Kalau si bos menyamar


Di TV Australia, channel ten , ada program acara baru berjudul Undercover Boss, yang merupakan produksi stasiun TV Amerika. Undercover Boss bercerita tentang bos-bos yang kemudian menyamar menjadi salah seorang pegawai di perusahaannya sendiri, berbaur dengan pegawai-pegawai lain.  

Tujuan, untuk mengetahui sejauh mana kinerja di lapangan, apa kesulitan yang dihadapi dan pegawai yang mempunyai peranan besar, tetapi tidak diketahui atau disadari selama ini.

Kru TV yang mengikuti si bos yang sedang menyamar diinformasikan sebagai stasiun TV yang ingin meliput kegiatan sehari-hari di lingkungan perusahaan tersebut.

Apakah berhasil? Kenapa harus menyamar?

Seseorang melakukan penyamaran jika jatidirinya tidak ingin diketahui oleh orang lain. Caranya, dengan merubah penampilan sedemikian rupa sehingga tidak ada yang bisa mengenalinya.

Melakukan penyamaran, agar misi yang diinginkan berhasil.

Dalam serial cerita di atas, si bos berhasil, melalui penyamarannya, mengetahui apa yang selama ini tidak diketahuinya. Dan temuannya itu akan menjadi masukan yang berharga bagi perusahaan untuk menindak lanjutinya dengan hal-hal yang perlu dilakukan, memperbaiki sistem dan meninjau kembali peraturan-peraturan yang sudah ada.

Sewaktu melakukan penyamarannya itu, si bos juga berhasil ‘menemukan’ orang-orang yang sebetulnya sangat potensial di perusahaannya, tetapi karena sistem atau mekanisme yang ada selama ini, tidak berhasil untuk membuat orang-orang itu berkembang, bahkan tetap dalam struktur terendah.

Di akhir acara, si bos membuka penyamarannya itu dihadapan pegawai-pegawainya, yang rupanya tidak pernah mengetahui wajah asli pucuk pimpinan tertingginya itu.

Menurut saya, acara TV ini menarik karena berhasil menguak sisi lain di lingkungan pekerjaan yang menjadi terasa janggal ketika sang pimpinannya ini justru tidak mengetahuinya.

Singkat cerita, tujuan tercapai, si bos gembira, perusahaan menjadi lebih baik, dan program tv itupun sukses mendapat rating tinggi.

Pertanyaan mendasar, kenapa sampai si bos itu sampai harus menyamar? Apakah tidak ada sistem atau mekanisme yang membuat hal-hal yang diketahui oleh si bos itu muncul tanpa harus si bos melakukan penyamaran, ini tidak terlalu dikemukakan.

Sistem seperti Itulah barangkali mengapa kemudian muncul ‘informan-informan’. Informan muncul untuk menyampaikan informasi-informasi yang ingin diketahui tetapi yang ingin mengetahui informasi itu tidak bisa mengakses langsung ke informasi itu, ataupun ingin mengetahui informasi dari sumber yang berbeda (untuk memperoleh second opinion)

Pertanyaan selanjutnya, berapa banyak bos-bos di dunia nyata ini yang mau melakukan penyamaran seperti dalam program TV tersebut? Berapa banyak bos-bos yang ingin mengetahui permasalahan sebenarnya yang menimpa perusahaannya di level terbawah? Apakah bos-bos itu juga akan mau melakukan penyamaran jika tidak masuk kedalam acara TV?

Saya kemudian berkhayal, apa mungkin misalnya:

Mentri menyamar untuk mengetahui sejauh mana program-program kementeriannya dilaksanakan di lapangan, bagaimana capaiannya?

Pak Kapolda – menyamar menjadi pembuat sim, biar tahu bahwa ada cara lain membuat SIM (ada uang, langsung beres).

Pak SBY menyamar di pasar, sebagai pembeli, memantau harga-harga yang melambung tinggi

Dan seterusnya, dan seterusnya.

Tapi itu baru sebatas khayalan saja.

Salam hangat, Bugi.

[dipublish juga di sini]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s