<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Bugi Sumirat&#039;s Weblog</title>
	<atom:link href="http://bugisumirat.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://bugisumirat.wordpress.com</link>
	<description>MY WRITINGS</description>
	<lastBuildDate>Mon, 13 May 2013 01:22:22 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='bugisumirat.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://1.gravatar.com/blavatar/3fc79946602cba96f08b9e72c7687beb?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Bugi Sumirat&#039;s Weblog</title>
		<link>http://bugisumirat.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://bugisumirat.wordpress.com/osd.xml" title="Bugi Sumirat&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://bugisumirat.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Kisah heroik ibu-ibu dalam angkot</title>
		<link>http://bugisumirat.wordpress.com/2013/01/29/kisah-heroik-ibu-ibu-dalam-angkot/</link>
		<comments>http://bugisumirat.wordpress.com/2013/01/29/kisah-heroik-ibu-ibu-dalam-angkot/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jan 2013 20:57:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bugi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indoziana]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirations]]></category>
		<category><![CDATA[Social capital]]></category>
		<category><![CDATA[Values]]></category>
		<category><![CDATA[Heroic]]></category>
		<category><![CDATA[Inspiration]]></category>
		<category><![CDATA[Positive value]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bugisumirat.wordpress.com/?p=712</guid>
		<description><![CDATA[Coba kita dengar cerita ini -pengalaman nyata ibu-ibu didalam angkot: Kejadiannya di Bogor, didalam angkot Bogor yang berwarna hijau itu. Kebetulan penumpang di bagian belakang angkot adalah perempuan semua, kecuali yang duduk di dekat pintu, seorang pria dengan penampilan yang rapih dan terlihat sangat alim. Seorang Ibu yang duduk dikursi tambahan yang membelakangi supir agak [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bugisumirat.wordpress.com&#038;blog=13026658&#038;post=712&#038;subd=bugisumirat&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_711" class="wp-caption alignnone" style="width: 655px"><a href="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2013/01/pick-pocket.jpg"><img class="size-large wp-image-711" title="Ilustrasi 'mencopet' (photo source: caminosantiago2.blogspot.com" alt="Copet" src="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2013/01/pick-pocket.jpg?w=645&#038;h=489" width="645" height="489" /></a><p class="wp-caption-text">Copet</p></div>
<p>Coba kita dengar cerita ini -pengalaman nyata ibu-ibu didalam angkot:</p>
<p>Kejadiannya di <strong>Bogor</strong>, didalam angkot <strong>Bogor</strong> yang berwarna hijau itu. Kebetulan penumpang di bagian belakang angkot adalah <strong>perempuan semua</strong>, kecuali yang duduk di dekat pintu, seorang pria dengan penampilan yang rapih dan terlihat sangat alim.</p>
<p>Seorang Ibu yang duduk dikursi tambahan yang membelakangi supir agak menjadi bingung pada saat seorang ibu yang duduk di bagian belakang angkot tersebut memberikan tanda-tanda tertentu dengan kedipan matanya. Namun, tanda-tanda tersebut membuatnya merasa harus lebih berhati-hati saja.</p>
<p>Tidak lama kemudian, si ibu yang memberikan tanda-tanda tertentu tersebut menepuk tangan seorang ibu yang duduk di samping pria yang berpakaian rapih itu. Si ibu yang tadinya terlihat seperti melamun, kemudian menjadi tampak tersadar. Tidak hanya itu, ternyata, tiba-tiba dari sela-sela paha si pria tadi jatuh sebuah dompet berwarna pink dan bermotif <em>hello kitty</em>.</p>
<p>“eh, itu dompet saya.” cetus ibu yang duduk di samping pria tadi seraya mengambil dompetnya. Kemudian dompetnya ia buka untuk memperhatikan isinya.</p>
<p>“iya, benar, ini dompet saya &#8211; ini uangnya, saya baru ambil dari <strong>Bank</strong> tadi. Tadi ada dalam tas saya, kok bisa keluar ya, dicopet nih.” lanjut si ibu tadi.</p>
<p>Barulah semua penumpang bereaksi. Ibu yang duduk membelakangi supir langsung &#8211; dengan berani &#8211; menyilangkan kakinya didekat si pria tadi, katanya, untuk mencegah si pria tadi tersebut turun/kabur dari angkot tadi.</p>
<p>Ibu si pemilik dompet, langsung memukul-mukulkan dompetnya ke wajah si pria itu.</p>
<p>Ibu yang berada di depan si pria itu memukulkan keranjang belanjaannya, yang berisi sayur, ke pria itu.</p>
<p>“dasar copet … dasar copet.” begitu umpatan ibu-ibu didalam angkot sambil memukul si pria yang ternyata memang berusaha mencopet &#8211; tapi karena ada ibu yang sejak awal mengamati dan kemudian menepuk ibu yang akan dicopet, sehingga si ibu kemudian tersadar -  sang copetpun hilang konsentrasi mencopetnya. Ditambah, kaki ibu yang menghalangi jalan keluar itu, membuat ia tidak bisa berkutik.</p>
<p>Setelah berkali-kali minta ampun, akhirnya pencopet itu disuruh turun oleh ibu2 tadi, walau ada pertimbangan untuk menyerahkannya ke polisi. Tetapi mengingat bahwa persoalan dengan polisi itu <em>ribet</em> dan ibu-ibu yang ada didalam angkot masih memiliki <strong>urusan masing-masing</strong> yang harus dikerjakan, pertimbangan itulah yang dipilih.</p>
<p>Setelah si copet turun, ibu-ibu yang lain berterima kasih kepada ibu yang menyadarkan si korban dan ibu yang menjegalkan kakinya di pintu angkot &#8211; yang akhirnya dapat <strong>menggagalkan aksi pencopetan</strong> itu.</p>
<p>Salut deh untuk aksi ibu-ibu ini. Tapi tetap, <strong>harap lebih berhati-hati</strong> lagi ya.</p>
<p>[Posted too at: <a href="http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/01/28/kisah-heroik-ibu-ibu-dalam-angkot-529277.html%5D" rel="nofollow">http://lifestyle.kompasiana.com/catatan/2013/01/28/kisah-heroik-ibu-ibu-dalam-angkot-529277.html%5D</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bugisumirat.wordpress.com/712/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bugisumirat.wordpress.com/712/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bugisumirat.wordpress.com&#038;blog=13026658&#038;post=712&#038;subd=bugisumirat&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bugisumirat.wordpress.com/2013/01/29/kisah-heroik-ibu-ibu-dalam-angkot/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/158fcb6ea0cb4498796b66503c2cd803?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bsumirat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2013/01/pick-pocket.jpg?w=645" medium="image">
			<media:title type="html">Ilustrasi &#039;mencopet&#039; (photo source: caminosantiago2.blogspot.com</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Budaya preman atau preman budaya</title>
		<link>http://bugisumirat.wordpress.com/2013/01/06/budaya-preman-atau-preman-budaya/</link>
		<comments>http://bugisumirat.wordpress.com/2013/01/06/budaya-preman-atau-preman-budaya/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Jan 2013 10:25:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bugi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Indoziana]]></category>
		<category><![CDATA[Values]]></category>
		<category><![CDATA[Culture]]></category>
		<category><![CDATA[value]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bugisumirat.wordpress.com/?p=703</guid>
		<description><![CDATA[Budaya adalah buah dari perpaduan yang serasi dan sepadan antara budi dan daya yang menjelma dengan anggun menjadi budaya dan budaya ini akan bermetamorfosa menghasilkan bentuk dari kegiatan-kegiatan budaya yang disebut dengan kebudayaan. Secara rinci disebutkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai berikut: Budi, memiliki pengertian sebagai alat batin yg merupakan paduan akal dan [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bugisumirat.wordpress.com&#038;blog=13026658&#038;post=703&#038;subd=bugisumirat&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span style="color:#800080;"><a href="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2013/01/badik-keris.jpg"><img class="alignnone  wp-image-708" alt="Bukan untuk diadu" src="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2013/01/badik-keris.jpg?w=451&#038;h=338" width="451" height="338" /></a></span></strong></p>
<p><strong><span style="color:#800080;">Budaya</span></strong> adalah buah dari perpaduan yang serasi dan sepadan antara budi dan daya yang menjelma dengan anggun menjadi budaya dan budaya ini akan bermetamorfosa menghasilkan bentuk dari kegiatan-kegiatan budaya yang disebut dengan kebudayaan.</p>
<p>Secara rinci disebutkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai berikut:</p>
<p><strong><span style="color:#800080;">Budi</span></strong>, memiliki pengertian sebagai alat batin yg merupakan paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk, dapat pula diartikan sebagai tabiat; akhlak, juga dapat dikategorikan sebagai perbuatan baik. Arti lain dari <strong><span style="color:#800080;">budi</span></strong> – masih dari KBBI, dikatakan sebagai daya upaya; ikhtiar, juga budi dapat diartikan sebagai akal – dalam arti kecerdikan menipu atau tipu daya.</p>
<p>Sementara <b><span style="color:#800080;">Daya</span>, </b> dapat diartikan sebagai kemampuan melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak, sebuah kekuatan; tenaga (yang menyebabkan sesuatu bergerak dan sebagainya), akal; ikhtiar; upaya, maupun sebagai suatu muslihat.</p>
