Dialog antar umat beragama ala Agung dan Benny


erdialog dengan warga Indonesia (dok. pribadi)
Berdialog dengan warga Indonesia (dok. pribadi)

Ketika dialog sering dilakukan, niscaya segala ketidak tahuanpun berjawab, segala kebuntuanpun tercairkan dan segala kemungkinan untuk berbenturanpun terhindarkan. Itulah salah satu ikhtiar yang saya lihat sedang dilakukan oleh Agung dan Benny, dua orang warga Negara Indonesia yang selama kurang lebih tiga bulan berada di Wodonga, Victoria, Australia. Mereka berada di sini atas kerjasama antara Yayasan Percik di Indonesia dan St. Stephen’s Uniting Church di Australia.

Agung, yang memiliki nama lengkap Agung Waskito Adi adalah staf advokasi di Yayasan Percik yang berpusat di Salatiga, Jawa Tengah. Ia seorang penganut Kristen, memiliki pengalaman yang memadai dalam hal advokasi terhadap masyarakat dan dialog antar umat beragama.

Sementara Benny, lengkapnya Benny Ridwan, seorang muslim asal Medan, tetapi sudah lama menetap di Jawa Tengah, adalah dosen di STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) Salatiga, pun memiliki pengalaman yang tidak kalah memadainya dalam hal dialog antar umat beragama dan aktif pula di Yayasan Percik.

Keduanya memiliki pengalaman yang dalam terhadap meletakkan bagian-bagian bangunan dalam bangunan keharmonisan di Indonesia.

Kedatangan mereka, yang merupakan wakil Indonesia dan juga sebagai anggota Yayasan Percik, mengingatkan saya pada saat saya turut menyambut rombongan dialog antar umat beragama beberapa waktu yang lalu, dimana rombongan terdiri dari 14 orang Indonesia, dengan latar belakang kultur yang berbeda, yaitu Islam dan Kristen. Mereka melakukan perjalanan ke beberapa kota di Australia dengan tujuan untuk menyerap apa yang menjadi program dialog antar umat beragama (interfaith dialogue) maupun program antar budaya (intercultural program) yang sudah dan akan dilakukan di Australia, serta menyampaikan (shared learning) apa-apa yang sudah dan akan mereka kerjakan dengan program-program dialognya di Indonesia. Pada saat rombongan itu datang, ada pendapat dari salah beberapa peserta yang hadir pada saat itu yang menyatakan sebagai berikut:

“… Bagaimana mereka bisa melakukan perjalanan dalam satu rombongan, padahal mereka berasal dari latar belakang yang berbeda, it is amazing …”

Buat mereka, si penanggap tersebut, di Australia menjadi hal yang luar biasa ketika mereka melihat ada rombongan yang datang dan dalam jumlah yang besar, dimana didalamnya terdiri dari latar belakang agama yang berbeda, namun memiliki tujuan yang sama yaitu untuk menjaga keharmonisan di antara umat beragama. Ini menjadi pertanyaan mendasar mereka, apakah hal ini bisa dilakukan di Australia. Walaupun sepertinya pertanyaan yang muncul tersebut justru terlihat aneh, apabila kita lekatkan dalam konteks Indonesia.

Kedatangan Agung dan Benny ini adalah sebagai kelanjutan dari kedatangan rombongan tersebut. Dan sepertinya akan dilanjutkan dengan kegiatan saling mengunjungi diantara warga-warga dari kedua negara, Australia dan Indonesia, dimasa depan.

Sewaktu beramah tamah dengan beberapa warga Indonesia yang tinggal di seputar wilayah Albury – Wodonga, Agung dan Benny memaparkan apa yang menjadi agendanya selama di Australia, manfaat yang akan diperoleh, serta kelanjutan program ini.

Dalam pemaparannya tersebut, terlihat betapa padat jadwal yang telah dipersiapkan oleh pihak penyelenggara di Australia (St. Stephen’s Uniting Church), termasuk kegiatan betukar pengalaman, untuk menyerap dan membagi pengalaman masing-masing. Dengan kegiatan yang super padat tersebut tidak sempat memunculkan wajah kelelahan pada keduanya. Mereka menikmati kunjungannya di Australia. Ketika ditanyakan apakah tidak merasa kangen dengan keluarga, jawaban keduanya adalah bahwa teknologi dapat membantu mengatasinya. Lewat fasilitas telepon dan internet, mereka tetap dapat berkomunikasi dengan keluarganya, dan itu cukup membantu mengobati rasa kangen mereka.

Rasa kangennya justru terkalahkan dengan semangat untuk membagi apa yang telah dialaminya di sini dengan rekan-rekan di Indonesia serta akan digunakan sebagai referensi untuk menyempurnakan program-program dialog yang akan dilakukan kedepannya.

Sementara mereka berada di sini, merekapun menyampaikan bahwa sebanyak 20 siswa dari salah satu sekolah di kota Albury (Scott School) sedang memanfaatkan libur paskahnya selama dua minggu dengan pergi ke Indonesia dengan maksud untuk melakukan kunjungan dan melihat hal yang terkait dengan kehidupan keberagamaan di Jawa Tengah. Konon, mereka akan diberikan kesempatan pula di sana menginap di pesantren demi merasakan suasana ‘asli’ pesantren Indonesia dengan segala ciri khas pesantrennya.

Upaya untuk terus memajukan upaya-upaya dialog antar umat beragama dan antar budaya pun semestinya tetap perlu disemarakkan.  yaitu sebagai salah satu wujud dari inisiatif masyarakat yang ingin turut membantu untuk mewujudkan suasana yang harmonis.

Agung dan Benny, dengan dukungan Yayasan Percik, telah menunjukkan kiprahnya serta betapa penting kiprah yang dilakukannya itu, terutama kaitannya dengan menjaga keharmonisan diantara masyarakat Indonesia. Usaha-usaha seperti ini patut dihargai dan mendapat dukungan yang semestinya. Sehingga tidak akan kehilangan maknanya.

Salam hangat. Bugi.

[diposting juga di sini]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s