Satu kisah kepalsuan


 
 

hypocrite (ilustrasi: concurringopinions.com)
hypocrite (ilustrasi: concurringopinions.com)

Kali ini saya ingin menceritakan satu kisah. Kisah yang menurut saya menarik untuk saya bagikan seperti yang saya akan tuturkan berikut ini.

Sekali waktu saya membantu rekan yang sedang pindah rumah. Biasalah kalau membantu orang pindah rumah, kegiatannya angkut-angkut barang ke mobil angkut, setelah itu menurunkannya kembali di tempat tujuan. Kalau barangnya tidak banyak, tidak lama waktu yang diperlukan. Tetapi kalau barangnya banyak, bisa hampir satu hari penuh membantunya.

Nah, pada saat membantu bongkar muat barang-barang rekan saya tersebut (bongkar muat, seperti istilah di pelabuhan ya? He he he …) tidak ada yang istimewa. Karena bukan hanya saya yang membantu (mana kuatlah….), jadi ada orang lain yang ikut membantu. Supaya pekerjaan bantu-membantu itu tidak membosankan (disamping melelahkan), canda tawa ikut berperan menurunkan tingkat kelelahan dan kepenatan tersebut.

Ada yang cukup berkesan ketika membantu pindah-pindah ini, si empunya rumah, memasak gulai kepala ikan salmon, wuih…. uenak benar. Terbayang kan lezatnya ikan salmon. Cukup besar (walaupun cuma kepalanya saja) dan kepala ikan itu penuh dengan daging. Lho kok bisa? Yah … itulah ikan salmon.

Hal di atas sepertinya biasa saja, tidak ada yang istimewa, biasa, dimana-mana membantu orang pindahan pastilah melelahkan, kecuali gulai ikan salmon yang yummy itu yang langsung bisa mengobati rasa lelah dengan seketika. Bagi saya, gulai kepala ikan salmon, bisa mengalahkan ‘kratingdaeng’. Yang luar biasa ternyata adalah beberapa hari setelahnya. Menurut saya, ini istimewa, yaitu ketika saya bertemu kembali dengan rekan yang saya bantu proses pindahnya itu.

“kang Bugi (mungkin karena melihat latar belakang saya yang dari Jawa Barat, ia senang memanggil saya dengan sebutan “kang/akang”), apa sih yang kita omongin waktu pindahan tempo hari?”. Tanyanya.

“yang mana?” jawab saya, karena saya belum mengerti arah pertanyaannya.

“yang itu, waktu kita lagi angkat-angkat barang pindahan saya kemarin, kita bercanda-canda saja kan ya?” begitu lanjutnya sambil meminta penegasan saya.

“Oya, saya ingat, kenapa memangnya?” terus terang, saya masih belum mengerti.

“Ternyata kang, istrinya si X (salah seorang rekan yang ikut membantu pada saat pindahan itu), dengan setengah komplain, bertanya ke saya, apa saja yang dibicarakan waktu pindahan kemarin kita itu, karena katanya lagi, selepas si X itu membantu saya pindahan, pulang ke rumah, mukanya cemberut, karena katanya, sepertinya si X itu merasa tersinggung.”

“tersinggung kenapa?” potong saya tidak mengerti.

“iya, kita dianggapnya sewaktu angkut-angkut barang dulu dengan penuh canda, si X itu merasa bahwa canda-canda itu beberapa diantaranya ‘diarahkan’ ke si X. Ternyata X pernah dulu – masih penuturan istri si X – mengalami hal seperti itu, yang menurutnya diarahkan ke X, sehingga akibatnya, hingga kini ia merasa jadi mudah tersinggung seperti itu.”

Saya langsung menyanggahnya,”uh… (maaf) tolol betul sih itu orang. Terus apa jawabmu ke istri si X?”