<p>Dan <strong><span style="color:#800080;">Kebudayaan</span></strong> merupakan hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia spt kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat, yang dalam pengertian antropologi diartikan sebagai  keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.</p>
<p>Tapi bukan masalah kebudayaan yang akan saya lanjutkan dalam tulisan saya di bawah ini, tetapi pengalaman seorang kolega yang terkait dengan pengertian budaya pada sebagian orang.</p>
<p>Begini ceritanya.</p>
<p>Kolega saya itu berselisih pendapat dengan rekan sekerjanya. Ia pikir, wajarlah jika berselisih pendapat di urusan pekerjaan. Tetapi rupanya si rekan kerjanya ini berpendapat lain. Entah apa yang ada di dalam pikiran si rekan kerja itu, didalam perdebatan selisih pendapat diantara mereka, si rekan kerja itu melontarkan kata-kata dengan emosional, seperti ini:</p>
<p>“Jadi anda mau diselesaikan secara budaya apa? Budaya Sulawesi Selatan (kebetulan si rekan kerjanya itu berasal dari Sulawesi Selatan), budaya Jawa (kolega saya kebetulan berasal dari Jawa) atau budaya apa?”</p>
<p>Mendengar itu saya langsung potong ceritanya,”bener orang itu ngomong begitu?”</p>
<p>“Iya, betul, Kang.”</p>
<p>Penasaran, saya ingin mendengar cerita selanjutnya dari kolega saya itu lagi. Ternyata, kolega saya itu cukup berpikiran arif dan waras. Ia, katanya tidak meladeni kelanjutan dari perdebatan itu dengan membawa persoalan ini dalam konteks ‘budaya’ sesuai pengertian rekan kerjanya itu, tetapi lebih memilih untuk meminta diselesaikan dihadapan <em>big boss</em>nya saja – sesuai dengan tata aturan kerja yang berlaku.</p>
<p>“<span style="color:#0000ff;"><strong><em>Good job</em></strong></span>!” tambahku.</p>
<p>Saya sependapat dengan kolega saya yang dengan gamblang kemudian mengutarakan pendapatnya untuk tidak merespon tantangan &#8216;<strong><span style="color:#800080;">budaya</span></strong>&#8216; tersebut serta tentang pemahaman mengenai budaya lainnya.</p>
<p>Pada dasarnya, budaya – dari daerah manapun, adalah bertujuan mengarah pada kebaikan, sesuai dengan definisi-definisi seperti tersebut di atas.</p>
<p>Akan terlihat aneh jika kemudian, budaya-budaya yang berlainan asal-muasal itu (tapi memilikik tujuan yang sama) dipertentangkan.</p>
<p>Apakah ketika (si rekan kerja itu) menyatakan ingin diselesaikan dengan budaya Sulawesi Selatan, maksudnya adalah menggunakan ‘<strong>cara keras</strong>’ – yang barangkali dalam pikirannya adalah Sulawesi Selatan identik dengan temperamen yang tegas dan keras?</p>
<p>Apakah ketika dinyatakan ingin diselesaikan dengan budaya Jawa, maksudnya adalah ‘cara lembut’ – karena tipikal orang Jawa yang (katanya) <i>klemar-klemer</i>, atau maksudnya adalah ‘cara keras’ ala Jawa?</p>
<p>Wallahualam.</p>
<p>Jika dilihat pakaian adat kedua budaya tersebut, masing-masing dilengkapi dengan senjata tajam. Pakaian adat Sulawesi Selatan dilengkapi dengan badik – senjata khasnya &#8211; yang diletakkan di bagian depan, sementara pakaian adat jawa dilengkapi dengan senjata khasnya yang disebut dengan keris – dan biasanya diletakkan di bagian belakang. Artinya potensi kekerasan dimungkinkan dengan kelengkapan senjata tajam pada pakaian-pakaian daerah tersebut. Tapi jangan lupa, filosifis terdapat senjata tajam dalam pakaian daerah dimaksud adalah sebagai kelengkapan <strong>upaya membela diri</strong> – bukan untuk menyerang tanpa dasar.</p>
<p>Dari persoalan di atas, apa yang disampaikan oleh rekan kerja kolega saya tersebut adalah bentuk dari pendeknya akal dan ketidak mengertian akan fungsi adi luhur budaya maupun kebudayaan – malah mengarah pada bentuk ‘<strong>premanisme</strong>’ – merasa budayanya lebih baik, budayanya lebih kuat. Untuk kasus di atas, lebih tepat kalau ada perselisihan pendapat/permasalahan di kantor, akan sangat wajar jika dikembalikan kepada tata aturan kantor yang berlaku – ‘<strong><span style="color:#800080;">budaya</span></strong>’ kantor yang berlaku dan bukan dibawa ke persoalan budaya – dengan pengertian yang keliru dan kepentingan yang keliru pula.</p>
<p>Melihat hal di atas, tidak heran jika masih banyak di Indonesia ini muncul kasus-kasus perselisihan, kekerasan dan silang sengketa yang mengatas namakan budaya – tetapi mengambil bentuk ‘<strong>premanisme</strong>’. Sebut saja kasus Lampung, Poso, Dayak (Kalimantan) – kasus antar suku, kasus antar etnis, walau setelah puluhan tahun Indonesia merdeka. Jika masih banyak orang berpikiran <i>cupet</i> seperti rekan kolega saya tersebut. Berkata dan bertindak seolah-olah mereka adalah representatif dari budayanya &#8211; padahal, sejatinya, mereka adalah perusak budaya, karena mengimplementasikan pengertian budaya secara salah.</p>
<p>Mudah-mudahan, <i>in the future</i>, akan semakin berkurang orang-orang seperti itu.</p>
<p><em>Keterangan gambar: Sumber gambar Badik: kedaiwarisan.blogspot.com; Sumber gambar keris: indotalisman.com</em></p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;--></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bugisumirat.wordpress.com/703/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bugisumirat.wordpress.com/703/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bugisumirat.wordpress.com&#038;blog=13026658&#038;post=703&#038;subd=bugisumirat&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bugisumirat.wordpress.com/2013/01/06/budaya-preman-atau-preman-budaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/158fcb6ea0cb4498796b66503c2cd803?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bsumirat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2013/01/badik-keris.jpg?w=645" medium="image">
			<media:title type="html">Bukan untuk diadu</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>A Movement for Changing is a must and what is yours?</title>
		<link>http://bugisumirat.wordpress.com/2012/12/10/a-movement-for-changing-is-a-must-and-what-is-yours/</link>
		<comments>http://bugisumirat.wordpress.com/2012/12/10/a-movement-for-changing-is-a-must-and-what-is-yours/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Dec 2012 08:32:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bugi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Capitals]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirations]]></category>
		<category><![CDATA[Social capital]]></category>
		<category><![CDATA[Values]]></category>
		<category><![CDATA[Inspiration]]></category>
		<category><![CDATA[Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Positive value]]></category>
		<category><![CDATA[TEDx]]></category>
		<category><![CDATA[TEDx Makassar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bugisumirat.wordpress.com/?p=694</guid>
		<description><![CDATA[Hari Sabtu, 8 Desember 2012 saya berkesempatan menghadiri acara yang diselenggarakan oleh TEDx Makassar bertajuk ‘KOMUNITAS UNTUK PERUBAHAN’ Sesuai dengan temanya, acara yang disajikannyapun sarat dengan pemaparan tentang komunitas-komunitas yang terlihat dan terrekam ‘berusaha’ untuk melakukan aksi-aksi maupun gerakan yang diyakini dapat menghasilkan perubahan. Penyajiannya adalah dalam bentuk pemutaran video maupun  presentasi oleh mereka yang [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bugisumirat.wordpress.com&#038;blog=13026658&#038;post=694&#038;subd=bugisumirat&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Hari Sabtu, 8 Desember 2012 saya berkesempatan menghadiri acara yang diselenggarakan oleh <a href="http://www.tedxmakassar.com/">TEDx Makassar</a> bertajuk ‘<i>KOMUNITAS UNTUK PERUBAHAN</i>’</p>
<p>Sesuai dengan temanya, acara yang disajikannyapun sarat dengan pemaparan tentang komunitas-komunitas yang terlihat dan terrekam ‘berusaha’ untuk melakukan aksi-aksi maupun gerakan yang diyakini dapat menghasilkan perubahan. Penyajiannya adalah dalam bentuk pemutaran video maupun  presentasi oleh mereka yang dianggap berkontribusi sebagai komunitas penggerak perubahan tersebut.</p>
<p><b>Penggerak Perubahan versi <a href="http://www.tedxmakassar.com/">TEDx</a></b></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Pengalaman negara lain</span></p>
<p>Beberapa video yang diputar selama acara TEDx berlangsung, berisikan kejadian-kejadian yang terjadi di luar negeri terkait dengan beberapa contoh dari aksi yang dapat dikategorikan sebagai gerakan yang mengarah pada terjadinya perubahan. Sebut saja misalnya:</p>
<p>-           Gerakan ‘<em>Before I die</em>’. Gerakan dimotori oleh seorang gadis ini (yang saya lupa untuk mencatatnya secara detail) terlihat sangat sederhana. Setiap , dimana setiap orang diminta untuk menuangkan idenya apa yang akan dilakukan sebelum ia (orang yang menuliskan ide-idenya itu) meninggal. Menurut mereka, jarang mereka mengingat-ingat akan kematian, apalagi ‘diingatkan’ mengenai apa yang akan dilakukan sebelum kematian menjelang. Model pengingat kematian ini menjadi cepat tersebar luas, diikuti oleh banyak orang bahkan sampai ke mancanegara.</p>
