Budaya preman atau preman budaya


Bukan untuk diadu

Budaya adalah buah dari perpaduan yang serasi dan sepadan antara budi dan daya yang menjelma dengan anggun menjadi budaya dan budaya ini akan bermetamorfosa menghasilkan bentuk dari kegiatan-kegiatan budaya yang disebut dengan kebudayaan.

Secara rinci disebutkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) sebagai berikut:

Budi, memiliki pengertian sebagai alat batin yg merupakan paduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruk, dapat pula diartikan sebagai tabiat; akhlak, juga dapat dikategorikan sebagai perbuatan baik. Arti lain dari budi – masih dari KBBI, dikatakan sebagai daya upaya; ikhtiar, juga budi dapat diartikan sebagai akal – dalam arti kecerdikan menipu atau tipu daya.

Sementara Daya,  dapat diartikan sebagai kemampuan melakukan sesuatu atau kemampuan bertindak, sebuah kekuatan; tenaga (yang menyebabkan sesuatu bergerak dan sebagainya), akal; ikhtiar; upaya, maupun sebagai suatu muslihat.

Dan Kebudayaan merupakan hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal budi) manusia spt kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat, yang dalam pengertian antropologi diartikan sebagai  keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.

Tapi bukan masalah kebudayaan yang akan saya lanjutkan dalam tulisan saya di bawah ini, tetapi pengalaman seorang kolega yang terkait dengan pengertian budaya pada sebagian orang.

Begini ceritanya.

Kolega saya itu berselisih pendapat dengan rekan sekerjanya. Ia pikir, wajarlah jika berselisih pendapat di urusan pekerjaan. Tetapi rupanya si rekan kerjanya ini berpendapat lain. Entah apa yang ada di dalam pikiran si rekan kerja itu, didalam perdebatan selisih pendapat diantara mereka, si rekan kerja itu melontarkan kata-kata dengan emosional, seperti ini:

“Jadi anda mau diselesaikan secara budaya apa? Budaya Sulawesi Selatan (kebetulan si rekan kerjanya itu berasal dari Sulawesi Selatan), budaya Jawa (kolega saya kebetulan berasal dari Jawa) atau budaya apa?”

Mendengar itu saya langsung potong ceritanya,”bener orang itu ngomong begitu?”

“Iya, betul, Kang.”

Penasaran, saya ingin mendengar cerita selanjutnya dari kolega saya itu lagi. Ternyata, kolega saya itu cukup berpikiran arif dan waras. Ia, katanya tidak meladeni kelanjutan dari perdebatan itu dengan membawa persoalan ini dalam konteks ‘budaya’ sesuai pengertian rekan kerjanya itu, tetapi lebih memilih untuk meminta diselesaikan dihadapan big bossnya saja – sesuai dengan tata aturan kerja yang berlaku.

Good job!” tambahku.

Saya sependapat dengan kolega saya yang dengan gamblang kemudian mengutarakan pendapatnya untuk tidak merespon tantangan ‘budaya‘ tersebut serta tentang pemahaman mengenai budaya lainnya.

Pada dasarnya, budaya – dari daerah manapun, adalah bertujuan mengarah pada kebaikan, sesuai dengan definisi-definisi seperti tersebut di atas.

Akan terlihat aneh jika kemudian, budaya-budaya yang berlainan asal-muasal itu (tapi memilikik tujuan yang sama) dipertentangkan.

Apakah ketika (si rekan kerja itu) menyatakan ingin diselesaikan dengan budaya Sulawesi Selatan, maksudnya adalah menggunakan ‘cara keras’ – yang barangkali dalam pikirannya adalah Sulawesi Selatan identik dengan temperamen yang tegas dan keras?

Apakah ketika dinyatakan ingin diselesaikan dengan budaya Jawa, maksudnya adalah ‘cara lembut’ – karena tipikal orang Jawa yang (katanya) klemar-klemer, atau maksudnya adalah ‘cara keras’ ala Jawa?

Wallahualam.

Jika dilihat pakaian adat kedua budaya tersebut, masing-masing dilengkapi dengan senjata tajam. Pakaian adat Sulawesi Selatan dilengkapi dengan badik – senjata khasnya – yang diletakkan di bagian depan, sementara pakaian adat jawa dilengkapi dengan senjata khasnya yang disebut dengan keris – dan biasanya diletakkan di bagian belakang. Artinya potensi kekerasan dimungkinkan dengan kelengkapan senjata tajam pada pakaian-pakaian daerah tersebut. Tapi jangan lupa, filosifis terdapat senjata tajam dalam pakaian daerah dimaksud adalah sebagai kelengkapan upaya membela diri – bukan untuk menyerang tanpa dasar.

Dari persoalan di atas, apa yang disampaikan oleh rekan kerja kolega saya tersebut adalah bentuk dari pendeknya akal dan ketidak mengertian akan fungsi adi luhur budaya maupun kebudayaan – malah mengarah pada bentuk ‘premanisme’ – merasa budayanya lebih baik, budayanya lebih kuat. Untuk kasus di atas, lebih tepat kalau ada perselisihan pendapat/permasalahan di kantor, akan sangat wajar jika dikembalikan kepada tata aturan kantor yang berlaku – ‘budaya’ kantor yang berlaku dan bukan dibawa ke persoalan budaya – dengan pengertian yang keliru dan kepentingan yang keliru pula.

Melihat hal di atas, tidak heran jika masih banyak di Indonesia ini muncul kasus-kasus perselisihan, kekerasan dan silang sengketa yang mengatas namakan budaya – tetapi mengambil bentuk ‘premanisme’. Sebut saja kasus Lampung, Poso, Dayak (Kalimantan) – kasus antar suku, kasus antar etnis, walau setelah puluhan tahun Indonesia merdeka. Jika masih banyak orang berpikiran cupet seperti rekan kolega saya tersebut. Berkata dan bertindak seolah-olah mereka adalah representatif dari budayanya – padahal, sejatinya, mereka adalah perusak budaya, karena mengimplementasikan pengertian budaya secara salah.

Mudah-mudahan, in the future, akan semakin berkurang orang-orang seperti itu.

Keterangan gambar: Sumber gambar Badik: kedaiwarisan.blogspot.com; Sumber gambar keris: indotalisman.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s