(ber) Organisasi itu untuk apa atau untuk siapa?


organisationdevelopmentdotorg

Organisasi untuk siapa

(Sumber foto: organisationdevelopment.org)

Tulisan ini disusun ketika menunggu rapat rutin sebuah organisasi yang bersifat internasional yang saya ikuti.

Pada jadwal pertemuan kali ini, ada tiga agenda rapat yang dijadwalkan. Tentu akan sibuk sekali rapat kali ini – itu yang ada dalam benak saya.

Setelah lebih dari satu jam menunggu, ternyata hanya tiga orang yang hadir (hingga berakhir waktu rapat, tidak ada lagi anggota yang hadir). Sehingga akhirnya, sekitar dua jam kemudian, ketua memutuskan rapat dibatalkan – karena jumlah anggota hadir sangat kurang.

Dari yang tidak hadir, hanya sebagian kecil yang memberitahukan alasan ketidak hadiran mereka. Selebihnya, tidak ada kabar sama sekali.

Atau mungkinkah ketidak hadiran mereka karena organisasi itu tidak menggunakan sistem dan mekanisme yang telah disusun secara standar internasional itu?

Beberapa contoh:

-          Rapat rutin dilaksanakan seminggu sekali dengan hari dan waktu yang sama. Tetapi agenda rapat baru dikirimkan pada hari akan dilaksanakan rapat rutin tersebut (melalui sms). Biasanya sekitar 6-7 jam sebelum pertemuan diadakan, di hari yang sama! Padahal informasi mengenai agenda rapat, dapat diberikan beberapa hari sebelumnya. Juga ada sarana email – melalui milis, yang dapat digunakan untuk memberi informasi mengenai agenda rapat tersebut beberapa hari sebelumnya – dan ini tidak dilakukan.

-          Setiap selesai rapat, tidak ada notulen dibuat dan kemudian dibagikan kepada anggota, baik yang hadir maupun tidak hadir. Padahal statuta organisasi menghendaki setiap rapat rutin harus dibuatkan notulennya – bahkan kelak notulen ini dapat digunakan sebagai bahan pembuatan magazine/newsletter organisasi tersebut. Tanpa adanya notulen, yang tidak hadir tidak mengetahui bagaimana berlangsungnya rapat, apa kesepakatan yang dihasilkan serta langkah apa  yang telah menjadi kesepakatan pada saat rapat yang perlu dilakukan ke depannya.

-          Tidak ada program kerja yang dibuat oleh organisasi ini selama satu tahun berjalan, yang seharusnya program kerja ini dapat dibuat untuk dijadikan acuan kegiatan apa yang menjadi agenda organisasi tersebut, yang terinci dalam kegiatan setiap minggunya. Tanpa program kerja yang jelas, anggota tidak dapat disalahkan jika tidak hadir di rapat rutin dan menganggap tidak penting untuk hadir di rapat (terlepas dari anggota yang dengan alasan yang jelas tidak dapat hadir dalam rapat tersebut). Dengan adanya program kerja tersebut dapat dihindari pertemuan tanpa agenda yang jelas – ataupun agenda dadakan. Dengan disusunnya program kerja, dapat diharapkan agenda rapat rutin setiap minggunya dapat disusun dengan baik, sehingga dapat mengeliminir pertemuan rutin yang inefisien – bahkan dibatalkan.

-          Dan masih banyak contoh-contoh lainnya lagi yang belum dapat disampaikan dalam postingan kali ini.

Dalam hal ini, organisasi – apalagi bersifat internasional, seharusnya bisa menunjukkan  perbedaan dalam hal manajemen, sistem, dan lain-lain, yang lebih baik dibandingkan dengan organisasi yang tidak bersifat internasional.

Tapi perkiraan maupun yang saya alami menunjukkan hal yg tidak demikian.

Rupanya, organisasinya boleh bersifat internasional, tapi manajemen yang ditunjukkan tidak demikian.

Organisasinya boleh internasional, tapi sistem yang berjalan, mengatakan hal yg bertolak belakang.

Organisasinya boleh internasional, tapi  ‘mannernya’ jauh dari sifat internasional itu sendiri.

Organisasinya  boleh bersifat internasional, tapi ……

- Program kerja tidak punya …

- Pengurus serta fungsi-fungsi pengurus tidak berjalan sesuai dengan fungsinya…..

- Banyak anggota, lama maupun baru yang ‘buta’ tata cara/aturan organisasi, sehingga terjadi kekikukan organisasi, organisasi dijalankan berdasarkan kebiasaan, bukan aturan……

Sebenarnya, organisasi internasional ini, ditilik dari bylawnya, bertujuan baik. Dari sisi organisasi, disamping melaksanakan kegiatan-kegiatan sosial tentunya, organisasi ini bertujuan dapat meningkatkan kemampuan organisasi anggota-anggotanya. Sehingga akan terlihat perbedaan, sebelum menjadi anggota dan setelah menjadi anggota. Yang tadinya rendah kemampuan berorganisasinya, setelah bergabung, akan meningkat kemampuan organisasinya, sekaligus pemahaman, wawasan, dan seterusnya.

Maka, jika melihat hal-hal yang saya sampaikan di atas, pertanyaannya adalah bisakah hal tersebut tercapai? Dan untuk apa serta untuk siapa kita bergabung dalam suatu organisasi? Apakah sekedar ikut-ikutan pula?

Harapan apa yang mereka inginkan dengan bergabung dalam suatu  organisasi – apalagi ada embel-embel internasionalnya itu (diluar dari kegiatan-kegiatan sosial yang dilakukannya). Apakah hanya karena alasan prestise – karena telah bergabung dengan organisasi internasional, sehingga sarana pertemuan cukup menjadi sekedar kongkow-kongkow, atau datang duduk-duduk sambil menikmati hidangan kopi dan penganan kecil? Sehingga mengikuti aturan-aturan organisasipun tidak menjadi penting pula?

Pertanyaan itu berlaku juga bagi organisasi-organisasi lain yang diikuti, dengan atau tanpa embel-embel internasional.

Sejatinya, memang menjadi mutlak kita bertanya, kita berorganisasi itu untuk tujuan apa dan untuk siapa. Hanya diri kita yang bisa menjawabnya secara jujur.

Ataukah, memang kita tidak mengetahui apa manfaat sesungguhnya kita bergabung kedalam suatu organisasi. Kalau ini yang terjadi, sayang sekali.

Semoga bermanfaat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s