<p>-           Ada juga video yang menyampaikan tentang bagaimana memulai sebuah gerakan. Ini video yang menurut saya paling menarik. Video yang memuat pemaparan Derek Silver ini betul-betul menggambarkan bagaimana gerakan itu dimulai. Yang diperlukan tentunya adalah adanya <em>INITIATOR</em> – orang yang memulai gerakan. Dalam video itu terlihat bagaimana seseorang yang melakukan gerakan-gerakan seperti menari di tepi pantai, yang sangat attraktif yang pada akhirnya diikuti oleh sebagian besar pengunjung pantai itu – menjadi sebuah ‘<i>massive dance</i>’. Ditambahkan pula bahwa membuat sebuah gerakan pada akhirnya adalah ‘<i>not about you </i>(<i>leader</i> atau orang yang memulai gerakan)’, tapi lebih kemudian kepada gerakan itu sendiri, kepada <i>the movement</i>. Selanjutnya, <i>leader/initiator</i> perlu meng<i>educate</i> mengenai gerakan itu kemudian kepada yang mengikuti aksi/gerakan tersebut.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Pengalaman dalam negeri</span></p>
<p>Sementara <i>sharing</i> pengalaman dari dalam negeri (lokal Makassar) terdiri dari pemaparan beberapa komunitas seperti: <strong>K</strong><b>omunitas Qui Qui</b> – komunitasnya para perajut; <b>Komunitas makassar berkebun &#8211; </b>mereka pecinta pemanfaatan lahan kosong/tidak terpakai<b>; Komunitas Barongsai </b>– Komunitas Barongsai Makassar; <b>Komunitas ibu-ibu doyan nulis </b>– komunitas yang ditujukan bagi ibu-ibu, khususnya, untuk menyalurkan waktu luangnya kedalam kegiatan menulis hingga menerbitkannya kedalam sebuah buku; <b>Komunitas backpacker </b>– komunitas bagi mereka yang hobi jalan-jalan dengan biaya seminimal mungkin; <b>Komunitas pemerhati pasar lokal </b>– pemerhati pasar-pasar lokal di Makassar; K<b>omunitas pemulung</b> – berupa kegiatan pendampingan para pemulung di TPA (tempat pembuangan akhir) Antang, Makassar dan yang terakhir adalah <b>Pagolo Football Community</b>- persatuan sepak bola untuk mereka mantan pecantu narkoba dan pengidap HIV/AIDS (ODHA &#8211; orang dengan HIV Aids).</p>
<p>Dari komunitas-komunitas yang ditampilkan pada saat itu, saya menaruh perhatian lebih pada dua komunitas, yaitu: Komunitas ibu-ibu doyan nulis dan Pagolo Football Community.</p>
<p>Yang pertama adalah dikarenakan ibu-ibu itu berusaha menggunakan waktu luangnya dengan lebih maksimal dan bermanfaat lagi, yaitu menuangkan ide-ide kedalam tulisan yang berupa cerita untuk anak dan kemudian menerbitkannya. Kita semua sudah mahfum bahwa pekerjaan ibu rumah tangga itu adalah pekerjaan yang mulia dan tidak mengenal waktu serta banyak mencurahkan tenaga. Membuat cerita yang bermuatan bobot mendidik untuk anak sendiri yang kemudian dapat di<i>share</i> kepada orang tua lain dalam bentuk buku, menambah kemulian mereka lagi. Yang menambah kesan pada komunitas ini lagi adalah bahwa mereka semua bermula dari nol, artinya mereka tidak memiliki pengetahuan, kebiasaan menulis dan menerbitkan buku, apalagi buku cerita untuk anak. Tetapi, ya itulah, gerakan ini berhasil ‘menasional’ dan telah memiliki beberapa cabang di Indonesia dan beranggotakan ibu-ibu yang hampir mencapai jumlah 5000 ibu-ibu. Suatu jumah yang tidak bisa dikatakan kecil.</p>
<p>Selanjutnya, Komunitas Pagolo FC, memiliki misi tersendiri yang sangat mulia. Mengingat bahaya Narkoba yang semakin besar merasuk generasi muda Indonesia dan salah satu akibatnya adalah dapat terjangkit penyakit HIV/AIDS (seperti yang diidap oleh sang presenter saat ini). Keberadaan komunitas seperti ini perlu disebarluaskan untuk menjadi ‘duta’ agar memperkenalkan <i>awareness</i>/kepedulian kepada generasi muda Indonesia mengenai bahaya Narkoba. Terkait dengan penyakit HIV/AIDS, keberadaan komunitas ini menjadi penting, mengingat banyak dari kita yang belum memahami betul bagaimana ‘bersikap’ terhadap ODHA. Pesan lainnya adalah, jika seseorang terpuruk, seperti para mantan pecandu tersebut, dan kemudian menabalkan dirinya untuk kembali ke jalan yang benar, masih banyak kontribusi yang bisa mereka berikan baik untuk dirinya sendiri, keluarganya, maupun bangsa dan Negara Indonesia.</p>
<p><b>Pengalaman Pribadi tentang Perubahan</b></p>
<p>Kegiatan yang diselenggarakan oleh <a href="http://www.tedxmakassar.com/">TEDx Makassar</a> ini membuat saya mencoba berkaca terhadap apa yang sudah saya lakukan selama ini, sudahkah saya juga melakukan perubahan?</p>
<p>Beranjak dari situ, saya melihat beberapa hal yang sudah <a href="http://linihijau.com/">saya lakukan</a> mudah-mudahan dapat berkontribusi pada perubahan yang terjadi di masyarakat – walau masih dalam skala kecil dan belum seluruhnya bertindak sebagai <i>initiator</i>.</p>
<p>Namun bukan di situ letak poinnya. Yang terpenting adalah mau bergerak ke arah perubahan yang lebih baik, bergerak dengan skala yang lebih luas, serta dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.</p>
<p>Dan yang saya rasakan – perlunya merubah diri sendiri terlebih dahulu sebelum kita mengupayakan gerakan untuk merubah masyarakat – akan lebih terasa manfaatnya di kedua belah pihak (yang menggerakkan dan yang digerakkan). Terlebih, merubah diri sendiri adalah <b>lebih sulit</b> daripada merubah orang lain.</p>
<p>Kegiatan yang dilaksanakan <a href="http://www.tedxmakassar.com/">TEDx Makassar</a> ini <b>memberikan contoh</b> bagaimana komunitas bergerak kearah perubahan, dan <b>menambah wawasan</b> yang hadir di kegiatan itu bahwa banyak lini yang bisa dilakukan untuk dapat berkontribusi menciptakan komunitas-komunitas yang mengacu pada perubahan di sekitar kita. Entah sebagai <i>leader/initiator</i>, maupun sebagai bagian dari komunitas itu sendiri.</p>
<p>Mereka sudah memulai, bagaimana dengan anda?</p>
<div id="attachment_695" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://bugisumirat.wordpress.com/2012/12/10/a-movement-for-changing-is-a-must-and-what-is-yours/img_20121208_105324/" rel="attachment wp-att-695"><img class="size-medium wp-image-695" alt="TEDx Makassar" src="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/12/img_20121208_105324.jpg?w=300&#038;h=225" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">TEDx Makassar</p></div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bugisumirat.wordpress.com/694/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bugisumirat.wordpress.com/694/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bugisumirat.wordpress.com&#038;blog=13026658&#038;post=694&#038;subd=bugisumirat&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bugisumirat.wordpress.com/2012/12/10/a-movement-for-changing-is-a-must-and-what-is-yours/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/158fcb6ea0cb4498796b66503c2cd803?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bsumirat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/12/img_20121208_105324.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">TEDx Makassar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>(ber) Organisasi itu untuk apa atau untuk siapa?</title>
		<link>http://bugisumirat.wordpress.com/2012/12/03/ber-organisasi-itu-untuk-apa-atau-untuk-siapa/</link>
		<comments>http://bugisumirat.wordpress.com/2012/12/03/ber-organisasi-itu-untuk-apa-atau-untuk-siapa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Dec 2012 18:22:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bugi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Capitals]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirations]]></category>
		<category><![CDATA[Birokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Positive value]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bugisumirat.wordpress.com/?p=681</guid>
		<description><![CDATA[(Sumber foto: organisationdevelopment.org) Tulisan ini disusun ketika menunggu rapat rutin sebuah organisasi yang bersifat internasional yang saya ikuti. Pada jadwal pertemuan kali ini, ada tiga agenda rapat yang dijadwalkan. Tentu akan sibuk sekali rapat kali ini – itu yang ada dalam benak saya. Setelah lebih dari satu jam menunggu, ternyata hanya tiga orang yang hadir [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bugisumirat.wordpress.com&#038;blog=13026658&#038;post=681&#038;subd=bugisumirat&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_682" class="wp-caption alignnone" style="width: 250px"><a href="http://bugisumirat.wordpress.com/2012/12/03/ber-organisasi-itu-untuk-apa-atau-untuk-siapa/organisationdevelopmentdotorg/" rel="attachment wp-att-682"><img class=" wp-image-682" alt="organisationdevelopmentdotorg" src="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/12/organisationdevelopmentdotorg.jpeg?w=240&#038;h=240" height="240" width="240" /></a><p class="wp-caption-text">Organisasi untuk siapa</p></div>
<p>(Sumber foto: organisationdevelopment.org)</p>
<p>Tulisan ini disusun ketika menunggu rapat rutin sebuah organisasi yang bersifat internasional yang saya ikuti.</p>
<p>Pada jadwal pertemuan kali ini, ada tiga agenda rapat yang dijadwalkan. Tentu akan sibuk sekali rapat kali ini – itu yang ada dalam benak saya.</p>
<p>Setelah lebih dari satu jam menunggu, ternyata hanya tiga orang yang hadir (hingga berakhir waktu rapat, tidak ada lagi anggota yang hadir). Sehingga akhirnya, sekitar dua jam kemudian, ketua memutuskan rapat dibatalkan – karena jumlah anggota hadir sangat kurang.</p>
<p>Dari yang tidak hadir, hanya sebagian kecil yang memberitahukan alasan ketidak hadiran mereka. Selebihnya, tidak ada kabar sama sekali.</p>
<p>Atau mungkinkah ketidak hadiran mereka karena organisasi itu tidak menggunakan sistem dan mekanisme yang telah disusun secara standar internasional itu?</p>
<p>Beberapa contoh:</p>
