Tetangga dan perbatasan, sedikit menyinggung kasus Malaysia


Ribut-ribut soal perbatasan Indonesia-Malaysia, mengingatkan saya pada pengalaman seorang teman yang tinggal di kompleks. 

Rumahnya rumah biasa, dalam kompleks, kopel, dua rumah satu genteng. Tipenya juga tidak besar, cukup tipe 36 dengan luas tanah 108 meter persegi.

Sekali waktu si tetangga kopel teman saya tersebut hendak memperluas dan memperbagus rumahnya, karena masih ada tanah tersisa dan lagi ada rejeki katanya.

Syahdan, sepulang kerja, teman saya itu melihat hal baru di halaman rumahnya, apa yang aneh ya pikirnya. Rupanya si tetangga tersebut memperluas bangunan yang berbatasan dengan bangunan kopel teman saya itu hingga atap bangunan milik tetangga itu menyeberang melewati batas pagar sebelah menyebelah. Kalau dilihat dari tampak depan, rumah tetangga itu menjadi sangat simetris dan apik. Tetapi kalau dilihat dari bagian rumah teman saya itu, malah jadi terlihat aneh. Apalagi kalau teman saya itu berada di samping pagar samping, maka pandangan ke arah langit tidak bisa dilakukan karena tertutup genteng tetangga sebelah rumah itu.  

Nah, jadi bingung deh mereka, teman saya itu dan istrinya. Terus terang mereka merasa tidak nyaman. Pertama, karena bangunan itu melewati batas pagar rumah mereka. Kedua, nggak permios-permios itu lho (maksudnya tidak permisi-permisi dulu gitu lho), tau-tau ngejegleg ada tambahan bangunan dari rumah tetangganya itu yang menjorok di atas halaman rumah mereka. Ketiga, apa tetangganya itu tidak merasa ya kalau ngelanggar batas rumah orang itu artinya … ya… melanggar batas wilayah. Mbok ya mbangun rumah itu diatas wilayah atau tanahnya sendiri saja gitu lho. 

Diskusi punya diskusi, akhirnya sang suami, yang teman saya itu, yang berinisiatif mendatangi rumah tetangga itu, soalnya kalau ditunggu dengan mengharapkan tetangganya yang datang, sepertinya ga mungkin gitu loh (itu kata istrinya).

Yang dicari yang punya rumah, rupanya tidak ada, yang ada tukang dan kepala tukangnya saja yang asyik bekerja. Dimintanyalah kepala tukang itu untuk sama-sama keluar, melihat rumah dari seberang jalan.

Untungnya si kepala tukang mengerti betul masalah ini, bahwa batas wilayah rumah itu ya dari pagar, sampai ke bagian atasnya, kasarnya, sampai menyentuh awan lah. Yang terjadi sekarang ini, memang jelas melewati batas.

Katanya lagi, dia cuma disuruh sama yang punya rumah saja, supaya rumah itu jadi tampak lebih indah atau serasi. Teman saya menambahkan, “betul pak, serasi untuk rumah itu, tapi tidak serasi untuk rumah saya, rumah saya jadi tampak seneb”.

“iya pak… iya pak … tapi baiknya jadi bagaimana ya pak?” imbuh si kepala tukang lagi.

Teman saya menegaskan,”terserah bapak saja, yang pasti tolong sampaikan sama yang punya rumah, silahkan perbagus rumahnya sesuka hati, tapi tolong jangan lewat batas rumah saya, itu saja ya.”

“iya pak.. iya pak,” kata si kepala tukang lagi , sambil ngeloyor pergi.

Esoknya, tampak oleh teman saya, tukang-tukang dari rumah sebelah itu memotong bagian rumah yang menjorok ke rumah teman saya itu, sehingga tidak ada satupun bagian dari rumah tetangganya yang melewati batas. Selesai deh persoalan perbatasannya.

Itu soal di lingkungan perumahan, yang sifatnya antar pribadi. Bagaimana dengan perbatasan antar negara, seperti yg timbul belakangan ini antara Indonesia dan Malaysia? Tentu lebih kompleks dan rumit dari sekedar perbatasan antar rumah.

Yang pasti, seberat maupun serumit apapun permasalahan itu, jangan lupakan kesantunan dan ketegasan. Langkah diplomasi adalah langkah yang tepat untuk jalan penyelesaian itu, dengan cara santun, dialog, diskusi, kita sampaikan ketegasan kita. Tentu diplomasi memerlukan waktu dan tahapan dan tentu saja kesabaran.

So, ayo sama-sama kita ikuti bagaimana perkembangannya dengan hati dan kepala yang lebih dingin.    

[di posting juga di sini: http://sosbud.kompasiana.com/2010/09/09/tetangga-dan-perbatasan-sedikit-menyinggung-kasus-malaysia/]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s