Dialog antar umat beragama di bulan Ramadan


Dimuat di koran lokal: bordermail.com.au (dok. pribadi)
Dimuat di koran lokal: bordermail.com.au (dok. pribadi)

Peran media massa dalam mempopulerkan citra ‘muslim’ serta hubungannya dengan terorisme, peran pendidikan yang perlu ditingkatkan, keheranan (warga Australia) bagaimana dengan latar belakang beda agama tapi bisa melakukan perjalanan bersama (seperti yang dilakukan oleh delegasi Indonesia ini), perlunya dialog terus menerus antar umat beragama dilakukan, apa manfaat dari kegiatan ini, dan bagaimana penyebaran informasi mengenai hasil dan manfaat dari mereka anggota delegasi atau mereka yang terlibat/pernah terlibat dalam program dialog antar umat beragama bisa dilakukan secara efektif, merupakan beberapa hal yang bisa saya catat mengemuka dalam dialog antar umat beragama (khususnya antara Muslim dan pemeluk Kristen) yang baru saja diselenggarakan di Gereja Persatuan St Stephen (St Stephen’s Uniting Church), Wodonga, Victoria beberapa waktu lalu.

Saya sendiri lebih cenderung untuk menggunakan istilah dialog antar umat beragama, bukan dialog antar agama. Agama tidak perlu didialogkan, tetapi antar pemeluknyalah yang memerlukan dialog. 

Dialog ini dilaksanakan Selasa malam (17 Agustus 2010), bertepatan dengan hari kemerdekaan dan dalam bulan yang penuh berkah, bulan Ramadan.

Kegiatan ini masih ada kaitannya dengan kegiatan dialog antar umat beragama yang pernah saya tuangkan dalam posting saya di sini (http://filsafat.kompasiana.com/2010/04/16/dialog-antar-umat-beragama-ala-agung-dan-benny/).

Diskusi terjadi dalam suasana yang akrab dan hangat. Kebanyakan yang hadir adalah jemaah gereja tersebut yang tergabung dalam kegiatan Bible study.

Delegasi Indonesia itu berjumlah 6 (enam) orang, kesemuanya berasal dari Jawa Tengah. Ada Bp. Muh. Jazuli (tokoh NU Klaten), mbak Ambar (Percik Foundation), mas Eben (Gereja Kristen Jawa), Mas Olan (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Semarang), Mas Dhamma dan bu Paulina (Sekolah Katolik di Salatiga).

Sebetulnya jumlah total anggota delegasi adalah 15 orang, tetapi mereka membagi diri kedalam dua delegasi, satu delegasi menuju Tasmania, sementara delegasi ini menyusuri daerah barat daya dan perbatasan Victoria (North East and the border).

Dari Islamic Society, hadir saya dan seorang kawan (Levent Mustafa – WN Australia dengan latar belakang Turki) dan kawan-kawan dari Indonesia yang tinggal di Albury-Wodonga hanya saya dan seorang rekan (Florens Simamora) yang bisa hadir.

Media lokalpun turut meliput dan memuat kedatangan delegasi ini (seperti dalam foto terlampir), yang menurut mereka, kegiatan ini bermanfaat tapi juga sensitif jika dilakukan melibatkan masyarakat umum (tidak terbatas).

Mengapa (bisa) dianggap sensitif? Di Australia, citra Islam dan ‘jihad’ nya yang hanya mengarah pada pengertian negatif sangatlah terasa. Beberapa program televisi Australia kerap menayangkan berita tentang itu, yang tentu saja menurut pandangan dan pengertian yang mereka percayai selama ini. Untuk itu, menghadirkan dialog semacam ini bisa menimbulkan isu yang sensitif. Karena dialog semacam ini baik bagi mereka yang memiliki pikiran terbuka dan positif (open minded and positive thinking), tetapi akan dapat berakibat sebaliknya, jika bertemu dengan pihak yang berpikiran tidak terbuka dan negatif. Sehingga input yang bisa diberikan untuk kegiatan ini adalah dilakukan dalam skala terbatas tetapi dilakukan secara berkesinambungan.

Apa manfaatnya?  Itu juga pertanyaan yang perlu dicarikan jawabannya secara lebih nyata lagi. Ketika delegasi dari Indonesia pertama kali melakukan perjalanan Uniting Through Faith di Australia, tahun 2009, dan juga ketika sebaliknya delegasi dari Australia, di tahun yang sama, melakukan program ini dengan melakukan kunjungan ke Indonesia. Apa betul mereka semua memperoleh manfaat dari program dialog ini (selain ‘tour’ dan bisa berkunjung ke negara lain tentunya). Betul mereka bertukar pengalaman (shared learning), seperti bagaimana program semacam ini dilakukan di Indonesia, dan bagaimana di Australia, hanya saja, what next action-nya masih perlu dipertajam.

Salah satu contoh, ketika delegasi ditanya oleh salah satu peserta diskusi, apa yang sudah Agung dan Benny lakukan sekembalinya di Indonesia ? (Agung dan Benny adalah peserta program beberapa bulan yang lalu menjalani program ini dengan ‘mukim’ sekitar 3 bulan di Albury-Wodonga – bisa lihat kembali postingnya di sini) Dijawab oleh seorang anggota delegasi, mereka belum sempat melakukan banyak tukar menukar informasi dengan Agung dan Benny karena ketika mereka kembali ke Indonesia, delegasi ini sedang mempersiapkan keberangkatannya ke Australia.

Menurut hemat saya, delegasi perlu melakukan diskusi yang intens dengan Agung dan Benny sebelum berangkat ke Australia, untuk mempersiapkan apa-apa yang masih perlu digali dari pelaksanaan program ini. Dengan demikian makin terasa kesinambungan maupun kegayutan program ini satu dengan yang lainnya.

Hal yang sama ditanyakan oleh mas Eben, salah satu anggota delegasi, apa yang sudah mereka (St Stephen’s Uniting Church) lakukan sekembalinya delegasi mereka melakukan kunjungan ke Indonesia. Jawaban yang diberikan masih mengambang, karena mereka merasa belum banyak pula melakukan hal yang sama terkait dengan program ini kecuali menikmati perjalanan mereka di Indonesia.    

Foto bersama setelah diskusi (dok. Florens Simamora)
Foto bersama setelah diskusi (dok. Florens Simamora)

Namun demikian, benang merah dari program ini sudah jelas. Semua pihakpun, yang hadir maupun yang terlibat dalam program ini,  sepakat menyadari pentingnya arti dialog maupun program ini, termasuk menganggap penting melakukan upaya-upaya penyebarluasan informasi mengenai manfaat serta penyebarluasan program di kemudian hari, apalagi bila dilaksanakan secara berkesinambungan.  

Kepada anggota delegasi, banyak pekerjaan rumah sepertinya menunggu anda sekembalinya nanti di Indonesia.

Jalan masih panjang, masih banyak hal perlu ditingkatkan, disebarluaskan dan dilaksanakan. Yang tidak kalah pentingnya adalah dukungan banyak pihak terkait program-program sejenis.

Kegiatan ini dilakukan bertepatan dengan bulan Ramadan, bulan Ramadan yang merupakan bulan suci yang penuh rahmat. Insya Allah, kegiatan positif inipun akan selalu dalam limpahan  rahmat dari Allah SWT. 

Salam hangat. Bugi.

[Di posting juga di sini]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s