<p>-          Rapat rutin dilaksanakan seminggu sekali dengan hari dan waktu yang sama. Tetapi agenda rapat baru dikirimkan pada hari akan dilaksanakan rapat rutin tersebut (melalui sms). Biasanya sekitar 6-7 jam sebelum pertemuan diadakan, di hari yang sama! Padahal informasi mengenai agenda rapat, dapat diberikan beberapa hari sebelumnya. Juga ada sarana email – melalui milis, yang dapat digunakan untuk memberi informasi mengenai agenda rapat tersebut beberapa hari sebelumnya – dan ini tidak dilakukan.</p>
<p>-          Setiap selesai rapat, tidak ada notulen dibuat dan kemudian dibagikan kepada anggota, baik yang hadir maupun tidak hadir. Padahal statuta organisasi menghendaki setiap rapat rutin harus dibuatkan notulennya – bahkan kelak notulen ini dapat digunakan sebagai bahan pembuatan magazine/newsletter organisasi tersebut. Tanpa adanya notulen, yang tidak hadir tidak mengetahui bagaimana berlangsungnya rapat, apa kesepakatan yang dihasilkan serta langkah apa  yang telah menjadi kesepakatan pada saat rapat yang perlu dilakukan ke depannya.</p>
<p>-          Tidak ada program kerja yang dibuat oleh organisasi ini selama satu tahun berjalan, yang seharusnya program kerja ini dapat dibuat untuk dijadikan acuan kegiatan apa yang menjadi agenda organisasi tersebut, yang terinci dalam kegiatan setiap minggunya. Tanpa program kerja yang jelas, anggota tidak dapat disalahkan jika tidak hadir di rapat rutin dan menganggap tidak penting untuk hadir di rapat (terlepas dari anggota yang dengan alasan yang jelas tidak dapat hadir dalam rapat tersebut). Dengan adanya program kerja tersebut dapat dihindari pertemuan tanpa agenda yang jelas – ataupun agenda dadakan. Dengan disusunnya program kerja, dapat diharapkan agenda rapat rutin setiap minggunya dapat disusun dengan baik, sehingga dapat mengeliminir pertemuan rutin yang inefisien – bahkan dibatalkan.</p>
<p>-          Dan masih banyak contoh-contoh lainnya lagi yang belum dapat disampaikan dalam postingan kali ini.</p>
<p>Dalam hal ini, organisasi – apalagi bersifat internasional, seharusnya bisa menunjukkan  perbedaan dalam hal manajemen, sistem, dan lain-lain, yang lebih baik dibandingkan dengan organisasi yang tidak bersifat internasional.</p>
<p>Tapi perkiraan maupun yang saya alami menunjukkan hal yg tidak demikian.</p>
<p>Rupanya, organisasinya boleh bersifat internasional, tapi manajemen yang ditunjukkan tidak demikian.</p>
<p>Organisasinya boleh internasional, tapi sistem yang berjalan, mengatakan hal yg bertolak belakang.</p>
<p>Organisasinya boleh internasional, tapi  &#8217;<i>manner</i>nya&#8217; jauh dari sifat internasional itu sendiri.</p>
<p>Organisasinya  boleh bersifat internasional, tapi &#8230;&#8230;</p>
<p>- Program kerja tidak punya &#8230;</p>
<p>- Pengurus serta fungsi-fungsi pengurus tidak berjalan sesuai dengan fungsinya&#8230;..</p>
<p>- Banyak anggota, lama maupun baru yang &#8216;buta&#8217; tata cara/aturan organisasi, sehingga terjadi kekikukan organisasi, organisasi dijalankan berdasarkan kebiasaan, bukan aturan&#8230;&#8230;</p>
<p>Sebenarnya, organisasi internasional ini, ditilik dari <i>bylaw</i>nya, bertujuan baik. Dari sisi organisasi, disamping melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial tentunya, organisasi ini bertujuan dapat meningkatkan kemampuan organisasi anggota-anggotanya. Sehingga akan terlihat perbedaan, sebelum menjadi anggota dan setelah menjadi anggota. Yang tadinya rendah kemampuan berorganisasinya, setelah bergabung, akan meningkat kemampuan organisasinya, sekaligus pemahaman, wawasan, dan seterusnya.</p>
<p>Maka, jika melihat hal-hal yang saya sampaikan di atas, pertanyaannya adalah bisakah hal tersebut tercapai? Dan untuk apa serta untuk siapa kita bergabung dalam suatu organisasi? Apakah sekedar ikut-ikutan pula?</p>
<p>Harapan apa yang mereka inginkan dengan bergabung dalam suatu  organisasi – apalagi ada embel-embel internasionalnya itu (diluar dari kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukannya). Apakah hanya karena alasan prestise &#8211; karena telah bergabung dengan organisasi internasional, sehingga sarana pertemuan cukup menjadi sekedar <em>kongkow-kongkow</em>, atau datang duduk-duduk sambil menikmati hidangan kopi dan penganan kecil? Sehingga mengikuti aturan-aturan organisasipun tidak menjadi penting pula?</p>
<p>Pertanyaan itu berlaku juga bagi organisasi-organisasi lain yang diikuti, dengan atau tanpa embel-embel internasional.</p>
<p>Sejatinya, memang menjadi mutlak kita bertanya, kita berorganisasi itu untuk tujuan apa dan untuk siapa. Hanya diri kita yang bisa menjawabnya secara jujur.</p>
<p>Ataukah, memang kita tidak mengetahui apa manfaat sesungguhnya kita bergabung kedalam suatu organisasi. Kalau ini yang terjadi, sayang sekali.</p>
<p>Semoga bermanfaat.</p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;--></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bugisumirat.wordpress.com/681/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bugisumirat.wordpress.com/681/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bugisumirat.wordpress.com&#038;blog=13026658&#038;post=681&#038;subd=bugisumirat&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bugisumirat.wordpress.com/2012/12/03/ber-organisasi-itu-untuk-apa-atau-untuk-siapa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/158fcb6ea0cb4498796b66503c2cd803?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bsumirat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/12/organisationdevelopmentdotorg.jpeg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">organisationdevelopmentdotorg</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Langkah &#8216;kepahlawanan&#8217; dari Sumbawa</title>
		<link>http://bugisumirat.wordpress.com/2012/11/18/langkah-kepahlawanan-dari-sumbawa/</link>
		<comments>http://bugisumirat.wordpress.com/2012/11/18/langkah-kepahlawanan-dari-sumbawa/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Nov 2012 01:24:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bugi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirations]]></category>
		<category><![CDATA[Values]]></category>
		<category><![CDATA[Inspiration]]></category>
		<category><![CDATA[Motivation]]></category>
		<category><![CDATA[Positive value]]></category>
		<category><![CDATA[Sumbawa]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bugisumirat.wordpress.com/?p=673</guid>
		<description><![CDATA[Namanya Bambang, saya kenal sewaktu melakukan penelitian di Kabupaten Sumbawa. Ia adalah seorang pemuda, yang multi-talenta (itu yang kepala desanya katakana), yang juga adalah ketua kelompok tani. Ia lulusan SMA (Sekolah Menengah Atas), dan kebetulan, lulusan SMA di desanya sudah termasuk kedalam golongan orang-orang yang berpendidikan tinggi &#8211; karena rata-rata penduduk di desanya, dapat lulus [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bugisumirat.wordpress.com&#038;blog=13026658&#038;post=673&#038;subd=bugisumirat&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_676" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/11/bambangwahabcrop.jpg"><img class="size-medium wp-image-676" title="Bambang pemuda Sumbawa" alt="" src="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/11/bambangwahabcrop.jpg?w=300&#038;h=275" height="275" width="300" /></a><p class="wp-caption-text">Mas Bambang &#8211; di lahan pertanian dengan kuda kesayangannya &#8211; masih membaca di sela-sela kesibukannya</p></div>
<p>Namanya Bambang, saya kenal sewaktu melakukan penelitian di Kabupaten Sumbawa. Ia adalah seorang pemuda, yang multi-talenta (itu yang kepala desanya katakana), yang juga adalah ketua kelompok tani.</p>
<p>Ia lulusan SMA (Sekolah Menengah Atas), dan kebetulan, lulusan SMA di desanya sudah termasuk kedalam golongan orang-orang yang berpendidikan tinggi &#8211; karena rata-rata penduduk di desanya, dapat lulus SD (sekolah dasar) saja sudah bagus. Jadi, berpendidikan SMA &#8211; sudah termasuk berprestasi.</p>
<p>Lagipula, ia dikenal kreatif, kata orang, bentuk kreatifnya adalah mengerjakan apa saja bisa. Contoh, jadi ketua koperasi, ya. Jadi ketua kelompok tani, ya juga. Jadi petani (ini profesi aslinya &#8211; menurutnya, dan ia lebih senang dikenal sebagai seorang petani), oke. Jadi pegawai kantor desa &#8211; bagian administrasi, ini juga boleh. Untuk yang terakhir ini, menurut kepala desanya,  kecakapan <i>mas</i> Bambang sangat diperlukan untuk kelancaran pelaksanaan tugas di kantor desa.</p>
<p>Sebagai ketua kelompok tani dari suatu kelompok tani yang baru dibentuk pada saat itu, ia secara aklamasi didaulat oleh peserta rapat untuk duduk sebagai ketua. Menurut beberapa anggota kelompok tani yang sempat saya wawancarai, mereka memilih <i>mas</i> Bambang sebagai ketua kelompok tani karena mereka tidak melihat sosok lain yang cukup pantas duduk sebagai ketua bagi kelompok mereka. Jadi, <i>mas</i> Bambang lah yang mereka pilih. <i>mas</i> Bambangpun nampaknya tidak kuasa untuk menolak.</p>
<p>&#8220;Saya <i>nggak</i> enak kalau diberi kepercayaan terus menolak, rasanya bagaimana <i>gitu</i>.&#8221; begitu ujarnya ketika saya tanya mengapa ia mau dan sering dipilih menjadi ketua.</p>
<p>&#8220;Tapi apa anda sanggup melaksanakan semua amanah-amanah itu?&#8221; saya ajukan kembali pertanyaan kepada <i>mas</i> Bambang.</p>
<p>&#8220;Ya … saya harus berusahalah.&#8221; begitu katanya.</p>
<p>&#8220;lagipula, kalau saya diberi amanah, tentu ada konsekuensinya <em>dong</em>.&#8221; tambahnya.</p>
