Pertama kali surat-suratan sama anak



“Lucu Bab,” itu reaksi istri saya, ketika ia membacakan surat saya yang saya tujukan untuk anak saya, usia 3 tahun 2 bulan. Anak saya belum bisa membaca – baru dalam tahap mengenalkan huruf, sehingga memerlukan bantuan bundanya untuk membacakan surat tersebut.

Nggak tahu kenapa saya begitu ‘passionate’ terhadap surat. Pengalamaan yang berkenaan dengan surat sangat membekas di benak saya (seperti yang pernah saya tuangkan dalam postingan di Kompasiana juga beberapa waktu yang lalu, di sini). Surat sangat terasa manfaatnya untuk berbagi apa yang ada di pikiran dan di hati dan salah satunya adalah mengurangi stress.

Reaksi yang diperlihatkan oleh anak saya itu, seperti khasnya anak-anak. Walaupun nampak tidak terlalu mengerti apa itu surat, apa maksudnya surat, tapi dia terlihat seperti mencoba mengerti apa yang ada dalam isi surat itu. Itu menurut bundanya.
Reaksi yang diperlihatkan seperti ketika bundanya itu membacakan surat pertama yang saya kirimkan untuk anak saya, seperti di bawah ini (tulisan dengan cetak miring merupakan reaksi anak saya ketika mendengarkan surat dibacakan – tidak secara detail, karena saya tidak menyaksikan langsung – tetapi kira2 seperti itulah):

Assalamualaikum Aa Ghia.
[ikum salam Bab]

Apa kabar Aa?
[diam – terus tanya sama bundanya – Bababnya mana Bunda? Bundanya menjawab,”bababnya ga ada, ini suratnya aja. Terus dia bertanya lagi,”surat apa sih Bunda?” – kemudian Bundanya menjelaskan lagi apa itu surat dan dimana posisi Bababnya sekarang]

Sudah mamam belum?
[sudah Bab, tadi sama Bunda]

Sudah mandi belum?
[sudah]

Mamamnya pake apa tadi?
[hm..hm… pake ayam]

Aa tadi main apa saja?
[main sword – pedang – nanti malam Babab datang kan? – nah lho, kemudian bundanya kembali menjelaskan bahwa yang datang kali ini hanya surat bababnya, bukan bababnya langsung]

Dan seterusnya….

Paragraph terakhir:

Begitu dulu ya A, be a good boy, jangan lupa baca doa sebelum tidur. Juga, minta Bunda untuk cerita sebelum bobo ya.

[iya bab – Bunda, tapi Bababnya mana? Terus lari ke mainan-mainannya – mungkin merasa bosan, Kemudian Bundanya bilang,”eh… Ghia.. jangan lari dulu. Suratnya belum selesai nih, bundanya menambahkan, “Babab bilang I love you Aa”

[Dari jauh kemudian ia berteriak – luv you too]

Bundanya tertawa. Ketika diceritakan ke saya, sayapun tertawa.

Ghia… Ghia …

Tapi walaupun demikian, keinginan saya tercapai, mengenalkan media lain untuk berkomunikasi antara anak dengan orang tuanya, yaitu melalui surat.

Salam hangat. Bugi.
[Published in Kompasiana: 28 July 2010]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s