JK Benar


 

jusuf-kalla (dok: fk.umy.ac.id)
jusuf-kalla (dok: fk.umy.ac.id)

Di harian Kompas hari ini (23 Oktober 2010) yang bertajuk Diplomasi Kemanusiaan, mantan wakil presiden Jusuf Kalla (JK) berkomentar terkait dengan persoalan konflik Israel – Palestina, seperti kutipannya dibawah ini:

Ketika orang lain belum berunjuk rasa menentang Israel dan mendukung Palestina, saya sudah melakukan semua itu. Pertanyaan saya, apa hasilnya kita berdemo puluhan tahun? Apakah demo menyelesaikan persoalan?” tanya JK.

Yang akan saya garisbawahi adalah pertanyaannya mengenai demo atau demonstrasi, yaitu apakah demonstrasi menyelesaikan persoalan?

Pertanyaan sekaligus pernyataannya itu akan coba saya kaitkan dengan demo yang sedang marak beberapa belakangan ini untuk ‘menyambut’ satu tahun pemerintahan SBY – Boediono. Apakah demo yang selama ini dilakukan oleh berbagai elemen masyarakat termasuk kalangan mahasiswa itu dapat menyelesaikan persoalan-persoalan (atau paling tidak membantu mengatasi persoalan) yang ada selama ini.

Pengalaman saya sekaligus yang saya perhatikan melalui pemberitaan media (termasuk yang disiarkan di media internasional), pelaksanaan demo, biasanya berakhir dengan ricuh, baku hantam, saling cerca, menimbulkan kemacetan dan lain sebagainya.

Berdasarkan pemberitaan di harian yang sama kemarin (Kompas, 22 Oktober 2010), hanya satu demo yang menarik perhatian saya, karena dilaksanakan secara ‘cerdas’ (meminjam istilah coordinator demonya), yaitu demo yang dilaksanakan di depan halaman istana dan dikoordinatori oleh Effendi Gazali. Selebihnya, banyak berujung dengan tindakan anarki maupun perusakan fasilitas umum (fasum), bahkan di Jl. P. Diponegoro, Jakarta, salah seorang pendemo sempat tertembak kakinya oleh petugas.

Apakah setiap demo perlu berakhir dengan ricuh, anarki, kacau, pengrusakan? Tidak bisakah demo dilakukan dengan santun, cerdas dan tepat sasaran? Yang saya maksud dengan tepat sasaran di sini adalah, kalau yang di demo adalah (pemerintahan) SBY, usahakan segala upaya yang menjadi tujuan sasaran ataupun yang terkena dampaknya adalah SBY bukan elemen masyarakat lain. Demo yang tidak tepat sasaran adalah jika demo dilakukan, tetapi yang lebih terkena dampaknya adalah elemen lainnya. Disamping tidak tepat sasaran, bentuk demo yang demikian, menurut saya justru tidak akan menarik simpati masyarakat. Beberapa contoh demo yang menimbulkan kerugian:

 Kemacetan. Yang merasakan dampaknya adalah masyarakat pengguna jalan yang tidak terlibat ataupun menjadi sasaran dari demo tersebut.

 Perusakan fasum>, fasum disediakan untuk masyarakat dan dibangun tentu berdasarakn uang rakyat pula, ketika dirusak, masyarakat pengguna dirugikan, disamping sebagai bentuk kemubaziran.

 Pelemparan batu. Terlihat jelas melalui layar kaca bagaimana saling lempar batu ini terjadi, pihak yang terluka karena lemparan batu, dan sebagainya. Ini adalah contoh terjadinya bentuk kezaliman.

 Dll.

Kembali kepada pertanyaan dan pernyataan JK di atas, apakah demo-demo yang terjadi sudah membantu menyelesaikan persoalan? Pertanyaan ini mungkin bisa dicoba dijawab oleh mereka yang melakukan demo, sudahkah?

Demo adalah salah satu bentuk penyampaian aspirasi, pendapat, pikiran, keinginan. Tidak salah, apalagi demo (yang positif) bisa menjadi salah satu bentuk pendidikan politik. Tetapi akan menjadi tidak tepat kalau penyampaian aspirasi melalui demo itu dengan mengesampingkan aspirasi, keinginan elemen masyarakat lain yang mungkin dirugikan dengan demo yang cenderung merusak itu.

Mudah-mudahan para pendemo setelah melakukan demonya, terutama para mahasiswa yang dianggap mewakili masyarakat terdidik, bisa meluangkan waktunya untuk melakukan evaluasi terhadap demo-demo yang telah dilakukan, apakah sudah tepat sasaran? Apakah tidak cenderung anarki? Apakah tidak menimbulkan kerugian terhadap elemen masyarakat lain yang tidak turut berdemo? Apakah ada cara lain berdemo yang santun, bermartabat, cerdas (kembali meminjam istilah bung Gazali), tepat sasaran dan dapat membantu mengatasi persoalan?

Kalau pertanyaan-pertanyaan di atas belum bisa dijawab, sepertinya kita perlu menyapa pak JK lagi, “JK, anda memang benar’.

Salam hangat.          

[Posted too at: http://sosbud.kompasiana.com/2010/10/23/jk-benar/-12]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s