<p>&#8220;konsekuensi?&#8221; tanya saya dengan agak kebingungan.</p>
<p>&#8220;Iya, konsekuensi, <i>mas</i>. Jadi kalau mereka memberikan amanah kepada saya, saya terima untuk tidak mengecewakan mereka. <i>Nah</i>, tentu saya mengharapkan mereka serius dengan pemberian amanah itu, caranya, ya harus mau bantu saya juga <i>dong</i>, <i>kan nggak</i> mungkin saya kerja sendiri, tanpa didukung dan dibantu oleh mereka. Jadi mereka saya minta untuk bertanggung jawab terhadap pilihannya itu, dengan cara  <i>gitu lho mas</i>.&#8221; begitu ujar <i>mas</i> Bambang selanjutnya.</p>
<p>Betul juga pikir saya, masuk akal juga. Pantaslah kalau ia didukung oleh banyak pihak.</p>
<p>Hasil pertama yang ia tunjukkan adalah kelompok taninya berhasil mendapatkan kepercayaan dari sebuah perusahaan swasta untuk mendapatkan kredit petani &#8211; pengadaan pupuk, insektisida dan alat-alat pertanian. Sebuah prestasi yang pantas untuk dicatat, karena membuat senang banyak pihak.</p>
<p>Dua bulan kemudian, semenjak saya bertemu <i>mas</i> Bambang terakhir kalinya, saya menyambangi desa itu lagi. Tapi kali ini ada yang sedikit berbeda. Di sekretariat kelompok tani maupun di kantor desa tidak saya temui <i>mas</i> Bambang. Lho, kemanakah gerangan?</p>
<p>Ternyata <i>mas</i> Bambang akan tidak berada di desa itu untuk waktu sekitar dua bulan ke depan. Ia mengikuti kursus PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) di kantor kabupaten &#8211; sekitar tiga jam perjalanan dengan menggunakan kendaraan umum dari desanya.</p>
<p>PAUD? Bakal jadi profesi baru <i>mas</i> Bambang nih, pikir saya.</p>
<p>Pak Desa juga menambahkan kalau ia menunjuk <i>mas</i> Bambang untuk mewakili desanya karena ia memiliki kemampuan untuk itu. Dan diharapkan <i>mas</i> Bambang kelak mampu mengembangkan PAUD di desanya.</p>
<p>Tapi apa hanya itu alasannya? Penasaran, saya telpon langsung <i>mas</i> Bambang.</p>
<p>Dalam pembicaraan melalui telpon tersebut <i>mas</i> Bambang menjelaskan bahwa ia memang sudah lama memiliki ketertarikan akan dunia pendidikan. Dan sepertinya PAUD ini dapat menjadi salah satu penyaluran keinginannya dan kreatifitasnya. PAUD, menurut <i>mas</i> Bambang, sangat diperlukan terutama di desanya karena PAUD adalah sebagai pintu gerbang bagi anak-anak untuk memasuki dunia pendidikan. Sehingga perlu dilakukan upaya yang serius dan sepenuh hati didalam membuka &#8216;pintu gerbang&#8217; tersebut.</p>
<p>Ketika disinggung mengenai kemungkinan bercampur aduknya hal-hal maupun aktivitas yang digelutinya di desanya, dengan santai tetapi pasti, <i>mas</i> Bambang menjelaskan, bahwa sepulangnya dari pelatihan menjadi guru PAUD ini, ia akan mencoba berkonsentrasi membagi waktu sebaik-baiknya diantara kegiatan-kegiatannya itu. Namun, jika didalam kenyataannya nanti hal itu ternyata dirasa berat sehingga mengharuskan ia harus memilih kegiatan mana yang akan diprioritaskan, <i>mas</i> Bambang menyatakan dengan serius bahwa ia akan <b>memilih untuk menjadi guru PAUD</b> dan membina serta mengembangkan PAUD di desanya.</p>
<p>&#8220;Serius <i>mas</i> Bambang?&#8221; tanya saya ketika mendengar pilihannya itu.</p>
<p>&#8220;Betul <em>mas</em>, saya serius mengenai menjadi guru PAUD dan mengembangkannya. Karena pendidikan usia dini dapat dijadikan dasar meletakkan fondasi pendidikan-pendidikan yang akan dilalui selanjutnya. Dan saya bangga jika saya bisa menjadi bagian dari itu, walaupun sepertinya menjadi ketua kelompok tani, menjadi perangkat desa kelihatan lebih bergengsi, tapi aku mau tetap menjadi guru PAUD.&#8221; begitu penjelasan tambahan <i>mas</i> Bambang.</p>
<p>Oh, <i>mas</i> Bambang, mulianya hatimu dan majunya keinginanmu. Saya cukup mengerti karena ini pasti merupakan keputusan sulit untuk <em>mas </em>Bambang &#8211; apalagi sebagai ketua kelompok tani, seperti yang ia kemukakan di atas, sepertinya lebih &#8216;menjanjikan&#8217; dan &#8216;menguntungkan&#8217;. Saya hanya bisa mendoakan <i>mas</i> Bambang, semoga beliau bisa mewujudkan cita-citanya dan memberikan kontribusi positif bagi kemajuan pendidikan anak-anak di desanya &#8211; dan bahkan di desa-desa di sekitarnya. Menjadi guru PAUD adalah bagian juga dari menjadi seorang pahlawan tanpa tanda jasa.</p>
<p>Semoga <i>mas</i> Bambang bisa menjadi pahlawan di bidang pendidikan yang sesungguhnya terutama di desanya. Contoh kecil dari <a href="http://indonesiaku.lintas.me/article/bugisumirat.wordpress.com/langkah-kepahlawanan-dari-sumbawa-bugi-sumirats-weblog">aksi nyata untuk Indonesia kita tercinta</a> ini. Aamiin.</p>
<p>You can read this article also at: <a href="http://www.lintas.me" rel="nofollow">http://www.lintas.me</a> [http://indonesiaku.lintas.me/article/bugisumirat.wordpress.com/langkah-kepahlawanan-dari-sumbawa-bugi-sumirats-weblog]</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bugisumirat.wordpress.com/673/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bugisumirat.wordpress.com/673/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bugisumirat.wordpress.com&#038;blog=13026658&#038;post=673&#038;subd=bugisumirat&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bugisumirat.wordpress.com/2012/11/18/langkah-kepahlawanan-dari-sumbawa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/158fcb6ea0cb4498796b66503c2cd803?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bsumirat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/11/bambangwahabcrop.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Bambang pemuda Sumbawa</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Cantik dan ganteng, definisinya di jaman kiwari</title>
		<link>http://bugisumirat.wordpress.com/2012/10/23/cantik-dan-ganteng/</link>
		<comments>http://bugisumirat.wordpress.com/2012/10/23/cantik-dan-ganteng/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Oct 2012 08:00:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bugi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Inspirations]]></category>
		<category><![CDATA[Reflection]]></category>
		<category><![CDATA[Values]]></category>
		<category><![CDATA[Cantik]]></category>
		<category><![CDATA[ganteng]]></category>
		<category><![CDATA[Inspiration]]></category>
		<category><![CDATA[value]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bugisumirat.wordpress.com/2012/10/23/cantik-dan-ganteng/</guid>
		<description><![CDATA[Dibutuhkan wanita yang memiliki kriteria sebagai berikut: Berkulit putih, Bertampang &#8216;indo&#8217; &#8211; ke bule-bule-an, Tinggi, Hidung agak mancung (bukan ke dalam) Wangi parfum mahal, Benda-benda yang digunakannya dari produk terkenal. Kaya Berambut lurus dan panjang &#8211; bisa di highlight sedikit blonde Bentuk tubuh seksi, akan lebih baik bila berani diperlihatkan ke publik keseksiannya, Senang mengenakan [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bugisumirat.wordpress.com&#038;blog=13026658&#038;post=669&#038;subd=bugisumirat&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>Dibutuhkan wanita yang memiliki kriteria sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Berkulit putih,</li>
<li>Bertampang &#8216;indo&#8217; &#8211; ke bule-bule-an,</li>
<li>Tinggi,</li>
<li>Hidung agak mancung (bukan ke dalam)</li>
<li>Wangi parfum mahal,</li>
<li>Benda-benda yang digunakannya dari produk terkenal.</li>
<li>Kaya</li>
<li>Berambut lurus dan panjang &#8211; bisa di <i>highlight</i> sedikit blonde</li>
<li>Bentuk tubuh seksi, akan lebih baik bila berani diperlihatkan ke publik keseksiannya,</li>
<li>Senang mengenakan rok mini,</li>
<li>Bagian atas tubuh mengenakan busana <i>lekton</i> (<i>kele&#8217;e katon</i>, bhs. Jawa)</li>
<li>Ber<i>-High heels</i>,</li>
<li>Lemah gemulai</li>
</ul>
<p>Terbaca pula,</p>
<p>Dibutuhkan pria yang memiliki kriteria sebagai berikut:</p>
<ul>
<li>Berkulit putih,</li>
<li>Bertampang &#8216;indo&#8217; &#8211; ke bule-bule-an,</li>
<li>Tinggi,</li>
<li>Hidung agak mancung (bukan ke dalam)</li>
<li>Wangi parfum mahal,</li>
<li>Benda-benda yang digunakannya dari produk terkenal,</li>
<li>Kaya,</li>
<li>Bentuk tubuh macho &#8211; triceps, biceps, fourceps dst tertata rapih,</li>
<li>Senang otomotif,</li>
<li>Senang <i>new gadget</i>,</li>
<li>Senang dikatakan cowok metroseksual.</li>
</ul>
<p>Itu yang sekarang dikatakan wanita cantik dan itu yang akhir-akhir ini dikategorikan pria ganteng.</p>
<p>Itu yang laku di sinetron-sinetron Indonesia, walau kemampuan aktingnya dibawah rata-rata. Yang penting, masuk kategori cantik, yang penting, orang bilang ganteng, dan semuanya enak dilihat.</p>
<p>Yang tidak memiliki kriteria seperti tersebut di atas, ke laut saja. Atau banyak tidur untuk mendatangkan mimpi-mimpi indah.</p>
<p>Dalam mimpi, aku secantik mereka. Dalam mimpi, aku seganteng mereka. Dan ketika sudah bangun dari mimpinya, <em>hellooo, you are what you are</em>.</p>
<p>Ini bentuk penjajahan gaya baru, indoktrinasi gaya baru.</p>
<p>Si putih menjajah si hitam,</p>
<p>Si kaya menjajah si miskin,</p>
<p>Si terkenal menjajah si tidak terkenal.</p>
<p>Harus kemana mereka, paling-paling disuruh ke laut saja, <i>deh</i>.</p>
<p>Ga penting alim, yang penting cantik dan ganteng,</p>
<p>Ga penting pinter, yang penting cantik dan ganteng,</p>
<p>Ga penting jujur, yang penting kaya,</p>
<p>Ga penting sederhana, yang penting terkenal.</p>
<p>Walau cuma sesaat, tapi itu yang merebak bak datangnya banjir kiriman dari Bogor,</p>