“ya… saya minta maaf saja, karena kita tidak ada maksud seperti itu. tapi saya juga bilang ke istri si X bahwa kalau X merasa dulu pernah merasa dibegitukan oleh temannya, seharusnya X menyelesaikan dengan temannya itu, sehingga tidak mudah ber-syak wasangka terhadap sesuatu.”

Timpal saya,”seharusnya anda tidak perlu meminta maaf, karena kita tidak melakukan kesalahan apapun. Justru seharusnya X berterima kasih kepada kita karena kita masih sempat bercanda tawa sewaktu mengangkut barang, sehingga kita tidak merasa terlalu lelah kan. Cape sih cape… tapi enjoylah. Dan sama sekali kita tidak ngomongin maupun menyindir X kok, tidak perlu dan buat apa.”

“tapi aneh ya, istri si X itu harusnya tidak komplain ke kamu, tapi justru harusnya ke suaminya, kenapa, karena X justru telah menunjukkan jati dirinya sendiri sebagai orang yang bermasalah, yaitu ‘palsu’. Palsu? Ya, karena di depan rekan-rekannya, X bisa turut bersenda gurau, bercanda, tetapi sebenarnya hatinya mangkel tidak karuan. Mangkel untuk sesuatu urusan yang salah. Juga sebaiknya, kalau memang mangkel saat itu, komplainnya ke kita-kita dong, bukan diceritakan ke istrinya yang tidak tahu menahu kejadian sebenarnya. Cuma, aneh juga kalau kemudian istrinya komplain, itu juga menunjukkan kalau kedua suami istru itu bodoh dan palsu, ha ha ha. Sudahlah, tidak usah membicarakan hal itu lagi, tambah bodoh nanti kita.” Begitu timpal saya kepada teman saya itu untuk menyudahi membicarakan topik yang tidak perlu ini dan untuk membuatnya sedikit lega dari kekecewaannya.

Wah, hari itu saya belajar satu lagi nilai kehidupan, ternyata, banyak ‘kepalsuan-kepalsuan’ dan kebodohan berseliweran di sekitar kita. Dari hal-hal kecil yang menurut kita tidak perlu dipermasalahkan, tetapi ternyata menjadi masalah (yang tidak perlu) di mata orang lain, hingga orang-orang yang tadinya kita anggap hangat, jujur, ramah, ternyata memendam sesuatu yang negatif didalam hatinya. 

Celakanya lagi, yang menurut orang lain itu dianggap sebagai masalah, ternyata tidak dicoba dipecahkan untuk dilihat kebenaran dan duduk persoalan sebenarnya. Malah lebih dipilih untuk didiamkan, dipendam dan justru didiskuksikan dengan orang ataupun pihak yang tidak tahu duduk persoalan atau kejadian sebenarnya. Jadinya makin menambah runyam persoalan.

Sekarang kalau saya bertemu si X ataupun orang-orang seperti X, ketika kita ngobrol ataupun bercanda ataupun jenis-jenis interaksi lainnya dengan orang seperti X itu, kita tidak dapat mengetahui apakah orang seperti ini sedang berkata dengan sebenarnya ataukah sedang tertawa dengan selepas-lepasnya tertawa, dan sebagainya, ataukah hanya sekedar berpartisipasi ngobrol dan tertawa untuk kemudian melakukan komplain dibelakangnya, karena kepalsuannya itu.

Konon, banyak yang seperti ini di sekitar kita.

Saya jadi teringat yang sering dikatakan anak saya, kalau dia sedang tidak enak perasaannya, dia akan berkata,”cuapee deh….”  

Salam hangat.

Albury, 29 November 2010

[diposting juga di:http://sosbud.kompasiana.com/2010/11/29/satu-kisah-kepalsuan/%5D

5 Comments

  1. iya pak. kata orang, senyum palsu. Ini lebih bahaya. Bahasa gaulnya sekarang “muna'” hehe.

    Alhamdulillah, kultur membuat saya tidak seperti itu. Kata generasi MTV, Speak your Mind hehehe..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s