Ragam Qurban


Hewan Qurban an. Ghia di Pandeglang (2010) (dok. Komunitas Lebah)
Hewan Qurban an. Ghia di Pandeglang (2010) (dok. Komunitas Lebah)

Idul Adha (the Feast of sacrifice) baru saja berlalu. Untuk merayakannya saya mengundang beberapa teman dekat untuk merayakannya di tempat saya. Di Albury kami merayakan Idul Adha pada hari Selasa 16/11/2010.

Tidak banyak sahabat yang bisa diundang, maklum, undangan terbatas karena rumah yang saya tempati tidak luas. Namun demikian, mereka yang hadir cukup beragam latar belakangnya, ada yang dari Nepal, Turki, lokal (Australia) dan Inggris. Sedang yang dari Indonesia, ada yang berlatarbelakang Melayu-Menado, Sumatera Utara dan saya sendiri yang berlatar belakang Sunda.

Dalam acara kumpul-kumpul itu, mereka yang belum pernah bertemu, saling memperkenalkan diri. Sambil menyiapkan hidangan, mereka bercakap-cakap, biasalah, mengenai topik sehari-hari termasuk masalah keluarga dan latar belakang budaya.

Tiba-tiba teman saya yang warga lokal dan tinggal di Tallangatta itu bilang ke saya:

“Bugi, kamu tahu, ternyata yang sedang merayakan Idul Adha bersama-sama kamu ini banyak yang beragama Kristen lho. Ini menarik.

“Iya”. Timpal saya,”yang hari ini datang dan beragama Islam itu cuma saya, teman saya yang asal Melayu-Menado tersebut dan seorang lagi yang berasal dari Turki. Anda, teman saya yang dari Inggris dan teman saya yang dari Sumatera Utara itu beragama Kristen dan yang dari Nepal, mereka beragama Hindu”.

it’s interesting“. Sahutnya lagi. “It’s a multi-faith and multi-culture party Bugi.”

“oya, anda betul. Saya memang ingin merayakan Idul Adha di sini dengan teman-teman dekat saya. Dan teman-teman dekat saya tidak semuanya muslim dan tidak semuanya berasal dari latar belakang yang sama (baca: Indonesia). Bagi saya, pertemanan tidak memandang budaya dan agama (beyond culture, beyond religion). Saya lihat anda baik, sayapun berbuat baik pada anda, demikian seterusnya, cocok, bertemanlah kita, that’s my believe (itu yang saya yakini)”.

You’re right (anda benar), Bugi, sayapun punya pendapat seperti itu dan merasa cocok dalam lingkungan seperti ini”. Ujarnya lagi.

Mungkin seperti yang dia bilang, saya benar, atau mungkin tidak benar. Hanya saja, yang saya yakini adalah bahwa biarlah urusan beragama diserahkan kepada individu-individu itu memilih keyakinan apa yang dipilih untuk beribadah kepadaNya. Kebenaran mutlaknya, biarkan Yang Maha Kuasa menentukannya kemudian. Keyakinannya kepada Tuhan Yang Maka Kuasa, sebetulnya tidak perlu mempengaruhi hubungan antar sesama dalam arti dijadikan pilihan mana yang mau dijadikan teman, mana yang tidak.

Selama saya tinggal disini, banyak pengalaman yang saya temui, justru memperlihatkan bahwa mereka yang ternyata memiliki kesamaan yang merupakan potensi untuk saling berhubungan erat (misalnya sama agamanya, sama latar belakangnya, dan lain sebagainya), justru menyebabkan sumber pemicu keretakan. Yang terjadi adalah: saling bergosip, saling menjelekkan, saling menjatuhkan dan sebagainya.

Makna Qurban yang telah saya rayakan itu, termasuk mengajak meng-qurban-kan sifat-sifat negatif kita dan menggantinya dengan sifat-sifat yang positif.

Untuk bu Carmyl, teman saya yang dari Tallangatta itu, terima kasih sudah mengingatkan kembali bahwa keragaman itu indah, ditengah-tengah perayaan Qurban.

Salam hangat.

[diposting juga di: http://sosbud.kompasiana.com/2010/11/20/ragam-qurban/]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s