<p>Mereka mengejar mimpi,</p>
<p>Mereka mengejar ketenaran,</p>
<p>Kalau tidak teraih, jadilah frustasi,</p>
<p>Ujung-ujungnya nenggak ekstasi.</p>
<p>Mumpung masih ada waktu,</p>
<p>Yuk sadar yuk,</p>
<p>Masih ada nilai-nilai penting yang harus dijaga.</p>
<p>Jujur itu penting,</p>
<p>Sederhana itu penting,</p>
<p>Pintar itu penting,</p>
<p>Berahlak mulia itu penting,</p>
<p>Memiliki kemampuan sosial itu penting,</p>
<p>Bersedekah itu penting,</p>
<p>Memiliki rasa empati sesama itu penting,</p>
<p>Dan banyak nilai-nilai penting lainnya,</p>
<p>Yang selama ini ternomor duakan, atau bahkan</p>
<p>Ternomor sekiankan.</p>
<p>Biarlah mereka yang lebih senang bermimpi,</p>
<p>Bukan melihat kenyataan,</p>
<p>Ketika bangun baru tersadar,</p>
<p><em>You&#8217;re in the real world, man</em>!</p>
<p>Menjadi cantik tidak salah,</p>
<p>Menjadi ganteng tidak salah,</p>
<p>Yang salah adalah kita menjadi cantik dan ganteng hanya mengikuti kriteria orang lain,</p>
<p>Bukan kriteria yang kita miliki.</p>
<p>Yakin dong,</p>
<p>Kita sudah cantik,</p>
<p>Kita sudah ganteng,</p>
<p>Tanpa harus memiliki kriteria-kriteria di atas,</p>
<p><em>Be yourself aja</em> deh.<br />
<h2 class="post-title"><a href="http://bugisumirat.wordpress.com/2012/10/23/cantik-dan-ganteng/" title="Permalink to Cantik dan ganteng, definisinya di jaman&nbsp;kiwari" rel="bookmark">Cantik dan ganteng, definisinya di jaman&nbsp;kiwari</a></h2>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bugisumirat.wordpress.com/669/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bugisumirat.wordpress.com/669/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bugisumirat.wordpress.com&#038;blog=13026658&#038;post=669&#038;subd=bugisumirat&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bugisumirat.wordpress.com/2012/10/23/cantik-dan-ganteng/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/158fcb6ea0cb4498796b66503c2cd803?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bsumirat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Social approach for forestry development in Indonesia is a requirement to increase community welfare</title>
		<link>http://bugisumirat.wordpress.com/2012/07/31/social-approach-for-forestry-development-in-indonesia-is-a-requirement-to-increase-community-welfare/</link>
		<comments>http://bugisumirat.wordpress.com/2012/07/31/social-approach-for-forestry-development-in-indonesia-is-a-requirement-to-increase-community-welfare/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 31 Jul 2012 16:26:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bugi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Forestry]]></category>
		<category><![CDATA[Inspirations]]></category>
		<category><![CDATA[Social capital]]></category>
		<category><![CDATA[Inspiration]]></category>
		<category><![CDATA[Linihijau]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bugisumirat.wordpress.com/?p=667</guid>
		<description><![CDATA[[This article was reblogged from:Linihijau.com] The title above is adequately long. It intended to emphasise the main concern need to be put in Forestry sector, i.e.; community welfare, Forestry development and sociology approach. In the Research Expose Seminar that was held by FORDA Makassar (Balai Penelitian Kehutanan Makassar) at Swiss-Bel Inn, Makassar – 28 June [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bugisumirat.wordpress.com&#038;blog=13026658&#038;post=667&#038;subd=bugisumirat&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p>[This article was reblogged from:<a href="http://linihijau.com/2012/07/31/social-approach-for-forestry-development-in-indonesia-is-a-requirement-to-increase-community-welfare/">Linihijau.com</a>]</p>
<p>The title above is adequately long. It intended to emphasise the main concern need to be put in Forestry sector, i.e.; community welfare, Forestry development and sociology approach.</p>
<p>In the Research Expose Seminar that was held by FORDA Makassar (Balai Penelitian Kehutanan Makassar) at Swiss-Bel Inn, Makassar – 28 June 2012, under the seminar theme: the Role of Science and Technology for Forestry Development and Community Welfare in Wallace region, I delivered paper presentation entitled: Increasing Social Capital of Farmer Forest Groups sustainably.</p>
<p>I received heaps of interesting responses and questions, especially in dealing with community participation, welfare and social capital. Herewith, below, I would like to share some of those.</p>
<p>Responses I received were from various background, such as local government, central government, NGO and forestry extension staff, i.e.:</p>
<p>- It was difficult to deal with community – they are so ‘fuzzy’, i.e. low participation, low motivation, low learning capability. In this sense, what was the cause of these reasons?</p>
<p>- Is there any ‘recipe’ to deal with community to maximise the impact, especially impact to community?</p>
<p>- If there was a government project (example: HKM-Community Forestry), the project was successfully undertaken and providing fruitful results, but, it seemed the local government was not able to ‘grab’ those provided potential positive impact, especially, to enhance community welfare and groups’ capacity. What happened was that – based on experiences – when the government project finished no longer of positive results from the project existed. The worst thing was that community went back to their previous nature or situation as prior to the project executed.</p>
<p>- FFGs were in up and down condition. Up, when groups were attached in a government project/s and Down when there were was no further project or the project was stopped. In this case, what was the effort need to be undertaken to empower FFGs?</p>
<p>- Another feedback was that in Bulukumba, forestry programs was assumed to be paralleled as the emerge of wild boars, ruining their seedlings. It was harmful for them. It supposed to happen due to less coordination between Dinas and FFGs.</p>
<p>Responding to those aforementioned feedback, my responses were:</p>
<p>&#8230; <em>For continue reading please visit the original article at <a title="Linihijau" href="http://linihijau.com/2012/07/31/social-approach-for-forestry-development-in-indonesia-is-a-requirement-to-increase-community-welfare/">Linihijau.com</a> &#8230;.</em></p>
<p>Thank you.</p>
<p>Bugi Sumirat</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bugisumirat.wordpress.com/667/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bugisumirat.wordpress.com/667/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bugisumirat.wordpress.com&#038;blog=13026658&#038;post=667&#038;subd=bugisumirat&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bugisumirat.wordpress.com/2012/07/31/social-approach-for-forestry-development-in-indonesia-is-a-requirement-to-increase-community-welfare/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/158fcb6ea0cb4498796b66503c2cd803?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bsumirat</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bambu, pertanda adat dan manfaatnya di Sulawesi Selatan</title>
		<link>http://bugisumirat.wordpress.com/2012/07/23/bambu-pertanda-adat-dan-manfaatnya-di-sulawesi-selatan/</link>
		<comments>http://bugisumirat.wordpress.com/2012/07/23/bambu-pertanda-adat-dan-manfaatnya-di-sulawesi-selatan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Jul 2012 04:58:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bugi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Capitals]]></category>
		<category><![CDATA[Forestry]]></category>
		<category><![CDATA[Indoziana]]></category>
		<category><![CDATA[Wisdoms]]></category>
		<category><![CDATA[Positive value]]></category>
		<category><![CDATA[Tradition]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bugisumirat.wordpress.com/?p=662</guid>
		<description><![CDATA[Masyarakat di Sulawesi Selatan menyebutnya dengan Alasugi, Lasugi, atau bahkan kadang disebut Balli. Saya mengenal nama ini sewaktu melakukan kunjungan lapangan ke Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu sebuah bangunan sederhana di depan rumah penduduk. Bukan sekedar bangunan biasa, walau (hanya) terbuat dari bambu. Masyarakat menyebutnya dengan Alasugi atau Lasugi atau Balli, adalah sebutan untuk [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bugisumirat.wordpress.com&#038;blog=13026658&#038;post=662&#038;subd=bugisumirat&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_663" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/07/cimg2160resized.jpg"><img class="size-medium wp-image-663" title="Alasugi/Lasugi/Balla yang dibangun di depan rumah (dok. pribadi)" src="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/07/cimg2160resized.jpg?w=300&#038;h=225" alt="Alasugi/Lasugi/Balla yang dibangun di depan rumah (dok. pribadi)" width="300" height="225" /></a><p class="wp-caption-text">Alasugi/Lasugi/Balla yang dibangun di depan rumah (dok. pribadi)</p></div>
<p>Masyarakat di Sulawesi Selatan menyebutnya dengan Alasugi, Lasugi, atau bahkan kadang disebut Balli. Saya mengenal nama ini sewaktu melakukan kunjungan lapangan ke Kabupaten Bulukumba, Provinsi Sulawesi Selatan, yaitu sebuah bangunan sederhana di depan rumah penduduk.</p>
