Berawal dari surat untuk nenek


Waktu kecil, salah seorang kakek saya – maksudnya adik dari nenek saya, yang juga tentu disebut kakek, yang tinggal di Belanda dan seorang nenek saya – yang merupakan kakak dari nenek saya – tinggal di Cirebon, tepatnya di daerah Bojong, Cilimus, menjadi ‘sahabat’ korespondensi saya.

Ya, mereka sangat intens menjawab surat-surat saya, yang mungkin termasuk memotivasi saya untuk memasukkan surat menjadi salah satu yang tercatat dalam daftar hobi saya.
Lupa tepatnya kapan saya mulai senang dengan korespondensi seperti itu. Tetapi, berkirim surat dengan mereka, sudah dimulai ketika saya di usia SD, ya, kira-kira tahun 1975an.

Untuk nenek saya yang di Cirebon, waktu itu, teringat saya, saya sempat bertanya pada orang tua saya, apa yang saya perlu tulis dalam surat saya. Orang tua saya bilang, kurang lebih seperti ini,”apa saja yang ada didalam pikiranmu, cerita apa aja, pasti (nenek) senang kok terima surat dari kamu. Bisa cerita soal sekolah, pengalaman, musim, apa sajalah”.

Untuk kakek saya, lain lagi. Ketika itu, ketika saya di khitan, saya mendapat sebuah kado, dari kakek saya itu (belakangan saya baru tahu bahwa, kakek saya itu tidak mengirimkan kadonya langsung dari Belanda, tetapi meminta tolong salah satu anaknya yang ada di Indonesia untuk membelikan kado itu untuk saya). Senang benar hati ini menerima kado tersebut. Nah, kemudian orang tua saya meminta saya menulis surat kepada beliau sebagai ucapan terima kasih. Dari situ kemudian korespondensi berlanjut.

Lama kelamaan, berkirim surat menjadi kebiasaan dan menjadi hobi. Terasa keasyikan tersendiri ketika menulis surat, untuk siapa saja. Nikmat, bisa berbagi, bercerita, dan lain sebagainya.

Dulu, seninya berkirim surat, harus ke kantor pos untuk membeli perangko dan memposkan surat, disamping memposkan surat di kotak pos terdekat. Sekarang, lebih asyik lagi. Tetap dengan cara konvensional: tetap menggunakan jasa pos, ataupun dengan cara yang lebih terasa kekiniannya, misalnya melalui email, facebook, ataupun sms.

Sms? Ya, sering sms digunakan dengan fungsi yang sama dengan surat hanya dengan kapasitas yang lebih terbatas.

Manfaat menulis surat yang saya rasakan diantaranya adalah sebagai sarana untuk mengungkapkan perasaan, pikiran, keinginan – sarana untuk berbagi, dan nampaknya baik juga untuk mengurangi ataupun menghilangkan stress. Manfaat lainnya adalah tentunya untuk tetap menjalin tali silaturahmi, yang konon menjalin tali silaturahmi ini bisa menjaga penampilan agar tetap awet muda (hm hm … ini yang saya cari).
Manfaat itu termasuk kesempatan yang didapatkan dengan mengembangkannya menjadi sarana untuk melatih mengungkapkan apa yang ingin kita ungkapkan dengan alur penyampaian yang (dicoba untuk dibuat secara) lebih teratur ataupun terstruktur. Dimana kemudian, latihan itu, akan sangat membantu untuk kelancaran penyampaian secara tertulis maupun secara oral.

Manfaat ini juga yang saya rasakan didapat ketika menulis, termasuk menulis di blog dan di Kompasiana (walaupun tulisannya masih jauh dari bisa dinikmati oleh orang lain, tetapi minimal bisa dinikmati oleh diri sendiri).
Untuk itu, saya perlu berterima kasih kepada orang tua saya, nenek dan kakek saya (yang sekarang telah tiada).

Salam hangat.

[dimuat di Kompasiana: 14 Juli 2010]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s