagi, soal pengharum toilet di rumahnya, emang aku yang mindahin, dan itu juga atas permintaan dia, aku bilang ini salah tempat dan aku bantu dia lha..  dia bukannya terima kasih sudah aku benerin letak pengharum toiletnya, juga sudah aku kasih tahu bagaimana buka tutup saus tomatnya yang benar, malah ngomongin aku, ngejelek-jelekin aku di belakang, bodoh ya bodoh ae, tolol ya tolol ae dan ..”.

Hush, sudah, stop, ga boleh gitu.” Potong saya. “ga baik ngerasani wong, ga ada lagi orangnya.” Kemudian komentar saya lanjutkan, “maaf ya, bukan saya tidak menghargai informasi yang kamu berikan, tapi bagi saya, that was not a case, ga ada masalah apa2 kok. Dan saya harap kamu tidak akan terpengaruh sama sekali. Kalau Warty merasa punya masalah dengan kamu biarkan saja, itu urusan dia, selama dia tidak menyampaikannya ke kamu, anggap itu tidak ada masalah, dan biarkan hingga nanti dia tergerak hatinya untuk langsung menyampaikan hal itu ke kamu. Lagipula, seharusnya, kalau dia baik hatinya, dia seharusnya menyampaikan apa yang ada dipikirannya itu pada saat ia merasa kamu menyinggungnya, ya pada saat kejadian itu dan tidak membawanya pulang, disimpan di hati menjadi dendam kesumat dan kemudian DICERITAKAN ke orang lain yang justru tidak tahu asal usul kejadian  yang Warty sebutkan itu. itu sama juga em u mu en a na ef i fi ek … munafik. Jadi sekarang saya minta juga kamu tidak usah mempermasalahkan itu, kalau kamu memang melakukan sesuatu yang benar, yakini itu, biarkan saja ketidak benaran itu disebarluaskan oleh Warty, kamu tidak usah ikut jengkel, wong yang disampaikannya itu adalah fitnah dan cermin kebodohannya sendiri kok. Tuhan itu Maha Adil, dia nanti yang akan ‘memberikan’ bantuan penyelesaiannya, sabar saja. Dan lagi, kalau kamu bersikap sama seperti Warty, jadi apa bedanya kamu sama dia, sama buruknya dong”. Lanjut saya untuk meyakinkan tidak meneruskan lagi ceritanya.

“Lho kok bawa-bawa Tuhan sih?” sahutnya.

lha iya lah, mau apa lagi. Kalau orang seperti Warty itu, sudah susah diberi pengertian, karena tampaknya sudah terlalu yakin bahwa apa yang selalu dalam persepsinya, yang selalu dalam pikirannya dan yang selalu jadi pendapatnya adalah benar, padahal itu adalah persepsi hasil dari kesimpulan negatif yang diambilnya. Tahu sendiri kan, kalau kesimpulan negatif yang jadi acuannya, maka persepsinya jadi negatif. Tapi kalau dia ‘bangga’ dan ‘bahagia’ dengan kebiasaan buruknya itu, just let’s her do it. Dalam hal ini, Warty bisa kita jadikan ‘contoh baik’ buat kita untuk tidak mencontoh perilakunya yang negatif itu, dan untuk tidak berpikiran pendek dan picik seperti itu, jadi kita belajar dari kesalahan yang dilakukan orang lain, tanpa kita perlu berbuat salah terlebih dahulu.”

Untuk teman saya itu, saya ucapkan terima kasih mau berbagi cerita ini dengan saya. Hari ini saya belajar lagi satu nilai kehidupan nyata bahwa ada orang (kalau tidak mau saya sebutkan banyak) yang ‘bangga’ dan ‘bahagia’ untuk hidup dalam dunia yang penuh syak wasangka, menyebarkan fitnah dan jelek menjelekkan tanpa berani mengungkapkan langsung syak wasangkanya itu kepada pihak yang dituju, mungkin karena dia tidak yakin juga akan kebenaran yang dimilikinya dan juga tanpa menyadari bahwa apa yang dilakukannya itu tidak benar.

Saya lebih memilih untuk bangga dan bahagia dengan tidak hidup dalam syak wasangka, itu melelahkan.

Salam hangat.

Albury, 29 Desember 2010

[sumber ilustrasi: http://www.mylot.com/w/photokeywords/backstabbing.aspx%5D

[diposting juga di: http://sosbud.kompasiana.com/2010/12/29/maaf-saya-tidak-bisa-hidup-dalam-syak-wasangka/%5D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s