<div id="attachment_664" class="wp-caption alignnone" style="width: 235px"><a href="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/07/cimg2157resized.jpg"><img class="size-medium wp-image-664" title="Rumah panggung - Kab. Bulukumba (dok. pribadi)" src="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/07/cimg2157resized.jpg?w=225&#038;h=300" alt="Rumah panggung - Kab. Bulukumba (dok. pribadi)" width="225" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Rumah panggung &#8211; Kab. Bulukumba (dok. pribadi)</p></div>
<p>Bukan sekedar bangunan biasa, walau (hanya) terbuat dari bambu. Masyarakat menyebutnya dengan Alasugi atau Lasugi atau Balli, adalah sebutan untuk &#8216;gapura&#8217; yang terbuat berbahan dasar bambu. Dipasang didepan rumah sebagai gapura dan memiliki fungsi pertanda bahwa di rumah tersebut akan dilangsungkan suatu acara besar, yaitu pernikahan, dan pernikahan yang dilakukannya adalah yang penuh ritual dan bermartabat.</p>
<p>Read more (ingin tahu lebih lanjut)? silahkan klik link berikut ini: <a href="http://linihijau.com/2012/07/20/bambu-pertanda-adat-dan-manfaatnya-di-sulawesi-selatan/" rel="nofollow">http://linihijau.com/2012/07/20/bambu-pertanda-adat-dan-manfaatnya-di-sulawesi-selatan/</a></p>
<p>Happy reading,</p>
<p>Terima kasih.</p>
<p>Bugi Sumirat</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bugisumirat.wordpress.com/662/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bugisumirat.wordpress.com/662/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bugisumirat.wordpress.com&#038;blog=13026658&#038;post=662&#038;subd=bugisumirat&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bugisumirat.wordpress.com/2012/07/23/bambu-pertanda-adat-dan-manfaatnya-di-sulawesi-selatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/158fcb6ea0cb4498796b66503c2cd803?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bsumirat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/07/cimg2160resized.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Alasugi/Lasugi/Balla yang dibangun di depan rumah (dok. pribadi)</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/07/cimg2157resized.jpg?w=225" medium="image">
			<media:title type="html">Rumah panggung - Kab. Bulukumba (dok. pribadi)</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Telah lahir penulis-penulis muda Makassar dan mereka anak pesantren</title>
		<link>http://bugisumirat.wordpress.com/2012/06/06/telah-lahir-penulis-penulis-muda-makassar-dan-mereka-anak-pesantren/</link>
		<comments>http://bugisumirat.wordpress.com/2012/06/06/telah-lahir-penulis-penulis-muda-makassar-dan-mereka-anak-pesantren/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jun 2012 04:08:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bugi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Social capital]]></category>
		<category><![CDATA[Values]]></category>
		<category><![CDATA[Blogging Workshop]]></category>
		<category><![CDATA[Darul Aman]]></category>
		<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Linihijau]]></category>
		<category><![CDATA[Pesantren]]></category>
		<category><![CDATA[Writing Workshop]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bugisumirat.wordpress.com/?p=652</guid>
		<description><![CDATA[Kami anak pesantren dan kami penulis muda, begitulah  ikrar yang dikumandangkan penulis-penulis muda Makassar, yang adalah anak-anak pesantren. Mereka merupakan luaran dari workshop yang diadakan pada tanggal 23-24 Mei 2012. Workshop ini mengambil judul writing and blogging workshop for pesantren dengan tema &#8216;pesantren peduli lingkungan dengan menulis&#8216;. Workshop yang dilaksanakan selama dua hari ini terselenggara [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bugisumirat.wordpress.com&#038;blog=13026658&#038;post=652&#038;subd=bugisumirat&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div id="attachment_653" class="wp-caption alignnone" style="width: 265px"><a href="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/06/cimg2705crop.jpg"><img class="size-medium wp-image-653" title="Writing and blogging workshop" src="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/06/cimg2705crop.jpg?w=255&#038;h=300" alt="Key chain for workshop participants" width="255" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Key chain for workshop participants</p></div>
<p>Kami anak pesantren dan kami penulis muda, begitulah  ikrar yang dikumandangkan penulis-penulis muda Makassar, yang adalah anak-anak pesantren. Mereka merupakan luaran dari workshop yang diadakan pada tanggal 23-24 Mei 2012. <em>Workshop</em> ini mengambil judul<em> <strong>writing and blogging workshop for</strong></em> pesantren dengan tema &#8216;<strong>pesantren peduli lingkungan dengan menulis</strong>&#8216;.</p>
<div id="attachment_654" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/06/cimg2682crop.jpg"><img class="size-medium wp-image-654" title="Writing and blogging workshop" src="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/06/cimg2682crop.jpg?w=300&#038;h=109" alt="Workshop banner" width="300" height="109" /></a><p class="wp-caption-text">Workshop banner</p></div>
<p><em>Workshop</em> yang dilaksanakan selama dua hari ini terselenggara atas kerjasama lembaga <strong>Linihijau</strong> (<a href="http://linihijau.com/">http://linihijau.com</a>), <strong>Rotary Club of Ujung Pandang</strong> (RCUP) dan P<strong>esantren Darul Aman</strong> &#8211; Gombara, Makassar, Sulawesi Selatan, yang sekaligus merupakan tempat pelaksanaan <em>workshop</em> ini.</p>
<div id="attachment_655" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/06/cimg2686crop.jpg"><img class="size-medium wp-image-655" title="Writing and blogging workshop" src="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/06/cimg2686crop.jpg?w=300&#038;h=200" alt="Peserta putra" width="300" height="200" /></a><p class="wp-caption-text">Peserta putra</p></div>
<p><strong>Linihijau</strong> berperan dalam penyiapan materi <em>workshop</em> &#8211; serta hal-hal yang terkait dengan lingkungan, RCUP sebagai organisasi asal pemateri (saya sendiri) dan merupakan bagian dari <em>vocational service</em> pemateri sebagai seorang rotarian dan pihak terakhir yang dilibatkan adalah Pesantren Darul Aman, yang menyatakan kesediaan serta ketertarikan yang luar biasa untuk pelaksanaan <em>writing</em> dan <em>blogging workshop</em> &#8211; untuk menyaring dan memunculkan penulis-penulis muda &#8211; anak-anak pesantren.</p>
<div id="attachment_656" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/06/cimg2695crop.jpg"><img class="size-medium wp-image-656" title="Writing and blogging workshop" src="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/06/cimg2695crop.jpg?w=300&#038;h=186" alt="Peserta putri" width="300" height="186" /></a><p class="wp-caption-text">Peserta putri</p></div>
<p><em>Workshop</em> dibagi kedalam dua hari, menyesuaikan dengan pemisahan peserta. Peserta putra terpisah dengan peserta putri. Pemisahan peserta <em>workshop</em> ini ternyata justru memunculkan kekhasan tersendiri.</p>
<p>Apa saja kekhasan tersebut, bisa disimak dalam penjelasan di bawah ini.</p>
<p>Peserta ditargetkan tidak lebih dari 20 orang peserta putra dan 20 orang peserta putri &#8211; dengan kriteria siswa/siswi SMA kelas satu maupun dua (Kelas tiga tidak diperkenankan dulu, mengingat akan memasuki masa ujian). Untuk itu, pihak pesantren perlu menyaring mereka yang menunjukkan minat terhadap dunia tulis-menulislah yang diprioritaskan. Dari hasil penyaringan, terpilih 15 calon peserta putra dan  17 calon peserta putri.</p>
<div id="attachment_658" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/06/cimg2691crop.jpg"><img class="size-medium wp-image-658" title="Writing and blogging workshop" src="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/06/cimg2691crop.jpg?w=300&#038;h=143" alt="Bersama peserta putra" width="300" height="143" /></a><p class="wp-caption-text">Bersama peserta putra</p></div>
<p>Dari workshop putra, teridentifikasi bahwa sudah ada tiga orang yang memiliki blog &#8211; namun satu orang belum mengisi blognya dengan satu tulisanpun &#8211; karena, katanya, belum memahami bagaimana mengisinya &#8211; &#8220;<em>menulis itu sulit</em>&#8220;, paparnya (yang diamini pula oleh peserta-peserta lainnya); enam orang suka menulis artikel &#8211; tetapi belum dipublikasikan dan hanya sebatas disimpan sebagai catatan di kamar; serta satu orang sudah memiliki tiga buah draft naskah cerpen &#8211; yang sekali lagi &#8211; tidak tahu bagaimana dan kemana mempublikasikannya. <em>Amazing, isn&#8217;t it</em>?</p>
<div id="attachment_659" class="wp-caption alignnone" style="width: 310px"><a href="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/06/cimg2699crop.jpg"><img class="size-medium wp-image-659" title="Writing and blogging workshop" src="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/06/cimg2699crop.jpg?w=300&#038;h=121" alt="Bersama peserta putri dan KH. Abdul Djalil (pimp. pesantren)" width="300" height="121" /></a><p class="wp-caption-text">Bersama peserta putri dan KH. Abdul Djalil (pimp. pesantren)</p></div>
<p>Itu peserta- peserta putra, sekarang bagaimana yang putri? Tidak kalah menariknya. Dari 17 peserta, walau belum ada satupun yang memiliki blog, namun hampir seluruhnya telah memiliki naskah puisi; 10 orang sudah memiliki draft naskah cerpen; tiga orang memiliki beberapa artikel yang sudah selesai ditulis; satu orang pernah menjadi ketua perkumpulan penulis jurnal; serta satu orang pernah mengikuti pelatihan menulis &#8211; sewaktu usia SD &#8211; dan dari pelatihan tersebut telah dihasilkan beberapa puisi dan tulisan yang telah dipublikasikan di media lokal. Sementara puisi-puisi, draft cerpen serta naskah artikel yang sudah selesai seperti disebutkan diatas, belum ada satupun yang dipublikasikan. Hanya tersimpan rapi dalam koper di kamar masing-masing. Potensi-potensi menulis yang masih memerlukan saluran penyaluran dan polesan lebih lanjut.</p>
<p>Hal membanggakan lainnya adalah bahwa sekitar 30 persen dari peserta workshop sudah berani secara tegas menyatakan bahwa memiliki cita-cita untuk menjadi seorang penulis yang profesional. Suatu hal yang sangat perlu diapresiasi &#8211; mengingat masih belum sebandingnya dengan jumlah penulis yang Indonesia miliki dibandingkan dengan jumlah penduduknya. <em>Two thumbs up for you, guys</em>.</p>
<div id="attachment_660" class="wp-caption alignnone" style="width: 248px"><a href="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/06/cimg2704crop.jpg"><img class="size-medium wp-image-660" title="Writing and blogging workshop" src="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/06/cimg2704crop.jpg?w=238&#038;h=300" alt="Linihijau.com" width="238" height="300" /></a><p class="wp-caption-text">Linihijau.com</p></div>
<p>Keluhan mengenai sulitnya menulis, tidak tahu apa yang ingin ditulis, tidak tahu harus disalurkan kemana untuk naskah-naskah yang sudah jadi adalah beberapa problema yang muncul dalam workshop yang dikemas selama dua hari tersebut. Kebingungan inilah yang mendorong mereka untuk semangat mengikuti workshop dari awal hingga akhir.</p>
<p>Tugas berat untuk pemateri, namun, seperti kata kalimat bijak,&#8221;<em>there is no single recipe</em>&#8220;, materi yang diberikan dalam workshop-pun mencoba memberikan beberapa &#8216;<em>recipe</em>&#8216; yang dirasa perlu serta motivasi untuk terus menulis. Selanjutnya adalah usaha para penulis-penulis muda ini untuk mengolah dan menghasilkan resep-resep lanjutannya. Hal ini memerlukan tindak lanjut. Untuk itu pulalah, workshop tidak berhenti dalam dua hari tersebut, tetapi dilanjutkan dengan kegiatan berikutnya. Peserta diberi tugas untuk menulis artikel yang terkait dengan lingkungan (minimal dua halaman berspasi tunggal dan maksimal lima halaman) dengan waktu penulisan diberikan selama dua minggu.  Dari tulisan yang masuk nantinya akan dilihat sejauh mana peserta bisa memanfaatkan hasil dari <em>workshop</em> ini. &#8216;Imbalan&#8217; yang menarik telah disampaikan oleh pihak pesantren yaitu bahwa keseriusan mereka dalam menghasilkan tulisan-tulisan yang baik akan diberikan kesempatan untuk diterbitkan &#8211; dibuat menjadi sebuah buku! Luar biasa, bukan?</p>
<p>Yang membanggakan pula adalah bahwa selepas <em>workshop</em>, mereka bersepakat untuk membentuk &#8216;<strong>writing club</strong>&#8216; -  untuk saling mengasah dan meningkatkan terus kemampuan diantara mereka.</p>
<p>Sebagai tambahan, bagi saya pribadi, kegiatan ini saya gagas dan kembangkan, terinspirasi  dan termotivasi dari kegiatan yang pernah saya ikuti, yaitu <strong>Blogshop Kompasiana</strong> yang saya ikuti &#8211; diselenggarakan di Makassar pada tanggal 31 Maret lalu, serta aktivitas saya bersama rekan-rekan <strong>Blogor</strong> (Blogger Bogor) seperti membuat tulisan bersama-sama (cerita berantai), menjadi editor, hingga menerbitkan buku. Serta pengalaman yang saya rasakan manfaatnya selama ini sebagai <strong>blogger</strong>.</p>
<p>Selamat datang penulis-penulis muda Makassar, semoga semangat serta keseriusan yang anda tunjukkan kelak akan membuahkan hasil yang sepadan. Selamat.</p>
<p>(Mengenai kelanjutan dari tulisan yang dibuat oleh peserta <em>workshop</em> tersebut serta aktivitas ngeblog para santri dan santriwati ini akan dimuat dalam postingan yang terpisah)</p>
<p>Posted too at: <a href="http://muda.kompasiana.com/2012/05/26/telah-lahir-penulis-penulis-muda-makassar-dan-mereka-anak-pesantren/" rel="nofollow">http://muda.kompasiana.com/2012/05/26/telah-lahir-penulis-penulis-muda-makassar-dan-mereka-anak-pesantren/</a></p>
<p>link tulisan terkait:</p>
<p>Woro-woro: <a href="http://linihijau.com/2012/05/23/writing-and-blogging-workshop-sponsored-by-linihijau/" rel="nofollow">http://linihijau.com/2012/05/23/writing-and-blogging-workshop-sponsored-by-linihijau/</a></p>
<p>Blogshop Kompasiana di Makassar: <a href="http://sosbud.kompasiana.com/2012/04/02/blogshop-ibkompasiana-memicu-lahirnya-penulis-muda-makassar/" rel="nofollow">http://sosbud.kompasiana.com/2012/04/02/blogshop-ibkompasiana-memicu-lahirnya-penulis-muda-makassar/</a></p>
<p>Photos: uploaded from my collection</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/bugisumirat.wordpress.com/652/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/bugisumirat.wordpress.com/652/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bugisumirat.wordpress.com&#038;blog=13026658&#038;post=652&#038;subd=bugisumirat&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bugisumirat.wordpress.com/2012/06/06/telah-lahir-penulis-penulis-muda-makassar-dan-mereka-anak-pesantren/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/158fcb6ea0cb4498796b66503c2cd803?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bsumirat</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/06/cimg2705crop.jpg?w=255" medium="image">
			<media:title type="html">Writing and blogging workshop</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/06/cimg2682crop.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Writing and blogging workshop</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/06/cimg2686crop.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Writing and blogging workshop</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/06/cimg2695crop.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Writing and blogging workshop</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/06/cimg2691crop.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Writing and blogging workshop</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/06/cimg2699crop.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">Writing and blogging workshop</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://bugisumirat.files.wordpress.com/2012/06/cimg2704crop.jpg?w=238" medium="image">
			<media:title type="html">Writing and blogging workshop</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mempersiapkan Komunitas Pengelola Hutan dalam REDD</title>
		<link>http://bugisumirat.wordpress.com/2012/04/16/650/</link>
		<comments>http://bugisumirat.wordpress.com/2012/04/16/650/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Apr 2012 08:25:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Bugi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://bugisumirat.wordpress.com/2012/04/16/650/</guid>
		<description><![CDATA[Reblogged from Kehutanan Masyarakat: Oleh: Andri Santosa RED, dimana kemudian menjadi REDD dan REDD+, adalah mekanisme yang diajukan untuk mendapatkan insentif dari upaya penghindaran deforestrasi (dan degradasi) serta upaya konservasi, pengelolaan hutan yang berkelanjutan, penyimpanan dan penyerapan karbon.  Konsep dasar REDD adalah negara, pemerintah, perusahaan, proyek atau pemilik hutan di negara Selatan harus diberi reward [&#8230;]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=bugisumirat.wordpress.com&#038;blog=13026658&#038;post=650&#038;subd=bugisumirat&#038;ref=&#038;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<div class="reblog-post"><p class="reblog-from"><img alt='' src='http://1.gravatar.com/avatar/da37550f84af2bcf4f1aa371b202fcdf?s=25&amp;d=identicon&amp;r=G' class='avatar avatar-25' height='25' width='25' /> <a href="http://fkkehutananmasyarakat.wordpress.com/2012/04/12/mempersiapkan-komunitas-pengelola-hutan-dalam-redd/">Reblogged from Kehutanan Masyarakat:</a></p><div class="wpcom-enhanced-excerpt"><div class="wpcom-enhanced-excerpt-content">
<p><strong>Oleh: Andri Santosa</strong></p>
<p>RED, dimana kemudian menjadi REDD dan REDD+, adalah mekanisme yang diajukan untuk mendapatkan insentif dari upaya penghindaran deforestrasi (dan degradasi) serta upaya konservasi, pengelolaan hutan yang berkelanjutan, penyimpanan dan penyerapan karbon.  Konsep dasar REDD adalah negara, pemerintah, perusahaan, proyek atau pemilik hutan di negara Selatan harus diberi reward dari kegiatan penyelamatan hutan yang dilakukan oleh negara-negara Utara.  Emisi yang dikreditkan kemudian disertifikasi dan dijual di pasar internasional.</p>
</div> <p class="read-more"><a href="http://fkkehutananmasyarakat.wordpress.com/2012/04/12/mempersiapkan-komunitas-pengelola-hutan-dalam-redd/" target="_self"><span>Read more&hellip;</span> 1,901 more words</a></p></div></div><div class="reblogger-note"><div class='reblogger-note-content'>
An example of thought to prepare community on REDD
</div></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://bugisumirat.wordpress.com/2012/04/16/650/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/158fcb6ea0cb4498796b66503c2cd803?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">bsumirat</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
